Rabu, 20 Januari 2016

:: EMPAT ORANG AMERIKA ::

[Sebuah Cerpen]


Matahari menggigit. Peluh-peluh berjatuhan. Angin yang bertiup tak banyak membantu. Mobil mikro berjalan tersendat. Bau got begitu menyengat. Padahal masih pagi.
Kami sudah saling setuju bertemu di depan toko buku “Mapatik”. Nama aneh yang hingga sekarang tak kutahu artinya. Yang kutahu, toko itu disesaki buku-buku Minahasa. Mungkin kata itu juga berasal dari bahasa Minahasa. Lantaran gugup menunggu aku nyaris lupa meletakkan tas seberat 60 kilogram yang menggantung di punggungku. Nanti aku sadar ketika kedua tiang badanku keram-keram.  Sejurus kemudian terlihat tiga orang berbadan tinggi dan berkulit terang dengan pandangan liar. Dan ada pula satu yang berkulit gelap. Mata mereka menyisir semua jurusan.
“Hi! Lizzy? I’m Iswan,” kata temanku pada tiga orang itu. Aku seolah dianggap tak ada. Sampai-sampai aku lupa dikenalkan.
“O hey. I am Lizzy, this is Mark, Hypatia and Miko. Nice to meet you, ” kata gadis berambut pirang yang dikepang satu. Gadis itu terlihat agak kolot. Tapi jujur dia tetap manis dan elok dengan mata biru dan hidung mancungnya.
Sampai sekitar sepuluh menit kemudian, aku tetap diam membisu. Hanya mengandalkan gerakan-gerakan kepala saja ketika bicara dengan mereka. Terdengar ada sedikit salah paham bahasa di antara mereka. Mungkin soal rute perjalanan. Namun, akhirnya ada kesepakatan. Setelah basa-basi selesai  kami pun mulai berjalan menapaki trotoar. Trotoar yang buruk. Lantainya diubin. Bila musim hujan akan jadi licin dan bisa bikin orang jatuh. Yang baik dari trotoar adalah atapnya yang dipenuhi tanaman rambat sehingga ciptakan sedikit kesejukan. Begitu kami sampai di pertigaan Titiwungen kami menyeberang dan langsung dibawaoto mikro ke Karombasan. Lumayan lama kami di terminal itu. Dua gadis Amerika yang ikut rombongan kami mencoba membunuh waktu dengan jalan-jalan sebentar untuk mencari sesuatu yang bisa dikunyah dan ditegak di jalankelak. Namun belum jauh mereka keluar dari gerbang terminal aku sudah mengirimkan mereka pesan singkat melalui ponsel supaya mereka bergegas kembali ke bus karena mesinnya sudah dihidupkan oleh juru mudi. 
Begitu mereka kembali, suasana di bus jadi ramai. Beberapa sopir dan kondektur berkumpul dan membicarakan orang-orang Amerika yang ikut bersama kami. Mereka membuat lelucon-lelucon. Dari yang wajar sampai ke lelucon yang kurang ajar. Herannya orang-orang yang datang dari negeri Uncle Sam itu juga tertawa. Terutama si Miko. Bodoh sekali orang-orang bule ini. Mereka ikut tertawa, padahal merekalah yang sementara ditertawakan. Kataku dalam hati.
Tak lama kemudian kami dipersilahkan untuk naik. Beberapa dari penumpang termasuk saya memang masih di luar bus menunggu keberangkatan. Namun sebelumnya, tentu tas-tas bawaan sudah diletakkan di atas tempat duduk sebagai metrai bahwa itu sudah jadi milik kami selama satu jam ke depan.Dari Manado hingga Tomohon.
Aku memilih duduk di depan. Bersebelahan dengan Mark. Dekat sopir. Mark satu-satunya orang Amerika yang berkulit hitam. Sepertinya dia keturunan kesekian dari leluhurnya yang pernah dijadikan budak oleh leluhur dari tiga teman kulit putihnya itu. Iswan lebih memilih duduk di belakang. Dekat dengan bule-bule kulit putih. Dekat pintu. Dia keasyikan dengan ketiga orang itu. Dia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memamerkan kefasihan bahasa Inggrisnya. Atau mungkin karena dia telah tertawan oleh gadis bernama Lizzy itu.
Aku sedikit kikuk  dengan Mark. Sejak pertemuan di depan toko buku itu tak satu kata keluar dari mulutnya. Sepertinya dia  tak sudi. Itu jelas terlihat dari gelagatnya. Headset ponselnya menggantung di telinganya sejak kami bertemu di depan toko buku tadi. Dia lebih suka dengar musik daripada bicara dengan kami. Kuanggap itu sebagai tindakan tak tahu hadat.
“Kamu sudah menikah?” kata Mark padaku memecah kebekuan sesudah lebih kurang sepuluh menit kami duduk berdampingan. Saat itu kuperhatikan di hidungnya tergantung cicin yang lumayan besar. Itu mengingatkanku akan gadis-gadis India dalam film-film yang dibintangi dan disutradarai Amita Bacan.
“Belum,” jawabku singkat. Tapi tak lagi berani menatap wajahnya.  Apalagi matanya yang ditutup sun glasses.
“Lalu apa arti cicin di jari manismu itu?”
“Ah ini tak ada artinya. Sering posisinya kutukar. Suatu kali di kiri. Di kali yang lain di kanan. Ini cicin biasa,” kataku dengan nada mengelak.
Percakapan kami berlanjut. Pertanyaan dan jawaban keluar bergantian dari mulutku dan mulutnya. Semua pertanyaan-pertanyaannya juga kulemparkan padanya. Dia sendiri kadang repot menjawab. Sama dengan aku ternyata.  Ada kesimpulan-kesimpulan yang aku buat dibantahnya. Misalnya soal tekanan orang sekitar ketika belum kawin di usia  30 tahun itu lebih berat dialami di Minahasa, apalagi di kampung, ketimbang dengan di Amerika. Mark membantah itu. Dia bilang Minahasa punya kesamaaan dengan Amerika. Hal lain yang dibantahnya adalah ketika aku bilang kalau bahasa Manado berisi banyak sekali kosakata dari bahasa Eropa seperti bahasa Belanda, Portugis, Spanyol dan Prancis. Dia menunjukkan reaksi yang tak baik terhadap itu. Dia bilang dia kecewa dengan cerita-cerita yang diterangkan secara bangga oleh kebanyakan orang Manado yang bertemu dengannya.
“Kalian rupanya bangga jadi putih. Bangga dengan bahasanya orang putih. Bangga dengan darah dan gennya. Kalian tahu tidak, mungkin saja darah orang-orang yang kulit putih itu adalah orang-orang asshole di jaman itu. Bisa saja nenek kalian diperkosa.Cerita-cerita kalian itu memalukan. Mengagung-agungkan kulit putih itu sama dengan merendahkan bangsa kalian sendiri!”
Mark berang. Jiwaku nyaris tunggang-langgang. Demi mendinginkan keadaan kutempelkan wajahku di jendela kaca bus. Sembari memandangi Lokon melalui celah-celah rumah yang dilewati. Saat itu kami sudah di Kakaskasen. Bertepatan itu kami pula tengah lewati patung Opo Worang yang mengangkat parang. Patungnya dicat putih.
“Nah itu kan! Kenapa patung itu berkulit putih? Padahal orang sini kan tidak putih,” seru Mark lagi. Kata-katanya sedikit menohok dan membuat perih pada hati. Kami orang Minahasa selalu bangga diri sebab di antara bangsa-bangsa di Indonesia kami adalah bangsa dengan kulit paling terang.
Aku tak lagi sanggup menanggap bila melihat orang disamping ku mulai kalap. Untung saja terminal Tomohon sudah dekat. Sedikit lagi aku bebas. Merdeka! Bebas dari hantaman pria Amerika berkulit lebam.
Begitu kami sampai di terminal telah ada dua orang menanti kami di situ. Akupun langsung turun dan bertukar kalimat dengan dua orang itu. Dengan susah payah aku menurunkan tas carrier-ku. Setelah bosan berbincang kami mengucap kata perpisahan. Kepadaku dioper satu kantong plastik besar yang berisi sayur dan ikan kaleng. Iswan langsung menunjuk kemana arah kami berikutnya. Gua Susuripen. Konon, tempat itu adalah tempat tinggal Opo Rumengan di jaman Minahasa kuno. Sayangnya namanya tak dikekalkan menjadi nama gunung. Gunung Rumengan sudah diganti namanya menjadi gunung Mahawu.
Kami memutuskan untuk menyusuri jalan menanjak ke Susuripen dengan jalan kaki. Biasanya kami D.O. orang Amerika bilang hitchiking. Ide itu terang saja disambut baik keempat orang Amerika itu. Mereka gembira karena kamera mereka bisa penuh terisi oleh pemandangan-pemandangan indah. Namun. itu adalah penderitaan besarku. Coba kalian jadi aku. Kalian juga takkan gembira menjinjing kantong plastik penuh dengan sayur dan ikan kaleng sambil berjalan kaki menanjak. Aku tak rela terlihat seperti budak-budak belian yang membawa-bawa barang orang-orang Eropa. Ini seperti sebuah pengulangan kisah penjajahan dulu.
Saat di tanjakan di daerah perkebunan Rurukan, kami berhenti sejenak. Celana kami kotor tak lagi dipedulikan. Saat itu aku punya kesempatan bicara dengan Miko. Pria yang dari tadi sedikit bicara. Bahasa Inggrisku yang sepenggal-sepenggal dibalasnya dengan bahasa Manado yang fasih. Aku kaget. Dan kagum.
“Belajar Bahasa Manado di mana?” tanyaku sembari melihat Lizzy dan Hypatia yang saling membetulkan rambut masing-masing. Wajah Hypatia yang merupakan perpaduan antara wajah Jepang milik ibunya dan Amerika milik ayahnya menawarkan pemandangan yang sayang bila dilewatkan. Terkadang mata kami saling bertemu. Cepat-cepat aku membuang muka jangan-jangan itu menimbulkan ketidaknyamanan.
“Saya sudah enam bulan di Gorontalo. Jadi saya sudah bisa bicara lancar. Hanya saya yang orang Amerika. Aku satu-satunya dari grup yang ke sana. Jadi, tak ada pilihan selain harus belajar bicara. Bisa gila saya bila tidak bicara,” tambah Miko tanpa aksen Amerika. Aku pun tertawa geli.
Mulai dari situ aku memilih untuk bicara banyak dengan Miko. Selain ramah, dia juga berwawasan lapang. Di dalam gua dan ketika di tenda percakapan kami tetap hangat. Malam pun terlewat begitu singkat. Sampai berpisah pun kami tetap begitu. Waktu mereka hendak naik bus menuju Manado, kami berjanji untuk saling bertemu lagi. Saya harap begitu. Namun, tampaknya itu adalah adalah pertemuan pertama dan terakhir. Sebab jadwal mereka padat. Teman mereka di Manado juga banyak. Pasti mereka semua mengajak bila ada acara yang dihelat. Dan sayang sungguh sayang, selama kami bersama-sama dua hari ini kami lupa ambil gambar bersama. Tak ada satu potret pun yang abadikan kebersamaan kami. Sayang sungguh disayang!
Bus berlari kian jauh. Aku berusaha mengejar dengan iringan lambaian tangan. Begitu bus disembunyikan tikungan tajam aku jadi teringat peristiwa di terminal Karombasan sehari sebelumnya. Di mana kami terpingkal-pingkal  hingga perut sakit ketika para kondektur dan sopir membuat guyonan-guyonan yang mengejek keempat orang Amerika itu.

Tondano, 6 Juni 2015


* Karya Iswan Sual. Dikutip dari Buku Kumpulan Cerpen "Tumani" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar