Rabu, 20 Januari 2016

:: TERUNG KITAB ::


Tak banyak yang bisa kugambarkan tentang keadaan hari ini. Kecuali tentang kekecewaanku karena batal mendaki gunung Manado Tua gara-gara angin masih bertiup kencang di lautan sana. Padahal persiapanku dan teman-teman sudah matang.  Dua tenda telah dibeli. Cukup untuk dua puluhan orang.
Beberapa menit lalu seorang kawan lama menelponku. Waktu dia menelponku aku tengah asyik memanfaatkan media sosial untuk kerja-kerja budaya. Istilah itu dirasaku paling tepat untuk menggambarkan upayaku selama 5 tahun terakhir. Itu aku lakukan semenjak pertemuan-pertemuan diskusi yang secara rutin kami gelar. Mandiku pun terburu-buru lantaran di akhir percakapan kami tadi penelpon itu bilang dia sudah dekat dengan lokasi tempat kami akan bertemu.
Lima belas menit kemudian aku tiba di sebuah toko buku. Terung Kitab namanya. Artinya gubuk buku. Toko buku unik yang didirikan oleh komunitas anak-anak muda yang ingin sekali menyediakan sumber-sumber belajar alternatif bagi masyarakat Minahasa. Kata mereka itu sebagai upaya melawan arus deras suguhan bahan bacaan dari luar yang cenderung menenggelamkan kebudayaan lokal. Di toko itu hanya tersedia buku tentang Minahasa. Baik buku tempo dulu maupun buku hasil karya anggota komunitas. Toko itu juga adalah warung kopi. Disitu terdapat panggung yang diuntukkan bagi setiap anggota atau pengunjung yang berminat membaca puisi, menyanyi atau mementaskan drama pendek. Lokasi yang dekat tepi jalan dan pantai serta di bawah pohon-pohon nyiur  membuat kami terlampau kerasan berada disitu. Sehingga paling sedikit dua hari sekali aku bertandang ke sana. 
“So lama batunggu kang?” kataku pada teman lama itu.
“Ya bole jo. Mar nda apa-apa kwa. Di sini tampa bagus. Biar lei ngana mo lebe lama kita nda mo pastiu.”
“Hahaha. Kita kira lei cuma kita yang barasa bagitu.”
“Kyapa ngana so tasuar-suar dang?”
“Bagimana nda mo tasuar? Bajalang di bawa langit panas kras noh.”
Setelah kami memilih tempat untuk duduk. Terdengar seorang meraih mikrofon dan mulai melantunkan lagu. Syair yang lembut menghanyutkan. Petikan gitar dan iringan seruling membuat terbang. Percakapan kami pun berhenti barang beberapa menit.
“Kita korang mo datang-datang trus di sini noh,” kata temanku dengan mata berbinar.
“Bagus noh. Spaya lei ngana mo dapa pencerahan. Ngoni kan katu’ so bos. Perlu ja datang-datang kamari spaya ini torang pe perjungan nda mo mampos.”
Dia tampak kurang senang dengan pernyataanku. Tapi berusaha menahan sabar sekuat-kuatnya.
“Kong ngana da bawa jo tu buku? Kita suka skali mo blajar banya tentang Minahasa kwa,” kata temanku dengan penuh semangat.
“Kita lei heran waktu dapa telpon deri ngana tuhari kong minta suru fotokopi buku tentang Minahasa. Kita tau ngana kan nda suka tu babagitu. Masi dapa inga brapa taun lalu ngoni ja bakubage deng torang di diskusi media sosial. Ngoni ja kase ancor torang pe nama. Ngoni tudu torang sesat. Kuno. Ketinggalan jaman. Menyemba batu. Menyemba setang,” pernyataan itu meluncur sambil  tanganku memisahkan pisang goreng dan dicocol ke dabu-dabu.
“Ah ngana lei. Itu kan dulu. Skarang torang so sadar. Nda ada di duni ini yang nda ja taroba. Mar, bole toh torang gabung?”
“Sapa mo tolak? Kecuali ngoni so nyanda ontak!”
“Alo, kita nda sangka tu ngoni pe perjuangan mo berhasil bagini. Dulu torang katu’ pikir ngoni itu so tasala bapikir. So butul kote ngoni.”
Percakapan kami berlanjut hingga matahari tertutup oleh samudra. Nyaris semua pernyataanku sinis dan memancing perdebatan. Temanku tak mau membantah. Dia malah mengiyakannya. Sampai-sampai aku dibuat kesal. Aku terheran-heran.
“Alo, kalu kita ada depe guna for ngoni pe gerakan ini, bapangge ne. Ngoni perlu apa jo datang pa kita. Napa kita pe kartu nama. Kita nda ada maksud apa-apa. Kita cuma suka bantu. Rekeng-rekeng, itu kwa mo tubus torang pe kesalahan dulu pa ngoni.”
Meskipun kami berpisah sambil berjanji untuk bertemu lagi, tapi kesal itu tak pupus juga. Aku masih curiga. Jangan-jangan pujian dan semua pengakuan dari mulutnya hanyalah bentuk lain dari ejek-ejekan dia. Siapa tahu, ketika dia menghilang dengan mobil mewahnya di ujung belokkan di depan sana, dia terbahak-bahak lantaran senang telah mempermainkanku.



Minahasa, 10 Maret 2015




Tidak ada komentar:

Posting Komentar