Tak banyak yang
bisa kugambarkan tentang keadaan hari ini. Kecuali tentang kekecewaanku karena
batal mendaki gunung Manado Tua gara-gara angin masih bertiup kencang di lautan
sana. Padahal persiapanku dan teman-teman sudah matang. Dua tenda telah dibeli. Cukup untuk dua
puluhan orang.
Beberapa menit
lalu seorang kawan lama menelponku. Waktu dia menelponku aku tengah asyik
memanfaatkan media sosial untuk kerja-kerja budaya. Istilah itu dirasaku paling
tepat untuk menggambarkan upayaku selama 5 tahun terakhir. Itu aku lakukan
semenjak pertemuan-pertemuan diskusi yang secara rutin kami gelar. Mandiku pun
terburu-buru lantaran di akhir percakapan kami tadi penelpon itu bilang dia
sudah dekat dengan lokasi tempat kami akan bertemu.
Lima belas menit
kemudian aku tiba di sebuah toko buku. Terung Kitab namanya. Artinya gubuk
buku. Toko buku unik yang didirikan oleh komunitas anak-anak muda yang ingin
sekali menyediakan sumber-sumber belajar alternatif bagi masyarakat Minahasa.
Kata mereka itu sebagai upaya melawan arus deras suguhan bahan bacaan dari luar
yang cenderung menenggelamkan kebudayaan lokal. Di toko itu hanya tersedia buku
tentang Minahasa. Baik buku tempo dulu maupun buku hasil karya anggota komunitas.
Toko itu juga adalah warung kopi. Disitu terdapat panggung yang diuntukkan bagi
setiap anggota atau pengunjung yang berminat membaca puisi, menyanyi atau
mementaskan drama pendek. Lokasi yang dekat tepi jalan dan pantai serta di
bawah pohon-pohon nyiur membuat kami
terlampau kerasan berada disitu. Sehingga paling sedikit dua hari sekali aku
bertandang ke sana.
“So lama batunggu
kang?” kataku pada teman lama itu.
“Ya bole jo. Mar
nda apa-apa kwa. Di sini tampa bagus. Biar lei ngana mo lebe lama kita nda mo pastiu.”
“Hahaha. Kita kira
lei cuma kita yang barasa bagitu.”
“Kyapa ngana so
tasuar-suar dang?”
“Bagimana nda mo
tasuar? Bajalang di bawa langit panas kras noh.”
Setelah kami
memilih tempat untuk duduk. Terdengar seorang meraih mikrofon dan mulai
melantunkan lagu. Syair yang lembut menghanyutkan. Petikan gitar dan iringan
seruling membuat terbang. Percakapan kami pun berhenti barang beberapa menit.
“Kita korang mo
datang-datang trus di sini noh,” kata temanku dengan mata berbinar.
“Bagus noh. Spaya
lei ngana mo dapa pencerahan. Ngoni kan katu’ so bos. Perlu ja datang-datang
kamari spaya ini torang pe perjungan nda mo mampos.”
Dia tampak kurang
senang dengan pernyataanku. Tapi berusaha menahan sabar sekuat-kuatnya.
“Kong ngana da
bawa jo tu buku? Kita suka skali mo blajar banya tentang Minahasa kwa,” kata
temanku dengan penuh semangat.
“Kita lei heran
waktu dapa telpon deri ngana tuhari kong minta suru fotokopi buku tentang
Minahasa. Kita tau ngana kan nda suka tu babagitu. Masi dapa inga brapa taun
lalu ngoni ja bakubage deng torang di diskusi media sosial. Ngoni ja kase ancor
torang pe nama. Ngoni tudu torang sesat. Kuno. Ketinggalan jaman. Menyemba
batu. Menyemba setang,” pernyataan itu meluncur sambil tanganku memisahkan pisang goreng dan dicocol
ke dabu-dabu.
“Ah ngana lei. Itu
kan dulu. Skarang torang so sadar. Nda ada di duni ini yang nda ja taroba. Mar,
bole toh torang gabung?”
“Sapa mo tolak?
Kecuali ngoni so nyanda ontak!”
“Alo, kita nda
sangka tu ngoni pe perjuangan mo berhasil bagini. Dulu torang katu’ pikir ngoni
itu so tasala bapikir. So butul kote ngoni.”
Percakapan kami
berlanjut hingga matahari tertutup oleh samudra. Nyaris semua pernyataanku sinis
dan memancing perdebatan. Temanku tak mau membantah. Dia malah mengiyakannya.
Sampai-sampai aku dibuat kesal. Aku terheran-heran.
“Alo, kalu kita
ada depe guna for ngoni pe gerakan ini, bapangge ne. Ngoni perlu apa jo datang
pa kita. Napa kita pe kartu nama. Kita nda ada maksud apa-apa. Kita cuma suka
bantu. Rekeng-rekeng, itu kwa mo tubus torang pe kesalahan dulu pa ngoni.”
Meskipun kami
berpisah sambil berjanji untuk bertemu lagi, tapi kesal itu tak pupus juga. Aku
masih curiga. Jangan-jangan pujian dan semua pengakuan dari mulutnya hanyalah
bentuk lain dari ejek-ejekan dia. Siapa tahu, ketika dia menghilang dengan
mobil mewahnya di ujung belokkan di depan sana, dia terbahak-bahak lantaran
senang telah mempermainkanku.
Minahasa, 10 Maret 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar