Rabu, 20 Januari 2016

:: PENCO ::

 

Mataku berkaca-kaca. Dan hatiku bagai disayat sembilu tatkalah melihat adikku menghilang di belokan itu. Aku hanya berdiri mematung. Dan tak memberinya lambaian tangan. Hanya nyiur-nyiur itu yang tak menyembunyikan perasaannya. Barangkali karena kami berdua sama-sama lelaki sehingga tak bisa menumpah rasa satu sama lain. Jejak roda mobil bermerk Datsun yang telah membawa adikku tak hentinya kupandangi. Kusentuh sebentar. Entah kapan kami akan bertemu lagi. Hanya harap yang kugores di langit. Semoga  dia berhasil di perantauannya. Dan semoga cita-citanya menjadi abdi negara sanggup dia raih. Lindungilah dia O… Opo Kasuruang. Sertai dia senantiasa.
***
Lima tahun kemudian….
          Kini adikku sekarang telah menjadi orang hebat. Sudah berpangkat. Seragam loreng  yang meremas tubuhnya yang kekar membuat dia tampak gagah dan amat berwibawa. Beberapa anak buahnya turut. Katanya dia hendak berlibur selama berberapa hari di kampung kami. Kedatangannya ke desa mendapat sambutan yang sangat baik. Bahkan sudah agak berlebihan menurutku.  Untung aku sudah membangun rumah yang luas dan terbilang mewah ukuran desa. Jadi, tidak membawa malu bagi adikku.
          Saat fajar mulai merekah, besoknya, kulihat dia berjalan mengeliling rumahku. Seakan ada rasa heran dan kagum terhadap pencapaianku sejauh ini. Tapi bagiku itu biasa saja. Hanya itu yang bisa saya banggakan. Meskipun saya tak mengenyam pendidikan sama sekali, saya bisa dipandang orang oleh karena harta yang kumiliki kini. Sedikit-sedikit aku juga sering bersedekah. Bukan karena ada maunya. Tapi lantaran hanya ingin membantu saja. Tak pernah berharap itu mereka balas. Karena aku tak pernah berikhtiar menjadi seorang kepala desa, anggota dewan atau menceburkan diri dalam dunia yang orang sebut sebagai politik itu. Aku sangat tahu diri. Kekayaanku tak akan membuatku bisa melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Jujur, pendidikanku sangat rendah.
Ada orang lain yang layak dan pantas untuk menempati posisi itu. Tetangga sebelah punya anak yang sudah tamat kuliah satu atau dua tahun lalu. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Bahkan boleh dibilang miskin. Anak itu pintar dan kelihatan jujur. Dia tak seperti anak sejamannya. Dia kerap melebur diri dalam masyarakat. Posisi-posisi penting dalam kepanitian acara desa tak jarang dipercayakan padanya. Dan tanggungjawab yang dia terima itu dilaksanakan dengan segenap hati. Kurasa anak seperti itulah yang pantas menjadi pimpinan desa atau anggota dewan yang akan mewakili kami menyuarakan aspirasi kami. Aku rela menggelontorkan uang untuk membantunya supaya mimpiku itu terwujud.
          Kendati  aku miskin pendidikan, patut juga aku berbangga. Kekayaan yang kumiliki sekarang adalah hasil jeri payahku selama ini. Bertani dengan sungguh-sungguh. Perkebunan kelapa dan cengkehlah yang telah membawaku ke puncak kesuksesan. Tapi, aku juga harus akui adikku punya andil dalam keberhasilanku. Kalau saja dia tidak menjual budelnya, aku takkan pernah sekaya ini.
          “Ngana so sukses e,” kata adikku memecah lamunanku. Aku tak menyadari dia sudah di belakangku. Aku tak sempat mendengar suara kakinya saat menaiki tangga rumah.
          “Ah biasa jo ini. Mar masi lebe bae ngana. Orang terpandang. Berpendidikan. Punya titel deng dihormati orang,” jawabku.
          “Besok, antar kita ka kobong ne. So lama ini nda pasiar ka kobong,” kata adikku sembari memandang jauh ke depan. Hamparan perkebunanku terlihat amat hijau. Terbentang luas.
Aku senang dia memintaku. Barangkali dia hendak bernostalgia. Melepas kepenatan dengan menghirup udara segar. Mencium harumnya dedaunan dan bunga cengkeh. Besoknya pun kami berangkat. Mobil hartopnya yang penuh dengan manusia berseragam hijau belang-belang berangkat juga ke kebun. Melewati jalan yang rusak. Lobang-lobang di sana-sini. Perbaikan dari pemerintah terus datang dalam bentuk janji. Sering-sering aku menimbun lobang-lobang itu dengan teras, pasir dan kerikil. Walaupun uang sendiri di kantong mesti kurogoh. Orang-orang di ro’ong begitu bangga melihat kami. Dua kakak beradik menuai keberhasilan di usia yang masih cukup muda. Kami pun tiba setelah perjalanan setengah jam.
“Lex, so brapa taun ngana da kecap tu hasil ni kobong?” kata adikku begitu mobil diparkir. Tepat di bidang tanah yang kubeli dari dia beberapa tahun yang lalu.
“So lima taun,” jawabku sontak.
“Brarti so bole jo. Taun ini kita lagi yang mo bapete.”
“Ngana pe maksud?”
“Io no. Ngana skarang so ada tiga oto, ruma basar, sapi, kuda, babi piara, kobong pece deng tana so tatamba. So cukup. Skarang kita lei tu rasa tu hasil deri kobong ini. Mulai taun ini….”
“Bapili jo kasana barang brapa pohong yang ngana rasa banya bua. Biar jo ole-ole for ngana pe keluarga di Jawa.”
“Bagini Lex, kita pe maksud tu kobong ini kita smo ambe ulang. Anggap jo tu hasil yang brapa taun yang panen itu kita da kasesewa pa ngana. Mulai beso ato lusa kita smo bapete. Nanti kita pe anak bua yang mo mainkan.”
Aku terhenyak. Badanku sekonyong-konyong menjadi lemas. Tak kusangkah kedatangan saudara kandungku adalah untuk merampas hakku. Dengan senjata dia hendak merebut suar lela-ku. Sebidang tanah yang telah dia jual kepadaku ketika dia hendak berangkat melanjutkan pendidikannya. Memang surat transaksi jual beli tak kami buat. Cuma atas dasar saling percaya lantaran pertalian darah. Tak pernah terpikir adikku sendiri akan menipuku. Dengan berjalan kaki aku pun pulang ke rumah ku. Sempat aku lihat dia dan anak buahnya masuk ke tengah-tengah kebun untuk melihat-lihat. Buah cengkeh di kebun itu aku tahu persis belum layak dipanen. Mungkin seminggu lagi.
Malam itu aku tak bisa tidur. Harga diriku sebagai seorang kakak diinjak-injak bagai puntung rokok. Aku memutar otak. Harus berontak. Tak terima dianggap hanya sebagai budak. Akhirnya, jam empat pagi aku mengingat sebuah nama. Penco. Kata orang Pria Langowan itu punya kemampuan mistik yang tinggi. Dia suka membantu orang yang mendapat masalah seperti yang sedang aku alami. Jam itu juga aku beranjak. Tanpa tukar pakaian.  Tanpa sarapan. Langsung menuju Langowan. Sebuah kota kecil yang dulunya pernah menjadi pusat penyebaran Kristen Protestan Schwarz. Konon dulu penyebaran agama barat itu susah di sana. Lantaran para tetua menentangnya. Suatu ketika mereka bertaruh. Ada sebatang pohon yang dianggap keramat di tempat itu. Warga takut merapat apalagi meraba. Schwarz merasa itu suatu kesempatan. Dia pun berjalan berkeliling dan menghasut orang untuk tak percaya dengan cerita itu. Mitos yang menyesatkan. Dan menyampaikan kepada mereka bahwa dia tak takut menyentuh pohon keramat itu. Tapi dengan syarat, apabila  tak terjadi apa-apa padanya, para tetua dan semua warga dibaptis, masuk Kristen dan menerima Yesus sebagai juruselamat.
Saat aku tiba di rumah Penco, tak ada siapa-siapa. Padahal rumah itu megah. Tak berani mengetuk. Aku memilih menunggu sampai matahari menampak wajahnya. Aku yakin Penco ada di dalam. Dia memang hanya seorang. Tidak kawin. Pegangan yang dia bawa memang membuatnya pantang untuk beristri. Bahkan pantangan-pantangan lain seperti tidak boleh mandi seperti cara mandi kebiasaan orang pada umumnya pun harus dijalankannya. Tapi itulah dia. Orang lain boleh bertanya dan mencemooh. Atau menganggap dia aneh dan bodoh. Tapi buatku dia adalah pemberani dan tak takut dengan resiko. Setelah lama berdiri kakiku terasa perih juga. Pilihan paling jitu adalah duduk meringkuk. Kulakukan itu. Dan tanpa sadar pelan-pelan mataku tertutup sampai jidatku tersandar pada lutut.
“Hoi…..bagong! Kyapa tidor di sini?” mendadak aku bangkit sembari mengusap-usap mata untuk memperjelas pandangan.
Di depanku telah berdiri seorang yang berperawakan tak terlalu tinggi. Pakaian sederhana. Penampilannya seperti agak tak terurus. Aku menduga-duga. Barangkali dialah orang yang aku cari.
“Slamat pagi.”
“Pagi. Kyapa tidor di sini?”
“Kita kwa tadi da kamari pagi ampersiang. Mo batoki pintu mar nyanda enak tu tuang ruma katu masi tidor. Kita kwa ada perlu pa om Penco.”
“Oh maso…..”
Di dalam aku disambut dengan baik. Pria lajang itu sibuk membuat kopi bahkan sarapan untuk kami berdua sambil mempersilahkan aku menyampaikan keluh kesahku. Begitu semua kisah tragisku kucurahkan dia pun diam. Tak satu pun kata simpati yang kudengar melompat dari mulutnya. Dia begitu tenang. Sediki-sedikit berpikir. Lalu memandang aku lagi. Habis itu berpikir lagi.
“Bagini, di kampung pa ngana, ada orang yang dulunya kuat tu pegangan, so mati mar da kubur di sana?”
“Oh ada!” jawabku penuh semangat.
“Ngana pigi pa dia pe kubur, kong bicara disitu. Bilang tu ngana pe masala. Bilang ngana pe ade mo beking suka-suka pa ngana. Bilang tu dia pe rencana mo sabotase ngana pe kapunyaang.”
“Kong?”
“Abis itu, ngana ambe abu dari kubur itu. Satu kompol di tangang. Bawa tu abu itu deng dua tangang di blakang sampe di kobong yang ngana pe ade mo rampas. Kong kase ciri plang-plang tu abu itu sambil ngana baputar sembilan kali di pinggir kobong.”
“Kong?”
“Kong apa? Sudah noh!”
Bukan main senangnya aku telah diberitahu jalan keluar dari masalahku. Aku pun berdiri dan bersiap-siap untuk pamit. Sialnya, kulihat pada wajah Penco ada rasa tidak senang. Tapi enggan aku bertanya. Tidak mungkin dia meminta imbalan dari jasanya. Yang aku tahu dia itu tak pernah minta imbalan ketika membantu orang. Itu adalah salah satu pantangan lain. Dan yang namanya pantangan itu tidak boleh dilanggar. Bila dilanggar maka kesaktiannya akan memudar dan kemudian hilang. Bahkan pelanggaran pantangan bisa membuat celaka bagi dirinya. Pantangan itu berfungsi mencegah orang untuk tidak menyalahgunakan ilmu pengetahuan yang diberi.
“Mo kamana ngana?”
“Smo pulang.”
“Kyapa ngana nda tanya apa tu mo jadi kalu ngana pe ade mo jadi bapancuri ngana pe cingke?”
“Apa dang?”
“Samua tu orang yang mo nae tu cingke mo jatung sama deng batu da kase ciri dari pohong tinggi! Jadi pikir bae-bae. Kalu ngana tako jo, kalu ngana rasa berdosa jo, ngana bole kasebatal tu kita da kaseajar. Samua tersera ngana. So siap mo trima resiko to?”
Sambil menunduk aku keluar dari rumahnya. Sempat ekor mataku menyaksikan dia langsung menuju belakang rumahnya untuk mengurus ayam-ayamnya. Penco itu punya hobi menyabung ayam. Uangnya yang banyak habis oleh adu unggas itu. Tapi aku tak mau ikut-ikutan menghakiminya atas apa yang dia lakukan itu. Sebab apa bedanya dengan olahraga tinju. Itu sebenarnya lebih sadis. Orang yang diadu. Tapi mengherankan karena agama seolah membenarkannya lantaran emblem olahraga telah dilekatkan pada kegiatan itu.
Sesampai di rumah otak dan hati kembali bergulat. Di tengah perjalanan tadi sebetulnya sudah kuputuskan untuk mengurungkan niatku. Sejahat-jahatnya adikku, dia toh tetap adiku. Tadi agak sudah merelahkan. Anggap saja itu pemberianku. Mungkin dia melakukan itu karena terpaksa. Dengar-dengar dia punya sedikit masalah dalam rumah tangganya. Istrinya dipergokinya dengan selingkuhan di ranjang rumahnya. Istrinya tak pernah menyangka suaminya pulang tiba-tiba. Dengar-dengar adikku dibebastugaskan beberapa waktu disebabkan dia masuk anggota tim mawar penculikan mahasiswa dan aktifis di Jakarta. Mereka adalah tim khusus yang terlatih dalam penghilangan paksa orang-orang yang benci dengan kebijakan Suharto. Dan, konon, tim adikku itu dibentuk oleh anak mantunya presiden.
Terpaksa keputusan harus dirubah. Itu karena adikku ternyata telah melaporkan aku ke polisi dengan tuduhan menyerobot tanah miliknya dan menanaminya. Sakit hatiku mendengar itu dari mulut Ukung Tua ketika dia bercerita tadi pagi. Ukung Tua tahu persis siapa yang benar. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia trauma melawan. Sebab dia pernah dikatai PKI. Tahulah, kalau sudah dikatai begitu orang-orang biasanya langsung panik menyerang.
Aku terpaksa. Kuikuti resep yang diberikan Penco. Kukelilingi kebunku sambil berlinang air mata. Di kejauhan kudengar satu per satu anak buah adikku jatuh dari pohon cengkeh. Beberapa selamat tapi cacat. Kebanyakan langsung merenggang nyawa begitu terkapar di tanah. Adikku disalahkan oleh atasan gara-gara kejadian itu. Untung dia tak dipecat. Dia hanya diskors selama enam bulan. Lalu dimutasikan ke Aceh. Dengar-dengar, dia juga telah kawin lagi di sana.                                                                      


Minahasa, 14 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar