Kami telah bersepakat untuk menikmati hari libur Idul
Fitri di tempat yang tak lumrah.
Biasanya kami pergi ke pantai. Mendengar suara gulungan ombak, dan melihat
riak-riak nan indah ketika air ditiup angin-angin kecil. Bahkan, tidak jarang
alasan kami pergi ke pantai adalah untuk untuk mencicipi rasa asin air yang
tergenang dalam kubangan yang begitu luas tersebut. Itu adalah kebiasaan
orang-orang kampung, yang biasa dicap udik, ketika turun gunung. Padahal orang
yang tinggal di pesisir pantaipun kelihatan lebih udik lagi ketika mereka pergi
ke desa kami yang ada lereng-lereng bukit demi melihat monyet-monyet yang punya
kemiripan dengan mereka.
Kami menikmati hari libur Idul Fitri bukan karena kami
pengikut Muhammad. Kami pengikut Yesus dari Nasaret. Kejenuhan kami pergi ke
pantai dikarenakan selama dua tahun ini pantai selalu menjadi tujuan wisata
kami. Akibatnya kami hampir lupa bahwa di sekitar kampung kami juga terdapat
situs indah. Namanya Tetewatu1.
Perjalanan ke situs itu cukup jauh dengan medan yang
sangat menantang. Tapi, tak satupun anggota pemuda kami yang mengeluh soal ini.
Dalam rapat, sehari sebelumnya, kami telah bersepakat
untuk berangkat jam 08.00 pagi. Saat
aku menanyakan baik-baik apakah mereka bisa melaksanakan keputusan itu dengan
baik, semua tiada menunjukkan tanda-tanda penghianatan pada keputusan. Akupun
teryakini dengan itu. Walaupun awalnya ada keraguan. Ini karena mereka selalu
saja tidak tepat waktu dan sering melanggar setiap hasil musyawarah yang kami
buat pada waktu lalu.
Besoknya aku bangun pagi sekali. Ibu sangat baik padaku.
Bekal untuk seharian aku telah dia disediakan. Ada nasi kaboro[2]
dengan lauk yang unik, tikus yang disaus. Mulutku jadi bergidik saat mencium
aroma enak dari lauk khusus itu.
Sayapun siap. Bekal sudah ku taruh di atas meja. Lengkap
dengan sebilah parang untuk menebang kayu sebagai pembuka jalan saat masuk di
belantara kelak. Bisa juga sebagai jaga-jaga jangan-jangan ada serangan ular
tiba-tiba.
Kami setuju untuk berangkat bersama.
Sudah hampir jam delapan, tapi tak satupun daribantara
teman-temanku yang muncul. Aku keluar dari rumah dan melihat ke langit bagian
timur. Hitam pekat. Gelap!
“Akan hujan lebat sebentar lagi,” gumamku dalam hati
Melihat kondisi seperti ini, aku ragu akan kedatangan
teman-teman itu.
Tak sampai 5 menit langitpun kembali menyingkapkan
matahari yang ditawannya.
“ Ada harapan kami bisa berangkat,” kataku bahagia.
Sejurus kemudian datang beberapa teman lelaki. Tak
satupun yang membawa jinjingan. Mungkin kedatangan mereka untuk memberitahukan
bahwa mereka tak bisa bergabung dengan tim.
“Mau pergi tidak? Kok datangnya telat,” tanyaku protes.
“Oh tentu tentu kami akan pergi. Kami tak mungkin
melewatkan kesempatan menjadi penjelajah bersamamu ketua. Awalnya kami memang
ragu sih,” kata Tamber separuh bergurau.
“Mana bekal kalian? Selalu saja begitu…Kalian tak takut
mati kelaparan di sana nanti?”
“ Salah satu dari kami kan pernah jadi Tarzan. Tak ada
yang perlu dirisaukan. Hero pernah berkawan dengan monyet cukup lama. Pasti
akan ada yang membantu kami saat lapar. Hero tinggal menaruh kedua telapak
tangannya dekat mulut dan auwoooooooo!”
“ Hahahhahahha.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Ngomong-ngomong, mana yang lain? Maksudku para gadisnya.
Kan tidak seru kalau yang pergi hanya lelaki saja?”
“Shila, katanya akan ikut. Memei….tidak tahu. Tak pasti.”
Tak sampai seperempat jam kemudian pasukanpun telah
bertambah. Matahari kini semakin nampak dan mulai menggigit. Kulihat jamku.
Sekarang jam 08.30.
“Huh…Kita sangat jauh dari rencana,” kataku kesal.
Setelah semua telah terkumpul di rumahku, kamipun berdoa.
Sehabis anggota dihitung, kamipun mulai bergerak lambat ke arah barat. Tujuan
kami adalah situs yang bernama Tetewatu.
Pergerakan yang cukup lamban. Senda gurau pun menemani
langkah-langkah mungil kami.
Belum sampai setengah kilo meter, kulihat Toar berlari
kearah berlawanan dengan arah tujuan kami.
“Kau mau kemana, Toar?”
“Aku lupa sesuatu!”
“Lupa apa?”
“Alkitabku tertinggal di atas meja. Di rumah kamu.”
“ Dasar! Kecil-kecil, sudah pikun. Kalian bisa jalan
terus. Tak perlu tunggu aku. Aku bisa nyusul!”
“Tapi kamu tahu tidak jalan ke Tetewatu?”
“ Tenang ketua,
aku bisa menyusul kalian sebelum di persimpangan jalan.”
“ Ok, kalau begitu.”
“Cepat ya. Jangan buat kami menunggu terlalu lama!”
Kamipun melanjutkan perjalanan.Tapi langkah sengaja lebih
ku perlambat. Supaya Toar bisa mengejar kami. Teman-teman lain sudah berada
jauh di depan. Mereka sekarang sudah tak kelihatan. Sudah dilumat belokan.
Sesampai dipersimpangan, Toar belum muncul. Sudah 15
menit di situ tapi kami hanya berdiri saja. Dia tak juga menampakkan batang
hidungnya. Saya dan kekasihku terpaksa harus siap-siap diserang penyakit
farises.
Apa boleh buat. Harus kami tunggu.
Sesuai kesepakatan kami wajib jalan bersama supaya
hal-hal yang tak diinginkan tak terjadi.
Lama-lama kamipun bosan berdiri di persimpangan seperti
menunggu-nunggu ojek. Kami putuskan untuk lanjutkan perjalanan.
Dengan demikian, anggota kami tidak lagi 18 orang. Sekarang
kami tinggal 17 orang. Toar tidak tahu menahu jalan ke Tetewatu. Tapi, dia
bersikeras untuk tak ditunggui. Kini lihat akibatnya.
“ Oh Toar yang malang! Sungguh sangat disesalkan kamu tak
akan termasuk dalam kelompok pemuda yang pertama melaksanakan ibadah wisata di
Tetewatu. Namamu takkan tertulis dalam sejarah,” kataku seperti mengucapkan
puisi.
Langkah kini kami percepat. Harus menyusul teman-teman
yang lain. Masih banyak persimpangan jalan di depan. Kelompok yang
terpisah-pisah akan tersesat nantinya.
Langkah semakin ku percepatan.Kian cepat. Kekasihku
mengeluh. Kakinya mulai belas. Aku seperti tak begitu peduli. Ku jelaskan
alasan logisku. Dia tampak tak puas dengan penjelasanku. Wajahnya jadi
cemberut. Tanda-tanda ketuaan tersingkap. Padahal umurnya baru 19 tahun. Benar
kata orang:“ Marah-marah cepat beking tua.”
Ku perlambat langkah. Ku jemput dia. Ku raih tangannya.
Ku berikan satu kecupan manis. Ada senyum tersungging di sudut bibirnya. Sangat
mudah ternyata menjinakkan seorang singa betina muda.
Memang kecupan lebih bermanfaat daripada rentetan kata yang panjang.
Kecepatan langkah kami berdua kini selaras. Gara-gara begitu kami sekarang
berada di belakang teman-teman yang tadinya di depan. Dengan jarak hanya 20
meter. Ternyata mereka juga memperlambat
langkah demi menunggu kami. Mereka kini berpeluh. Beberapa dari para gadis
manis mulai mengeluh. Para pemuda setengah bayapun ikut-ikutan. Maklum mereka
bukanlah petualang sungguhan sepertiku.
“ Wah enaknya jalan berdua sang pujaan hati. Kami jadi
irih. Frengki, mau tidak kamu jadi pasanganku? Sehari ini saja.”
“ Tidak mau ah… Najis!”
Gelak tawapun meledak seperti ledakan bom Marriot yang
menewaskan beberapa warga Negara asing. Untung saja bomnya bukan bom betulan.
Nasib kami tak jadi seperti WNA yang tewas mengenaskan. Yang menyebabkan
hubungan Indonesia dan Australia sempat memanas.
“ Woi…..tunggu! Aku di sini.”
Serta merta semua kami berbalik melihat mencari-cari asal
suara. Ternyata si Toar. Badannya berguncang-guncang. Ngos-ngosan. Pakaiannya
kini basah.
Dia menyusul kami dengan berlari. Sambil membawa bekal
makanan berkuah yang kini terlihat sedang meleleh. Bau tumis membuat kami
lapar. Tapi perjalanan belum separuh. Bukan kebiasaan yang baik makan sebelum
sampai di tempat tujuan. Pantang buat kami. Itu pesan apo-apo[3]
kami.
Tak sampai 10 menit. Kami tiba di perkebunan Aser. Para
lelaki mulai berteriak. Memanggil-memangil Anto, Yanli dan dua gadis yang
mereka gonceng di motor mereka. Kami sudah bersepakat ditunggu di tempat itu.
Semakin keras kami berteriak. Tapi tak ada sahutan.
“Sekarang kita sudah di sini. Selanjutnya kita mengambil
jalan yang mana? Ke kiri, ke kanan atau lurus saja?” tanyaku.
“Lurus boleh. Tapi jauh. Kalau mau cepat seharusnya kita
lewat jalan Punti2. Bukan di sini,” Jawab si Ading berambut harajuku
itu.
“Loh kok kami tak dibilang tadi?”
“Ya…ku pikir tak perlu lagi. Kita kan sudah buat kesepakatan
bahwa teman-teman yang datang dengan sepeda motor tunggu di sini. Jadi ku ku simpulkan kita akan memilih jalan
lurus,” katanya dalam ketidakpastian.
Sewaktu aku berdebat dengan Ading, ku lihat Toar
mengambil jalan ke kanan. Akupun jadi berkesimpulan kita semua akan ke kanan.
Bingung!
Aku mulai berjalan searah dengan Toar. Membuntutinya.
Ading datang mencegah. Toar pergi semakin jauh. Kami
berjalan kearah lurus. Bukan ke kiri atau ke kanan. Kami berusaha memangil si
Toar. Seruan kami tak dihiraukan. Dia lupa akan kesepakatan bahwa kami tetap
harus bersama. Seyogianya tak ada yang jalan sendiri. Kami terus berseru
memanggil. Diapun membalas namun suaranya makin memudar. Keras kepala! Dia
pikir dia telah mengambil jalan yang benar. Kini suaranya tak terdengar lagi.
Kami putuskan untuk teruskan perjalanan. Lurus kedepan. Lewat sungai besar.
Beberapa teman gadis ada yang takut melintasi sungai. Terpaksa kami temani
lewat sisi lain. Melalui jembatan darurat. Ya kami mengambil alternatife jalan di jembatan kayu.
Kami masih menunggu susulan Toar. Sampai sekarang dia tak
kelihatan. Dasar keras kepala! Daripada stres saya putuskan untuk berhenti
merisaukannya. Kami jalan terus. Naiki lereng yang curam.Turuni lereng yang
miring. Naiki bukit miring.Turuni lereng yang terjal.
Tak lama kemudian terdengar bunyi aliran air yang deras.
“Itu pasti sungai Tetewatunya,” seruku dengan riang yang
tak tertahan.
Hati mulai berdegup-degup.Tak sabar kami untuk melihat
buatan tangan Tuhan yang elok. Seelok eden di mana Adam dan Hawa jatuh dalam dosa.
Berharap sesampai di sungai, Tetewatu persis di depan
mata. Ternyata tak seperti itu.
Kini si Ading sang pemandu mulai berjalan di depan kami.
“Kita harus menyusuri sungai. Kita akan mengikuti arus.
Kemana air sungai ini mengalir, ke sanalah kita. Dia akan membawa kita ke tujuan kita,” kata remaja tanggung
berambut pirang karena dicat itu.
Kami menaruh kepercayaan penuh padanya. Walaupun awalnya
ada sedikit keraguan.
Tiba-tiba wajah Toar terbayang.
“Kira-kira dia di mana ya,” bisikku dalam hati.
Sebagai pemimpin
rombongan aku punya tanggungjawab atas keselamatan dia. Bagaimana kalau dia
hilang. Tentu orang tuanya akan menuntut padaku. Aku berharap dia benar.
Mungkin dia sudah tiba di Tetewatu. Sebab itu yang dia mau.
“Dia nekad mengambil jalan ke kanan karena dia yakin itu
adalah jalan yang akan mengantarnya ke Tetewatu dan tentu mendahului kedatangan
kami ke Tetewatu.”
Aku dan gadisku terus berjalan membuntuti teman-teman.
Sungguh petualangan yang hebat. Hujan mengguyur dengan cekatannya. Tubuh kami
basah kuyup oleh hujan dan air sungai karena sudah beberapa kami tercebur
karena terpeleset pada batu-batu yang berlumut.
Di belakang kami ada sepasang kekasih.Tampak mereka
saling menjaga. Tangan mereka tak bisa lepas satu sama lain. Pasangan yang
serasi. Mereka masih kuliah tapi mungkin bulan depan mereka akan segera
menikah.
Aku dengar si wanita sudah berkali-kali mendesak sang
lelaki supaya cepat melamarnya. Si lelaki masih menolak secara halus.“Belum ada
uang”, katanya.Ya memang di jaman sekarang serba mahal. Supaya bisa menikah,
kita harus punya sedikitnya 20 juta. Aku sering bertanya: “ Untuk apa? Apakah
perempuan sebegitu rendahnya sehingga
dibayar seperti barang? Tak pentingkah cinta lagi sehingga perkawinan
didasarkan pada harta belaka?”
Jaman sekarang memang semakin materialistik. Anak
perempuan sendiri dijadikan barang komiditi. Tidak sedikit orang tua yang door to door menawarkan anak perempuan
mereka pada orang-orang berduit. Banyak yang berminat, tapi selalu saja
memberikan penawaran. Calon pembeli selalu bertanya. Tidak jarang pertanyaan
itu merusakkan pendengaran.
“Aku mau beli. Tapi, anakmu terbuat dari apa? Apa
benar-benar buatanmu atau orang lain? Terbuat dari apa? Tepung atau beras?
Sudah berapa calon pembeli yang mencolek-colek? Apa anakmu sudah pernah
dicicipi? Isinya?Unti atau daging?”
Sungguh tak ubahnya seperti percakapan dalam pasar
tradisional. Ada penjual ada pembeli.
Pasangan kekasih seolah tak punya hak menentukan hidup
mereka. Padahal, yang akan menjalani penderitaan hidup adalah mereka. Kenapa
mereka tidak diberikan kebebasan memilih dengan siapa mereka menderita dan
bahagia?
“Hidup adalah penderitaan,” kata Budda.
“Hidup adalah kesia-siaan adanya. Berbahagialah mereka
yang tak pernah dilahirkan,” keluh Salomo.
Kecenderungan sekarang adalah bagi pasangan yang sudah
cinta mati, mereka lebih memilih kawin lari saja. Atau kalau tidak, si lelaki
menghamili si gadis sebelum nikah. Supaya harga komoditinya berkurang atau
tidak dibayar sama sekali. Karena malu, sudah bunting, orang tua si gadis suruh
pasangan itu cepat-cepat kawin biarpun si lelaki hanya gembel.
“Pili-pili dapa langsa busu[4].”
kataku sini dalam hati, “Ah… kenapa pikiranku sampai memikirkan itu?”
Sungguh mengejutkan! Kami sekarang berada tepat di depan
Tetewatu.
“Gerbang air yang luar biasa!”
Semua yang telah tiba lebih dulu tampak gembira menikmati
kemolekan situs hasil karya ilahi itu. Lekuk-lekuk badannya tampak sempurna
hingga buat kami bergidik. Layaknya para lelaki memandang span-span[5]
yang lengak-lengok. Setiap mata melotot memandangi ketelanjangan Tetewatu. Dia
masih perawan. Kamilah sang pengambil kesuciannya.
Tak lupa kami mengambil beberapa gambar kami sendiri
secara bersama. 15 menit kemudian kebaktianpun dijalankan. Semua begitu kusyuk
ibadahnya. Kami bersembahyang dan menyanyi di tempat eksotis ini. Rembesan air
yang menyejukkan wajah menambah romantis suasana.
Lantunan-lantunan puji-pujian kepada yang Maha Kuasa
mengema merabai dinding batu. Para makhluk halus bingung dengan gerak-gerik aneh
yang berlaku. Mungkin mereka terusik. Mungkin juga mereka keasyikan mendengar
lagu pop rohani yang belum pernah terdengar sebelumnya.
“Ini luar biasa!
Ini suatu kemajuan. Kita melihat dunia baru,” kata makhluk halus yang sedikit open-minded[6].
“Tidak! Ini adalah awal dari kehancuran peradaban kita.
Aku tak ingin generasi kita suka dengan lagu pop rohani yang biasa membuat
anak-anak muda kita berjingkrak-jingkrak seperti orang gila,” kata makhluk
halus yang konservatif.
“Hey Konservat, sudah saatnya kita bangkit dan bergerak
maju. Kenapa kamu anti dengan pembaharuan, kreatifitas dan kemajuan?”, kata
makhluk halus yang Open-minded.
“Itu bukan pembaharuan. Itu hanya emosi yang meluap-luap.
Cerminan dari ketidakmatangan.I tu bukan kreatifitas. Itu wujud kejenuhan pada
sesuatu yang teratur nan rapih. Itu bentuk adalah pemberontakan.Dan itu bukan
kemajuan. Itu adalah penyimpangan. Sesat jalan. Dan jalan itu, suatu saat akan
membawa kita pada posisi kita semua. Dan itu bukan kemajuan, tetapi malahan
merupakan kemunduran,” kata Konservat.
Toar tak kunjung tiba.
“Di mana dia gerangan? Jangan-jangan, dia telah diterkam binatang buas. Atau
mungkin tertangkap oleh Patola[7]
yang besarnya seperti batang pohon kelapa itu. Sekarang sudah jam 2 sore.
Seharusnya dia sudah tiba di sini setengah jam yang lalu.”
“Teman-teman mungkin sudah saatnya kita pulang,” usul
Yanli.
“Bagaimana kita pulang? Apa kita akan kembali menyusuri
rute yang kita lewati tadi?”
“Tidak. Kita harus terus mengikuti kemana sungai ini akan
membawa kita. Jaraknyapun lebih dekat.”
Sejujurnya aku masih suka berlama-lamaan. Namun, semua
kami nampak mulai kedinginan. Setiap tubuh kami berguncang dengan cepatnya. Semakin
kami mengeras semakin hebat guncangannya. Tidak heran.Kami sudah disirami
selama 2 jam. Tambah lagi hari mulai gelap. Tetewatu kini terasa mulai
menakutkan.
“Ayo jalan terus. Tak lama lagi hari gelap.Tak ada yang
membawa penerang. Kita harus percepat langkah kita. Kalau tidak…..”.
Semua menjadi ngeri mendengar ajakan yang mengancam itu.
Tak ada yang mau bermalam di Lolombulan. Hutan Lolombulan terkenal angker dan
sarat dengan linta dan ular yang ukurannya sebesar pohon kelapa. Kami bisa
remuk oleh belitan ular.
Kami bisa kehabisan darah oleh gigitan dan hisapan
linta-linta buas.
“Kira-kira,Toar di mana ya? “, aku mulai risau.
“Sudah kubilang supaya tetap bersama. Kenapa sih dia
begitu keras hati.Menyusahkan saja!”
Setengah jam kami terbawah hentaran sungai. Kini kami
telah berada di area bernama Licu
incawayo[8].
Kami berjalan terus.
Sekarang kami sudah di perkebunan Punti. Mampir sebentar
di Tampagula[9].
Secara bergantian kami mengambil tombal[10]
dari wajan besar. Tombal rasanya bertambah manis karena kami menggunakan tempurungkelapasebagai ganti gelas.
Tubuh kami jadi hangat. Rasa dinginpun hilang dan terlupakan.
Sampai sekarang Toar belum terlihat.
Perjalanan berlanjut. Kami menuju perkebunan Aser. Kami
harus melintasi Aser lagi karena dua sepeda motor milik Anto dan Yanli ditinggalkan di sana.
Hanya butuh waktu setengah jam untuk tiba di kampung.
Kami tiba menjelang malam.Tak ada orang tua Toar datang menanyakan
keberadaannya.
Mungkin dia memang sudah pulang lebih dulu.Dia mungkin
batalkan kepergiannya ke Tetewatu karena sakit perut.
Namun, aku lega.
Besoknya, kami bertemu Toar. Dia hanya senyum-senyam dan
seperti tak mau mengaku salah. Aku sedikit menunjukkan rasa kesal padanya.Ternyata,
dia memang tersesat di tengah hutan. Dia berusaha menyusul kami tapi tak
berhasil. Diapun pulang ke rumah saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan
malam. Dia juga menceritakan bagaimana susahnya dia berjalan pulang dalam
kegelapan. Berjalan seperti tunanetra. Dia terlunta-lunta di perkebunan Punti
dan Aser. Berkat iman dan tuntunan ilahilah dia boleh mencapai rumah. Syukur.
***
[Selesai 12 September pukul 23.00]
[1] Batu titian. Situs
ini terletak di perkebunan dekat hutan Lolombulan. Orang-orang peminat kodok sering
ke tempat inI
[3]Leluhur/orang
tua yang telah berpulang kea lam baka yang semasa hidupnya dikenal sebagai
orang bijak dan baik (Tontemboan).
[4]
Pilih-pilih dapat langsat busuk (Malayu Manado). Peribahasa ini berarti jangan
terlalu memilih supaya akhirnya tak mendapat yang buruk.
5 Ketat (Malayu Manado). Sekarang ini
istilah tersebut berarti gadis atau wanita yang menarik perhatian karena
mengenakan pakaian yang ketat.
[7] Ular Piton (Melayu Manado). Juga
sering disebut Moromok (Tontemboan)
[8] Punggung kuda (Tontemboan). Area
disebut Licu incawayo karena bentuknya menyerupai punggung kuda.
[9]Tempat gula (Melayu Manado). Tempat
ini adalah tempat di mana tahap terakhir dalam proses pembuatan gula aren.
[10] Air nira yang sudah di masak
(Tontemboan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar