Sesampai di terminal Karombasan, cepat-cepat
aku naik ke bus dan mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela. Karena
matahari sangat terik kubuka sedikit jendela agar udara segar bisa masuk.
Walaupun sebenarnya udara segar itu sudah sedikit tercemar oleh bau pesing dan
sisa makanan yang dibuang secara sembarang di selokan. Beberapa anak dan lelaki
dewasa bergantian menempel di kaca jendela untuk memamerkan jualannya.
Diselingi rayuan-rayuan kecil nan lucu yang sudah usang. Mereka menjual buah
kadondong yang telah dicelup dalam gula selama semalam. Aku paling tidak suka
membeli yang manis-manis di kala matahari penuh dendam membakar. Tak banyak
pemandangan indah bisa dinikmati di terminal ini. Bus yang telah berdempetan
seperti ikang roa menghalangi pandangan mata yang mencari-cari sesuatu
yang bisa menyebabkan kita panjang umur.
Karena panas kian tak tertahan kucabut koran
yang aku tohokkan di saku samping tas punggungku. Kubalik-balikkan koran
mencari berita yang mampu mengusir kegerahan dalam bus bak oven pemanggang.
Kalau waktu dalam oven ini diperpanjang lagi pasti semua penumpang akan tafufu
seperti ikan cakalang. Koran yang sedang kubaca sesekali kualihfungsikan
sebagai kipas. Kondektur masih terus meneriakkan nama kampung asal Om Sam
Ratulangi. Tondano menjadi begitu murah di terminal Karombasan karena
diteriakkan berkali-kali menyaingi sebungkus kacang dari mulut para tunanetra.
“Tondano…Tondano…Tondano,” kata kondektur.
Semua
penumpang makin gelisah. Semua kami menjadi cacing kepanasan yang
meliuk-liuk dalam panggangan. Kesabaran. Yang dibutuhkan dalam keadaan seperti
itu hanyalah kesabaran. Sebab tak mungkinlah kami turun mencari angin terlebih
dahulu. Orang lain akan sangat senang mengganti posisi kami.
“Tondano…Tondano! Satu lei”
Tak sengaja mataku tertuju ke depan. Seorang
gadis bertubuh tinggi dengan rambut terurai berdiri di pintu bus memindai
setiap kursi. Akupun ikut memindai. Beberapa kursi masih kosong. Di sebelahku
juga masih kosong. Mata kami bertemu selama tiga detik. Gadis itu bukan main
cantiknya. Dia adalah representasi gadis Minahasa yang sempurna secara fisik.
Karena tak ingin harga diri jatuh, aku
menunduk berpura-pura melanjutkan membaca. Potret gadis itu tersimpan dalam
benak. Dia berkaos merah dan celana jins panjang hitam. Wajahnya mirip Dian
Sastro. Aduhai! Bilamanakah seorang lelaki kampungan seperti saya bisa mendapat
seorang gadis seperti Dian Sastro.Mimpi kali ye!
Tak beberapa lama kemudian seseorang telah
duduk di sampingku. Tak berniat aku menoleh sedikitpun ke samping. Sungguh tak
sopan bila harus bertemu muka dengan jarak yang teramat dekat. Aku bergeser
sedikit ke jendela. Leher yang mulai keram perlu sedikit rileks. Jadi,
kusandarkan sejenak kepalaku di kaca jendela. Seketika itu sang sopir
menghidupkan mesin. Badan buspun sedikit gemetar sehingga kepalaku terbentur
kecil-kecil di kaca jendela. Lama-lama rasa kantuk mulai datang. Orang yang
duduk di sebelahku rupanya juga mengalami gejalah yang sama. Kepala orang yang
duduk di sebelahku bergerak maju mundur seperti tak terkontrol. Rupanya
kantuknya lebih parah dariku. Saat kesadaranku sedikit menghilang, terasa ada
yang menepuk-nepuk bahu. Awalnya kuanggap tepukan itu dilakukan secara
kebetulan. Biasanya orang yang memuat barang di bagasi atas kepala secara tak
sengaja menyangkutkan barang pada penumpang terdekat. Lama-lama tepukkan itu
makin keras dan mulai agak kasar. Dengan sedikit kesal aku menoleh ke arah yang
mengusik itu. Ya ampun! Dian Sastro rupanya yang menepuk-nepukku. Aku tersentak
senang. Ternyata Dian Sastro mau juga menyentuh seorang lelaki kampungan ini.
“Cowo, bole pinjam bahu?” tiba-tiba Dian
Sastro bicara.
Aku kaget setengah mati. Apa aku mimpi di
siang bolong? Mana mungkin Dian Sastro mau meminjam bahuku. Jangankan
meminjamkan, memberikan untuk selamanya pun aku rela.
Kutarik nafas dalam diam-diam. Kupandangi
Dian Sastro dengan sedikit pongah dan kuanggukkan kepada sebagai tanda memberi
izin agar bebas menaruh bahunya di pundakku. Jantungku yang berdebar
kutakhlukan agar tak liar. Badanku yang mulai gemetar segera kukuasai. Dian
Sastro akhirnya mendaratkan pipi kanannya ke pundakku.
Orang yang duduk di kursi belakang dan depan
serta samping pasti takkan percaya bahwa dia bukan kekasihku. Kemesraan ini
jangan cepat berlalu. Aku berharap bus meluncur dengan kecepatan kurang dari 40
km per jam. Aku juga berharap bus ini mogok di area penginapan Makatembo
Tinoor. Pasti suasana di situ akan menambah keromantisan Dian Sastro dan aku.
Tapi rupanya sopir cemburu dengan kemesraan
ini. Lari bus tak terkendali. Hampir mencapai 80 km per jam. Jalan yang penuh
dengan kelok tak dipedulikannya. Berkali-kali Dian Sastro terhuyung-huyung
membentur punggung kursi depan. Dalam setengah tidur Dian Sastro merapat lebih
dekat. Dipeluk erat lenganku. Dalam diam
aku salah tingkah.
Dalam diam aku bertanya-tanya, “Kenapa gadis
ini berani meminjam bahu seseorang yang tak dikenalnya?” Mungkin hal ini adalah
sudah biasa bagi dia. Gadis ini mungkin kecapean karena semalam bekerja sebagai
seorang penari telanjang di suatu tempat hiburan malam di pusat kota.
Barangkali goyangan-goyangan aduhainya begitu menguras tenaga si keke. Atau,
mungkin semalam dia melayani beberapa pelanggan yang tak punya hati, tak
memberinya jedah. Dipakai kala ganti oleh pelanggan yang umumnya orang-orang
penting yang lelah berdebat sepanjang hari untuk memperebutkan proyek atau
jumlah anggaran untuk studi banding mereka ke Bali atau Singapura. Gadis belia
ini mungkin hendak melepas penat di kampungnya dekat danau Tondano.
Bus kini sudah memasuki kota Tomohon.
Sejurus kemudian muncul perasaan tak sedap. Ya Tuhan! Sungguh tak tahu diri.
Kenapa aku asyik saja dengan seorang gadis hingga lupa sama sekali ada seorang
gadis lain yang dengan setia menungguku di kamar kos. Celaka. Aku bisa celaka!
Kupindai lagi kursi-kursi yang telah
berpenumpang. Mencuri-mencuri pandang kalau-kalau ada yang kenal aku. Gawat.
Bisa kualat! Sofli pasti takkan senang tahu aku bermesraan dengan seorang gadis
di dalam bus. Tempat umum.
Perasaanku kini campur aduk.
Sentuhan-sentuhan Dian Sastro kian mengancamku. Tentu Sofli takkan sudi
mendengar lagi penjelasan bila aku tertangkap basah olehnya atau oleh kawan
terpercayannya. Makin bus mendekati Tondano jantungku kian melompat tak karuan.
Dinding dada serasa mau jebol. Dian Sastro tiba-tiba bangun. Diperbaiki
wajahnya. Dia memandangiku. Mungkin ingin tahu betul rupa seorang malaikat yang
meminjamkannya sebuah bahu. Aku balas tersenyum, “puas kau tidur Kek,” kataku
dalam diam.
Dian Sastro merogoh saku jinsnya. Terdengar
suara gemerisik.
“Suka gula-gula?” gadis ini memiliki senyum
yang indah. Sungguh aku takkan menolak bila nanti dia memintaku meminjamkanya
bahu lagi.
Hingga kini aku tetap jaim. Tak sedikitpun
kunampakkan bahwa aku sangat terkesan dengan kelakuan beraninya. Dalam hati aku
bersyukur pada ilahi yang telah mengirim seorang gadis pengusir penat dalam
kebisingan raungan bus sepanjang perjalanan Manado-Tondano.
Ingin sekali aku meminta nomor ponselnya,
namun kulempar jauh-jauh keinginan itu. Tak mau aku keadaan yang tadinya indah
akan rusak oleh kecerobohanku yang kekanak-kanakkan.
“Muka om!”
Kuturun dari bus tanpa mengucap sepatah kata
pun pada gadis peminjam bahu. Dia juga enggan bicara. Sudah cukup dia menahan
malu karena telah lancang meminjam bahu seorang yang tak dia tahu sudah menikah
atau belum. Hanya nalurilah yang membuat dia yakin bahwa aku masih bujangan.
Dalam hal itu dia tak salah.
Ketika bus sudah menjauh aku tersenyum puas.
Dalam diam kuucapkan, “Selamat jalan Dian Sastro. Semoga kamu tiba dengan
selamat sampai tujuan. Biarlah hal itu menjadi rahasia kita berdua. Perhatian
singkat yang aku beri adalah tulus. Sesekali kunjungilah aku dalam mimpi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar