Mataku
berkaca-kaca. Dan hatiku bagai disayat sembilu tatkalah melihat adikku
menghilang di belokan itu. Aku hanya berdiri mematung. Dan tak memberinya lambaian
tangan. Hanya nyiur-nyiur itu yang tak menyembunyikan perasaannya. Barangkali
karena kami berdua sama-sama lelaki sehingga tak bisa menumpah rasa satu sama
lain. Jejak roda mobil bermerk Datsun yang telah membawa adikku tak hentinya
kupandangi. Kusentuh sebentar. Entah kapan kami akan bertemu lagi. Hanya harap
yang kugores di langit. Semoga dia
berhasil di perantauannya. Dan semoga cita-citanya menjadi abdi negara sanggup
dia raih. Lindungilah dia O… Opo Kasuruang. Sertai dia senantiasa.
***
Lima tahun
kemudian….
Kini adikku sekarang telah menjadi
orang hebat. Sudah berpangkat. Seragam loreng
yang meremas tubuhnya yang kekar membuat dia tampak gagah dan amat
berwibawa. Beberapa anak buahnya turut. Katanya dia hendak berlibur selama
berberapa hari di kampung kami. Kedatangannya ke desa mendapat sambutan yang
sangat baik. Bahkan sudah agak berlebihan menurutku. Untung aku sudah membangun rumah yang luas
dan terbilang mewah ukuran desa. Jadi, tidak membawa malu bagi adikku.
Saat fajar mulai merekah, besoknya,
kulihat dia berjalan mengeliling rumahku. Seakan ada rasa heran dan kagum
terhadap pencapaianku sejauh ini. Tapi bagiku itu biasa saja. Hanya itu yang
bisa saya banggakan. Meskipun saya tak mengenyam pendidikan sama sekali, saya
bisa dipandang orang oleh karena harta yang kumiliki kini. Sedikit-sedikit aku
juga sering bersedekah. Bukan karena ada maunya. Tapi lantaran hanya ingin
membantu saja. Tak pernah berharap itu mereka balas. Karena aku tak pernah
berikhtiar menjadi seorang kepala desa, anggota dewan atau menceburkan diri
dalam dunia yang orang sebut sebagai politik itu. Aku sangat tahu diri.
Kekayaanku tak akan membuatku bisa melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
Jujur, pendidikanku sangat rendah.
Ada orang lain
yang layak dan pantas untuk menempati posisi itu. Tetangga sebelah punya anak
yang sudah tamat kuliah satu atau dua tahun lalu. Dia berasal dari keluarga
yang sederhana. Bahkan boleh dibilang miskin. Anak itu pintar dan kelihatan
jujur. Dia tak seperti anak sejamannya. Dia kerap melebur diri dalam
masyarakat. Posisi-posisi penting dalam kepanitian acara desa tak jarang
dipercayakan padanya. Dan tanggungjawab yang dia terima itu dilaksanakan dengan
segenap hati. Kurasa anak seperti itulah yang pantas menjadi pimpinan desa atau
anggota dewan yang akan mewakili kami menyuarakan aspirasi kami. Aku rela
menggelontorkan uang untuk membantunya supaya mimpiku itu terwujud.
Kendati aku miskin pendidikan, patut juga aku
berbangga. Kekayaan yang kumiliki sekarang adalah hasil jeri payahku selama
ini. Bertani dengan sungguh-sungguh. Perkebunan kelapa dan cengkehlah yang
telah membawaku ke puncak kesuksesan. Tapi, aku juga harus akui adikku punya
andil dalam keberhasilanku. Kalau saja dia tidak menjual budelnya, aku takkan
pernah sekaya ini.
“Ngana so sukses e,” kata adikku
memecah lamunanku. Aku tak menyadari dia sudah di belakangku. Aku tak sempat
mendengar suara kakinya saat menaiki tangga rumah.
“Ah biasa jo ini. Mar masi lebe bae
ngana. Orang terpandang. Berpendidikan. Punya titel deng dihormati orang,”
jawabku.
“Besok, antar kita ka kobong ne. So
lama ini nda pasiar ka kobong,” kata adikku sembari memandang jauh ke depan.
Hamparan perkebunanku terlihat amat hijau. Terbentang luas.
Aku senang dia
memintaku. Barangkali dia hendak bernostalgia. Melepas kepenatan dengan
menghirup udara segar. Mencium harumnya dedaunan dan bunga cengkeh. Besoknya
pun kami berangkat. Mobil hartopnya yang penuh dengan manusia berseragam hijau
belang-belang berangkat juga ke kebun. Melewati jalan yang rusak. Lobang-lobang
di sana-sini. Perbaikan dari pemerintah terus datang dalam bentuk janji.
Sering-sering aku menimbun lobang-lobang itu dengan teras, pasir dan kerikil.
Walaupun uang sendiri di kantong mesti kurogoh. Orang-orang di ro’ong begitu
bangga melihat kami. Dua kakak beradik menuai keberhasilan di usia yang masih
cukup muda. Kami pun tiba setelah perjalanan setengah jam.
“Lex, so brapa
taun ngana da kecap tu hasil ni kobong?” kata adikku begitu mobil diparkir.
Tepat di bidang tanah yang kubeli dari dia beberapa tahun yang lalu.
“So lima taun,”
jawabku sontak.
“Brarti so bole
jo. Taun ini kita lagi yang mo bapete.”
“Ngana pe maksud?”
“Io no. Ngana
skarang so ada tiga oto, ruma basar, sapi, kuda, babi piara, kobong pece deng
tana so tatamba. So cukup. Skarang kita lei tu rasa tu hasil deri kobong ini.
Mulai taun ini….”
“Bapili jo kasana
barang brapa pohong yang ngana rasa banya bua. Biar jo ole-ole for ngana pe
keluarga di Jawa.”
“Bagini Lex, kita
pe maksud tu kobong ini kita smo ambe ulang. Anggap jo tu hasil yang brapa taun
yang panen itu kita da kasesewa pa ngana. Mulai beso ato lusa kita smo bapete.
Nanti kita pe anak bua yang mo mainkan.”
Aku terhenyak.
Badanku sekonyong-konyong menjadi lemas. Tak kusangkah kedatangan saudara kandungku
adalah untuk merampas hakku. Dengan senjata dia hendak merebut suar lela-ku.
Sebidang tanah yang telah dia jual kepadaku ketika dia hendak berangkat
melanjutkan pendidikannya. Memang surat transaksi jual beli tak kami buat. Cuma
atas dasar saling percaya lantaran pertalian darah. Tak pernah terpikir adikku
sendiri akan menipuku. Dengan berjalan kaki aku pun pulang ke rumah ku. Sempat
aku lihat dia dan anak buahnya masuk ke tengah-tengah kebun untuk
melihat-lihat. Buah cengkeh di kebun itu aku tahu persis belum layak dipanen.
Mungkin seminggu lagi.
Malam itu aku tak
bisa tidur. Harga diriku sebagai seorang kakak diinjak-injak bagai puntung
rokok. Aku memutar otak. Harus berontak. Tak terima dianggap hanya sebagai
budak. Akhirnya, jam empat pagi aku mengingat sebuah nama. Penco. Kata orang
Pria Langowan itu punya kemampuan mistik yang tinggi. Dia suka membantu orang
yang mendapat masalah seperti yang sedang aku alami. Jam itu juga aku beranjak.
Tanpa tukar pakaian. Tanpa sarapan.
Langsung menuju Langowan. Sebuah kota kecil yang dulunya pernah menjadi pusat
penyebaran Kristen Protestan Schwarz. Konon dulu penyebaran agama barat itu
susah di sana. Lantaran para tetua menentangnya. Suatu ketika mereka bertaruh.
Ada sebatang pohon yang dianggap keramat di tempat itu. Warga takut merapat
apalagi meraba. Schwarz merasa itu suatu kesempatan. Dia pun berjalan
berkeliling dan menghasut orang untuk tak percaya dengan cerita itu. Mitos yang
menyesatkan. Dan menyampaikan kepada mereka bahwa dia tak takut menyentuh pohon
keramat itu. Tapi dengan syarat, apabila
tak terjadi apa-apa padanya, para tetua dan semua warga dibaptis, masuk
Kristen dan menerima Yesus sebagai juruselamat.
Saat aku tiba di
rumah Penco, tak ada siapa-siapa. Padahal rumah itu megah. Tak berani mengetuk.
Aku memilih menunggu sampai matahari menampak wajahnya. Aku yakin Penco ada di
dalam. Dia memang hanya seorang. Tidak kawin. Pegangan yang dia bawa memang
membuatnya pantang untuk beristri. Bahkan pantangan-pantangan lain seperti
tidak boleh mandi seperti cara mandi kebiasaan orang pada umumnya pun harus
dijalankannya. Tapi itulah dia. Orang lain boleh bertanya dan mencemooh. Atau
menganggap dia aneh dan bodoh. Tapi buatku dia adalah pemberani dan tak takut
dengan resiko. Setelah lama berdiri kakiku terasa perih juga. Pilihan paling
jitu adalah duduk meringkuk. Kulakukan itu. Dan tanpa sadar pelan-pelan mataku
tertutup sampai jidatku tersandar pada lutut.
“Hoi…..bagong!
Kyapa tidor di sini?” mendadak aku bangkit sembari mengusap-usap mata untuk
memperjelas pandangan.
Di depanku telah
berdiri seorang yang berperawakan tak terlalu tinggi. Pakaian sederhana.
Penampilannya seperti agak tak terurus. Aku menduga-duga. Barangkali dialah
orang yang aku cari.
“Slamat pagi.”
“Pagi. Kyapa tidor
di sini?”
“Kita kwa tadi da
kamari pagi ampersiang. Mo batoki pintu mar nyanda enak tu tuang ruma katu masi
tidor. Kita kwa ada perlu pa om Penco.”
“Oh maso…..”
Di dalam aku
disambut dengan baik. Pria lajang itu sibuk membuat kopi bahkan sarapan untuk
kami berdua sambil mempersilahkan aku menyampaikan keluh kesahku. Begitu semua
kisah tragisku kucurahkan dia pun diam. Tak satu pun kata simpati yang kudengar
melompat dari mulutnya. Dia begitu tenang. Sediki-sedikit berpikir. Lalu
memandang aku lagi. Habis itu berpikir lagi.
“Bagini, di
kampung pa ngana, ada orang yang dulunya kuat tu pegangan, so mati mar da kubur
di sana?”
“Oh ada!” jawabku
penuh semangat.
“Ngana pigi pa dia
pe kubur, kong bicara disitu. Bilang tu ngana pe masala. Bilang ngana pe ade mo
beking suka-suka pa ngana. Bilang tu dia pe rencana mo sabotase ngana pe
kapunyaang.”
“Kong?”
“Abis itu, ngana
ambe abu dari kubur itu. Satu kompol di tangang. Bawa tu abu itu deng dua
tangang di blakang sampe di kobong yang ngana pe ade mo rampas. Kong kase ciri
plang-plang tu abu itu sambil ngana baputar sembilan kali di pinggir kobong.”
“Kong?”
“Kong apa? Sudah
noh!”
Bukan main
senangnya aku telah diberitahu jalan keluar dari masalahku. Aku pun berdiri dan
bersiap-siap untuk pamit. Sialnya, kulihat pada wajah Penco ada rasa tidak
senang. Tapi enggan aku bertanya. Tidak mungkin dia meminta imbalan dari
jasanya. Yang aku tahu dia itu tak pernah minta imbalan ketika membantu orang.
Itu adalah salah satu pantangan lain. Dan yang namanya pantangan itu tidak
boleh dilanggar. Bila dilanggar maka kesaktiannya akan memudar dan kemudian
hilang. Bahkan pelanggaran pantangan bisa membuat celaka bagi dirinya.
Pantangan itu berfungsi mencegah orang untuk tidak menyalahgunakan ilmu
pengetahuan yang diberi.
“Mo kamana ngana?”
“Smo pulang.”
“Kyapa ngana nda
tanya apa tu mo jadi kalu ngana pe ade mo jadi bapancuri ngana pe cingke?”
“Apa dang?”
“Samua tu orang
yang mo nae tu cingke mo jatung sama deng batu da kase ciri dari pohong tinggi!
Jadi pikir bae-bae. Kalu ngana tako jo, kalu ngana rasa berdosa jo, ngana bole
kasebatal tu kita da kaseajar. Samua tersera ngana. So siap mo trima resiko
to?”
Sambil menunduk
aku keluar dari rumahnya. Sempat ekor mataku menyaksikan dia langsung menuju
belakang rumahnya untuk mengurus ayam-ayamnya. Penco itu punya hobi menyabung
ayam. Uangnya yang banyak habis oleh adu unggas itu. Tapi aku tak mau
ikut-ikutan menghakiminya atas apa yang dia lakukan itu. Sebab apa bedanya
dengan olahraga tinju. Itu sebenarnya lebih sadis. Orang yang diadu. Tapi
mengherankan karena agama seolah membenarkannya lantaran emblem olahraga telah
dilekatkan pada kegiatan itu.
Sesampai di rumah
otak dan hati kembali bergulat. Di tengah perjalanan tadi sebetulnya sudah
kuputuskan untuk mengurungkan niatku. Sejahat-jahatnya adikku, dia toh tetap
adiku. Tadi agak sudah merelahkan. Anggap saja itu pemberianku. Mungkin dia
melakukan itu karena terpaksa. Dengar-dengar dia punya sedikit masalah dalam
rumah tangganya. Istrinya dipergokinya dengan selingkuhan di ranjang rumahnya.
Istrinya tak pernah menyangka suaminya pulang tiba-tiba. Dengar-dengar adikku
dibebastugaskan beberapa waktu disebabkan dia masuk anggota tim mawar
penculikan mahasiswa dan aktifis di Jakarta. Mereka adalah tim khusus yang
terlatih dalam penghilangan paksa orang-orang yang benci dengan kebijakan
Suharto. Dan, konon, tim adikku itu dibentuk oleh anak mantunya presiden.
Terpaksa keputusan
harus dirubah. Itu karena adikku ternyata telah melaporkan aku ke polisi dengan
tuduhan menyerobot tanah miliknya dan menanaminya. Sakit hatiku mendengar itu
dari mulut Ukung Tua ketika dia bercerita tadi pagi. Ukung Tua tahu persis
siapa yang benar. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia trauma melawan. Sebab
dia pernah dikatai PKI. Tahulah, kalau sudah dikatai begitu orang-orang
biasanya langsung panik menyerang.
Aku terpaksa.
Kuikuti resep yang diberikan Penco. Kukelilingi kebunku sambil berlinang air
mata. Di kejauhan kudengar satu per satu anak buah adikku jatuh dari pohon
cengkeh. Beberapa selamat tapi cacat. Kebanyakan langsung merenggang nyawa
begitu terkapar di tanah. Adikku disalahkan oleh atasan gara-gara kejadian itu.
Untung dia tak dipecat. Dia hanya diskors selama enam bulan. Lalu dimutasikan
ke Aceh. Dengar-dengar, dia juga telah kawin lagi di
sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar