“Mereka tidak
percaya dengan cerita-cerita kepahlawan tou Minahasa yang dipenuhi dengan
mistik. Mereka menganggap itu sebagai kebohongan besar. Akan tetapi, begitu
kami memberi bukti, mempertontonkan kesaktian warisan leluhur, mereka bilang
sesat dan kekuatan dari setan. Teringat olehku sebuah cerita dalam Injil ketika
Yesus banyak melakukan mujizat. Para pemuka dan tokoh Israel menuduh Yesus
telah kerasukan Setan. Dia dianggap menggunakan kuasa penghulu setan,
beelsebul,” kata Matanei suatu malam ketika kami baru saja selesai dengan
pekerjaan-pekerjaan Ma’kopra.
Punggungku
kubaringkan di gundukkan gonofu yang masih basah. Seharian kami mengupas kulit
kelapa. Noda-noda kulitnya menempel tebal di tanganku.
Matanei masih
berdiri dengan sebuah kelapa di tangannya. Di depannya terdapat sebuah tiang
lewang yang tajam. Yang bila tak hati-hati akan menusuk jantungnya bila
terpeleset karena tidak hati-hati.
Matanei adalah
orang tekun dan telaten dalam pekerjaan-pekerjaan demikian. Kadang-kadang juga
dia menjadi tukang gula aren. Terpaksa tahun ini dia melakoni pekerjaan sebagai
ma’kopra karena tak ada lagi yang mau mengerjakannya. Banyak pria lebih memilih
menjadi pekerja di luar wanua lantaran harga kopra telah jatuh.
Buah-buah kelapa
yang kami kuliti sebagian besar telah bertumbuh dan berkecamba. Dagingnya telah
menipis dan ringan. Otomatis hasilnya tidak pulangongkos dengan tenaga dan
waktu yang dikeluarkan. Tapi bagi Matanei meski harga kopra telah menukik ke
tanah, kelapa harus diolah. Dia meyakini bahwa harga kopra yang rendah
mengajarkan kami tentang penghematan memakai uang. Sebaliknya harga kopra yang
tinggi justru mengajarkan orang untuk menjadi tukang boros dan dengan entengnya
menghambur-hamburkan uang demi hal atau barang yang tidak perlu.
“Alo, kase cirita
kamari pa kita tentang ngana pe Apo-apo. Tu cirita itu mo beking kita lebe
tamba smangat bakerja. So banya yang kita dengar mar, sapa tau ada tu blum kita
tau,” kata Matanei sembari mendorong dan menarik kulit buah kelapa yang telah
tertancap pada lewang.
Matahari memang
sudah agak tegak berdiri. Rasa lapar belum datang. Barangkali ubi rebus santan
dan winongos yang kami konsumsi tadi
pagi cukup memberi kami energi untuk bertahan hingga sore nanti. Tambah lagi,
tombong juga tak luput dari mulut kami berdua. Buah di dalam buah itu berbentuk
roti dengan daging yang manis turut menyumbang kekuatan.
“Alo, angko so
perna dengar tu cirita Apo Tius deng tete Limpele?” kataku dengan penuh
semangat.
“Yang kita dengar
tu tete Limpele da dapa pegangan dari Tete Tius Sual no. Mar, kita nyanda tau
tu cirita-cirita laeng.” Begitu tahu Matanei belum pernah mendengar cerita itu
aku langsung bersemangat untuk bertutur.
“Dulu kata perna
tete Limpele dapa berita dari Motoling kalu dia musti sampe di
sana pagi-pagi. No, waktu itu kan
jalang kasana blum bagus. Kong masi banya tu yaki-yaki ja badola. Pokoknya
nyanda aman kalu mo bagelap mo kasana. Tete Limpele tau biar alasan apa tu mo
kase tetap depe atasan nyanda mo trima itu. Ya karena dia so abis akal, ya dia
pigi pa tete Tius Sual kong minta tulung. Setelah tete so bilang tu perlu tete
Tius Sual bagini kamari, ‘Sa ko an tempokem in do’ong, icili’im mange. Kalu so
di ujung kampung, kasetidor jo tu mata. Se tutu jo kata tu mata.’ Pagi-pagi
kata tete Limpele so basiap kong langsung bajalang. Pe sampe di ujung kampung
dia kasu tutu kasana tu mata. Dia pe buka kamari tu mata dia so dudu di dalam
ruangan rapat di Motoling.”
Mendengar ceritaku
Matanei tertawa terkagum-kagum. Mata-matanya bercahaya. Mirip anak-anak yang
baru saja mendengar dongeng sebelum tidur. Demi memuaskannya kuulang-ulang lagi
cerita itu, dengan uraian kata-kata lain. reaksinya setelah selesai kupaparkan
cerita itu tetap sama. Dia tertawa-tawa penuh kebanggaan kepada kehebatan
pengetahuan yang dilakonkan oleh tete Limpele. Minggu lalu juga kuceritakan
tentang seorang mamuis yang tertangkap oleh Apo Hero Timporok. Mamuis itu
kepergok oleh seorang nenek di kebun Aser ketika sedang memanjat pohon pepaya.
Mamuis itu kelaparan ketika berusaha masuk ke kampung kami untuk mencari
mangsa. Karena sedang getol-getolnya pemerintah membangun, jadi para mamuis
berkeliaran mencari kepala manusia untuk dijadikan tumbal pendirian jembatan.
Si nenek yang memergok si mamuis berlari ketakutan ke kampung sambil berteriak.
Para tetua kampung pun turun tangan. Apo Tertius dan Apo Hero memimpin
pencarian mamuis. Kedua Apo mengendus lokasi terakhir mamuis. Namun begitu tiba
di lokasi dia tak terlihat. ‘Si Hero ke’ mengat sia. Hero saja yang akan
mencarinya’. Akhirnya si mamuis ditangkap. Dia diberi makan dan diperingatkan
untuk tidak mengikuti niatnya mencari kepala manusia di kampung kami. Dia pun
dilepas hidup-hidup. Padahal biasanya mamuis yang tertangkap tak pernah akan
dibiar berkeliaran.
“Ada lei?
“Ada! Pernah
dorang Apo Tius Sual bajalang kaki ka Tondano. Dorang pigi bakudapa dengang nene.
Tu nene itu apo-apo ja maso akang. Ada satu orang yang kurang percaya tu
babagitu da iko sama-sama. Waktu dorang so di dalam ruma. Tu acara langsung
mulai. Kong heran. Tu acara sama skali deng ibada Kristen. Ada depe doa awal
deng ahir. Kong ja manyanyi tu taling-taling, lagu-lagu Kristen jaman dulu. Ada
kata tu ja bicara nyanda ja dapalia. Tu orang yang kurang percaya itu tarutaru
kira. Ternyata bukang nene tu ja bicara. Karna lengkali ja tasamasama. Depe
heran deng tu suara yang depe orang nyanda ja dapalia itu lancar skali manyanyi
taling. Kong dorang-dorang ja babajawab no kalu tu apo-apo yang nda ja dapalia
itu ja bicara deng kase hormat. Lengkali ja batanya, ‘Ro’na aku temowaku’?Bila
kita mo baroko? Ro’na aku temenga’? bole kita mo makang pinang?’ Kong datang
deng pulang ja hormat dan minta permisi. Lengkali tu nene yang jadi perantara
ja dapa mara deri tu apo-apo lantaran masi kata ja bicara so susung bicara. Tu
orang yang nyanda percaya itu penasaran. Akhirnya dia coba batanya tentang
keadaan dorang pe keluarga di Jakarta. Nyanda lama kong tu Apo bilang, ‘Tu ngoni pe keluarga di Jakarta
bae-bae samua. Cuma, dorang pe anak satu so meninggal.’ Serta depe minggu di
muka memang dorang dapa brita klu dorang pe sudara di Jakarta da mati akang
anak. Abis itu, torang pe rombongan pulang ka Tondei. Di jalan di Tomohon ada
orang yang mo coba-coba pa tete Tertius. Dia rencana jaha. Dapalia kasana tu
orang itu korang main-main abu di tana. Korang sama deng adeade. Kong dorang
kata tanya pa tete Tius kyapa bagitu. Tete cuma bilang, jangan tegor nanti tete
Tius yang tegor.”
Kesunyian di kebun
terpecah lagi begitu cerita aku sudahi. Matanei begitu terhibur. Tak berapa
lama kemudian dia pun berhenti. Pekerjaan selesai. Aku tercengang ketika
menyadari bahwa ratusan buah kelapa telah dikuliti bersamaan dengan penuturan
cerita demi cerita yang aku uraikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar