[Sebuah Cerpen]
Matahari
menggigit. Peluh-peluh berjatuhan. Angin yang bertiup tak banyak membantu.
Mobil mikro berjalan tersendat. Bau got begitu menyengat. Padahal masih pagi.
Kami sudah saling setuju bertemu di depan
toko buku “Mapatik”. Nama aneh yang hingga sekarang tak kutahu artinya. Yang
kutahu, toko itu disesaki buku-buku Minahasa. Mungkin kata itu juga berasal
dari bahasa Minahasa. Lantaran gugup menunggu aku nyaris lupa meletakkan tas
seberat 60 kilogram yang menggantung di punggungku. Nanti aku sadar ketika
kedua tiang badanku keram-keram. Sejurus
kemudian terlihat tiga orang berbadan tinggi dan berkulit terang dengan
pandangan liar. Dan ada pula satu yang berkulit gelap. Mata mereka menyisir
semua jurusan.
“Hi! Lizzy? I’m Iswan,” kata temanku pada
tiga orang itu. Aku seolah dianggap tak ada. Sampai-sampai aku lupa dikenalkan.
“O hey. I am Lizzy, this is Mark, Hypatia
and Miko. Nice to meet you, ” kata gadis berambut pirang yang dikepang satu.
Gadis itu terlihat agak kolot. Tapi jujur dia tetap manis dan elok dengan mata
biru dan hidung mancungnya.
Sampai sekitar sepuluh menit kemudian, aku
tetap diam membisu. Hanya mengandalkan gerakan-gerakan kepala saja ketika
bicara dengan mereka. Terdengar ada sedikit salah paham bahasa di antara
mereka. Mungkin soal rute perjalanan. Namun, akhirnya ada kesepakatan. Setelah
basa-basi selesai kami pun mulai
berjalan menapaki trotoar. Trotoar yang buruk. Lantainya diubin. Bila musim
hujan akan jadi licin dan bisa bikin orang jatuh. Yang baik dari trotoar adalah
atapnya yang dipenuhi tanaman rambat sehingga ciptakan sedikit kesejukan.
Begitu kami sampai di pertigaan Titiwungen kami menyeberang dan langsung dibawaoto mikro ke Karombasan. Lumayan lama kami di terminal itu. Dua
gadis Amerika yang ikut rombongan kami mencoba membunuh waktu dengan
jalan-jalan sebentar untuk mencari sesuatu yang bisa dikunyah dan ditegak di
jalankelak. Namun belum
jauh mereka keluar dari gerbang terminal aku sudah mengirimkan mereka pesan
singkat melalui ponsel supaya mereka bergegas kembali ke bus karena mesinnya
sudah dihidupkan oleh juru mudi.
Begitu mereka kembali, suasana di bus jadi ramai. Beberapa sopir dan kondektur berkumpul
dan membicarakan orang-orang Amerika yang ikut bersama kami. Mereka membuat
lelucon-lelucon. Dari yang wajar sampai ke lelucon yang kurang ajar. Herannya
orang-orang yang datang dari negeri Uncle
Sam itu juga tertawa. Terutama si Miko. Bodoh sekali orang-orang bule ini. Mereka ikut tertawa, padahal
merekalah yang sementara ditertawakan. Kataku dalam hati.
Tak lama kemudian kami dipersilahkan untuk
naik. Beberapa dari penumpang termasuk saya memang masih di luar bus menunggu keberangkatan. Namun
sebelumnya, tentu tas-tas bawaan sudah diletakkan di atas tempat duduk sebagai
metrai bahwa itu sudah jadi milik kami selama satu jam ke depan.Dari
Manado hingga Tomohon.
Aku memilih duduk di depan. Bersebelahan
dengan Mark. Dekat sopir. Mark satu-satunya orang Amerika yang berkulit hitam.
Sepertinya dia keturunan kesekian dari leluhurnya yang pernah dijadikan budak
oleh leluhur dari tiga teman kulit putihnya itu. Iswan lebih memilih duduk di
belakang. Dekat dengan bule-bule
kulit putih. Dekat pintu. Dia keasyikan dengan ketiga orang itu. Dia
memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memamerkan kefasihan bahasa Inggrisnya.
Atau mungkin karena dia telah tertawan oleh gadis bernama Lizzy itu.
Aku sedikit kikuk dengan Mark. Sejak pertemuan di depan toko
buku itu tak satu kata keluar dari mulutnya. Sepertinya dia tak sudi. Itu jelas terlihat dari gelagatnya.
Headset ponselnya menggantung di
telinganya sejak kami bertemu di depan toko buku tadi. Dia lebih suka dengar
musik daripada bicara dengan kami. Kuanggap itu sebagai tindakan tak tahu hadat.
“Kamu sudah menikah?” kata Mark padaku
memecah kebekuan sesudah lebih kurang sepuluh menit kami duduk berdampingan.
Saat itu kuperhatikan di hidungnya tergantung cicin yang lumayan besar. Itu
mengingatkanku akan gadis-gadis India dalam film-film yang dibintangi dan
disutradarai Amita Bacan.
“Belum,” jawabku singkat. Tapi tak lagi
berani menatap wajahnya. Apalagi matanya
yang ditutup sun glasses.
“Lalu apa arti cicin di jari manismu itu?”
“Ah ini tak ada artinya. Sering posisinya
kutukar. Suatu kali di kiri. Di kali yang lain di kanan. Ini cicin biasa,”
kataku dengan nada mengelak.
Percakapan kami berlanjut. Pertanyaan dan
jawaban keluar bergantian dari mulutku dan mulutnya. Semua
pertanyaan-pertanyaannya juga kulemparkan padanya. Dia sendiri kadang repot
menjawab. Sama dengan aku ternyata. Ada
kesimpulan-kesimpulan yang aku buat dibantahnya. Misalnya soal tekanan orang
sekitar ketika belum kawin di usia 30
tahun itu lebih berat dialami di Minahasa, apalagi di kampung, ketimbang dengan
di Amerika. Mark membantah itu. Dia bilang Minahasa punya kesamaaan dengan
Amerika. Hal lain yang dibantahnya adalah ketika aku bilang kalau bahasa Manado
berisi banyak sekali kosakata dari bahasa Eropa seperti bahasa Belanda,
Portugis, Spanyol dan Prancis. Dia menunjukkan reaksi yang tak baik terhadap
itu. Dia bilang dia kecewa dengan cerita-cerita yang diterangkan secara bangga
oleh kebanyakan orang Manado yang bertemu dengannya.
“Kalian rupanya bangga jadi putih. Bangga
dengan bahasanya orang putih. Bangga dengan darah dan gennya. Kalian tahu
tidak, mungkin saja darah orang-orang yang kulit putih itu adalah orang-orang asshole di jaman itu. Bisa saja nenek kalian diperkosa.Cerita-cerita kalian itu
memalukan. Mengagung-agungkan kulit putih itu sama dengan merendahkan bangsa
kalian sendiri!”
Mark berang. Jiwaku nyaris
tunggang-langgang. Demi mendinginkan keadaan kutempelkan wajahku di jendela
kaca bus. Sembari memandangi Lokon melalui celah-celah rumah yang dilewati.
Saat itu kami sudah di Kakaskasen. Bertepatan itu kami pula tengah lewati
patung Opo Worang yang mengangkat parang. Patungnya dicat putih.
“Nah itu kan! Kenapa patung itu berkulit
putih? Padahal orang sini kan tidak putih,” seru Mark lagi. Kata-katanya
sedikit menohok dan membuat perih pada hati. Kami orang Minahasa selalu bangga
diri sebab di antara bangsa-bangsa di Indonesia kami adalah bangsa dengan kulit
paling terang.
Aku tak lagi sanggup menanggap bila melihat
orang disamping ku mulai kalap. Untung saja terminal Tomohon sudah dekat.
Sedikit lagi aku bebas. Merdeka! Bebas dari hantaman pria Amerika berkulit
lebam.
Begitu kami sampai di terminal telah ada dua
orang menanti kami di situ. Akupun langsung turun dan bertukar kalimat dengan
dua orang itu. Dengan susah payah aku menurunkan tas carrier-ku. Setelah bosan berbincang kami mengucap kata perpisahan.
Kepadaku dioper satu kantong plastik besar yang berisi sayur dan ikan kaleng.
Iswan langsung menunjuk kemana arah kami berikutnya. Gua Susuripen. Konon,
tempat itu adalah tempat tinggal Opo Rumengan di jaman Minahasa kuno. Sayangnya
namanya tak dikekalkan menjadi nama gunung. Gunung Rumengan sudah diganti
namanya menjadi gunung Mahawu.
Kami memutuskan untuk menyusuri jalan
menanjak ke Susuripen dengan jalan kaki. Biasanya kami D.O. orang Amerika
bilang hitchiking. Ide itu terang
saja disambut baik keempat orang Amerika itu. Mereka gembira karena kamera
mereka bisa penuh terisi oleh pemandangan-pemandangan indah. Namun. itu adalah penderitaan besarku. Coba kalian jadi
aku. Kalian juga takkan gembira menjinjing kantong plastik penuh dengan sayur
dan ikan kaleng sambil berjalan kaki menanjak. Aku tak rela terlihat seperti
budak-budak belian yang membawa-bawa barang orang-orang Eropa. Ini seperti
sebuah pengulangan kisah penjajahan dulu.
Saat di tanjakan di daerah perkebunan
Rurukan, kami berhenti sejenak. Celana kami kotor tak lagi dipedulikan. Saat
itu aku punya kesempatan bicara dengan Miko. Pria yang dari tadi sedikit bicara.
Bahasa Inggrisku yang sepenggal-sepenggal dibalasnya dengan bahasa Manado yang
fasih. Aku kaget. Dan kagum.
“Belajar Bahasa Manado di mana?” tanyaku
sembari melihat Lizzy dan Hypatia yang saling membetulkan rambut masing-masing.
Wajah Hypatia yang merupakan perpaduan antara wajah Jepang milik ibunya dan
Amerika milik ayahnya menawarkan pemandangan yang sayang bila dilewatkan.
Terkadang mata kami saling bertemu. Cepat-cepat aku membuang muka jangan-jangan
itu menimbulkan ketidaknyamanan.
“Saya sudah enam bulan di Gorontalo. Jadi
saya sudah bisa bicara lancar. Hanya saya yang orang Amerika. Aku satu-satunya
dari grup yang ke sana. Jadi, tak ada pilihan selain harus belajar bicara. Bisa
gila saya bila tidak bicara,” tambah Miko tanpa aksen Amerika. Aku pun tertawa
geli.
Mulai dari situ aku memilih untuk bicara
banyak dengan Miko. Selain ramah, dia juga berwawasan lapang. Di dalam gua dan
ketika di tenda percakapan kami tetap hangat. Malam pun terlewat begitu
singkat. Sampai berpisah pun kami tetap begitu. Waktu mereka hendak naik bus
menuju Manado, kami berjanji untuk saling bertemu lagi. Saya harap begitu.
Namun, tampaknya itu adalah adalah pertemuan pertama dan terakhir. Sebab jadwal
mereka padat. Teman mereka di Manado juga banyak. Pasti mereka semua mengajak
bila ada acara yang dihelat. Dan sayang sungguh sayang, selama kami
bersama-sama dua hari ini kami lupa ambil gambar bersama. Tak ada satu potret
pun yang abadikan kebersamaan kami. Sayang sungguh disayang!
Bus berlari kian jauh. Aku berusaha mengejar
dengan iringan lambaian tangan. Begitu bus disembunyikan tikungan tajam aku
jadi teringat peristiwa di terminal Karombasan sehari sebelumnya. Di mana kami
terpingkal-pingkal hingga perut sakit ketika para kondektur dan
sopir membuat guyonan-guyonan yang mengejek keempat orang Amerika itu.
Tondano, 6 Juni 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar