Rabu, 20 Januari 2016

:: KAFE DOYOT ::


Senin 17 Juni
Tiba-tiba saja mobilku mogok di area jalan Pierre Tendean. Tepat di depan sebuah kafe yang dicat hitam dan coklat. Di pintu gerbangnya di kiri kanan berdiri patung berbusana merah. Yang satu menghunuskan tombak ke arahku. Yang satu lagi mengangkat pedang. Mimik kedua patung itu agak menyeramkan. Patung-patung itu tengah memperagakan tarian Kawasaran. Ini membuatku pastiu luar biasa.  Tapi kuputuskan melempar langkahku satu-satu ke dalam kafe itu. Alunan lagi aneh nan mendayuh terus menarik ku ke dalam. Tapi kuputuskan menghempaskan patatku ke kursi  yang paling dekat dengan gerbang. Kulihat ada beberapa orang di dalam. Semuanya laki-laki. Nyaris semua wajah mereka berpaling padaku begitu aku pelan-pelan kumasuk. Kuletakkan tas berwarna pink-ku di atas meja bambu. Kukeluarkan telpon genggam. Ketiga-tiganya. Semuanya. Menuliskan statusku sekarang di akun media sosial yang bukan menggunakan nama asliku. Sudah lama aku tidak mendengar orang memanggil nama asliku. Di kampungpun kalau aku bilang untuk sekedar bertemu ayah dan ibu, aku hanya dipanggil Ineng. Semua gadis dan perempuan muda di kampung memang dipanggil seperti itu. Itu mungkin tradisi orang gunung.
“Mo pesan apa kang?” Jari-jariku tiba-tiba terhenti kegiatannya tatkalah seorang pelayan menanyaiku.
“Emang di sini ada menu apa aja?” jawabku sembari melihat papan nama yang menggantung di seragam pelayan itu. Tertulis “V. Sual”. Tak berminat aku melihat mukanya. Lalu aku kembali menyibukkan diri dengan ponselku.
“Suka yang mana yang spesial ato biasa?”
“Kalu yang spesial apa aja?”
“Kalu minuman, di sini ada kopi itang, saguer Manis, kopi tombal, saguer bagigi, teh....,”
“Kalo yang makanan?”
“Double onde, cucur, ginger rice, apang, koyabu,....”
“Double onde dan ginger rice dech. Itu menu baru kan? Aku pesan dua untuk masing-masing.”
Kembali kau membenamkan diri di dunia maya. Kubaca satu per satu pesan yang masuk. Sepuluh pesan. Semuanya bertanya apa kami bisa ketemu malam sebentar. Hanya satu yang tidak bertanya. Di kontak dia kunamai Mr. Haar. Dia memang tidak perlu bertanya kesiapanku. Sebab aku 99% miliknya. Sekali ketemu hadiahnya bisa untuk liburan mewah di Bunaken selama seminggu. Belum lagi kalau harus menemaninya keluar kota atau ke luar negeri.
“Ini tu pesanan,” kata si pelayanan tiba-tiba di sampingku.
“Loh ini....apa ini? Aku gak pesan ini!!” bentakku pada pelayan itu. Dia berusaha membela diri tak gertakkanku membuat dia tak lagi berkata lebih. Kulihat dia mengambil bawaannya kembali dengan langkah kasar ke belakang. Lalu kulihat dia kembali tapi tak menuju padaku melainkan langsung menggabungkan diri dengan para lelaki yang dari tadi kudengar berbincang dengan serius. Sejurus kemudian mereka semua pecah tertawa. Sempat kulihat si pelayan itu menunjuk ke arahku sebelum mereka tertawa.  Karena mulai tidak nyaman aku langsung angkat kaki dan tergesah-gesah masuk ke mobil. Herannya begitu kumasukan kunci dan kuputar ke arah kanan, mobilnya pun bersuara dan siap dibawa. Aku heran.
***
Kamis  20 Juni
Sial! Mobilku mogok lagi. Dan lebih sial lagi mobil mogok di depan cafe ketika mobilku mogok tiga hari lalu. Sekarang aku tak berani turun. Dari dalam mobil aku hanya memantau saja. Tapi tiba-tiba aku berpikir kalau tentu aku takkan dikenal bila masuk ke sana. Pelayannya juga ada beberapa. Karena selain penampilanku beda, hari ini juga malam. Tak seperti tiga hari lalu di siang bolong.  Dan dari dalam mobil aku tahu nama tempat itu adalah Doyot Cafe’. Yakin dengan pikiranku akupun masuk  ke dalam dan memilih kursi yang sama dengan kursi yang pernah aku duduki. Ketiga ponselku kukeluarkan dari tasku.  Kali tak satupun pesan dari pelangganku. Mungkin mereka sibuk. Mungkin ada acara keluarga di dalam kota. Atau bisa saja diundang hadir dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Kalau bukan peresmian tempat ibadah ya supermarket atau hotel baru. Atau bisa juga rapat partai. Atau bisa juga rapat gereja. Rata-rata mereka juga kan aktivis gereja.
“Mo pesan apa kang?” pikiranku tiba-tiba terhenti dan agak gugup. Aku mencoba menguasai diri dengan menciptakan suara baru.
“Kopi Hitam dan Koyabu dua. Ingat ya saya pesan Kopi Hitam dan Koyabu. Gak pake onde-onde sama nasi jaha ya!!!,” kataku cepat.
“Ha? Jadi ngana dang yang pesan tuhari kong Cuma da tolak? Sori neh, cewe pesan jo pa pelayan laeng,” si pelayan itu pun pergi dan bergabung dengan rombongan di satu meja yang letaknya agak di belakang. Tertawa pun pecah disitu. Ternyata semua mereka itu adalah pelayan juga. Kusimpulkan itu dari seragam mereka. Merasa tidak diperlakukan dengan baik aku pun berdiri dan menuju kasir.
“Permisi! Siapa pimpinan di kafe ini? Saya mau komplein,” kataku pada kasir yang adalah satu-satunya gadis berseragam itu. Tapi gadis itu hanya senyum. Dan tak menjawab pertanyaanku.
“Cewek, aku mau komplein! Siapa manajer di kafe ini??”
Sial! Senyuman gadis itu berubah menjadi tawa. Dan karena aku memaksa dia pun mengarahkan telunjuknya ke arah yang saya belakangi.
“Tu manajer yang sana cewek. Yang depe nama L. Sual.”
Apa? Benar-benar sial! Ternyata pelayan itu adalah manajernya juga. Ah!!
***
Sabtu  22 Juni
“Hahahahaahhaha....kita nda sangkah kang torang mo bakukenal bagini. Ternyata kote tu double Onde deng Ginger Rice itu manjur kang beking tacolong orang hahahahaha,”
“Ngoni lei kwa nda beres. Onde-onde deng Nasi Jaha kote mo kase nama Double Onde dan Ginger Rice. So nda ada ide laeng so ngoni,” kataku pura-pura marah.
“Neng, bagitu noh bisnis. Beking orang tertarik kong dorang suka coba.”
“Ha! Itu penipuan. Kalu mancari kwa butul-butul jang batipu...hahahahaha”
“Ha ngana lei Cuma lei kwa itu. Deng, yang torang tipu le kwa orang-orang penipu. Dorang kan ambe-ambe doi rakyat. Makanya torang beking ini kafe dapalia mewah. Depe konsep kampung mar tetap mewah. Depe harga ya mahal. Sengaja bagitu spaya yang kena ya tu pejabat-pejabat ato orang-orang pancuri doi orang kecil.”
“Kong kita pejabat dang?”
“Kalu ngana depe kekecualian. Sama deng kalu mangael, rencana cari ikang tindarung mar Cuma dapa gete-gete wkwkwkwkwk”
Tiba-tiba aku tersadar. Ternyata kini aku tengah terbaring di dego-dego tepi kolam di sebuah hotel. Meski tak berbulan langit begitu cerah malam ini. Laut juga. aku bisa melihat cahaya-cahaya kecil kerlap-kerlip. Tapi terasa begitu sepih. Mr. Haar dan sembilan pelangganku tak satu pun yang menghubungi. Hanya anggur merah yang menemani. Sambil berbaring di petiduran dekat kolam aku berbincang dengan bintang-bintang. Tak tahu mengapa aku jadi teringat sebuah tempat. Tempat di mana aku merasa orang sial akhir-akhir ini. Ingin sekali lagi aku berbalik ke sana. Sedikit onar pun tak masalah. Aku harus membuat perhitungan pada pelayan sombong itu. Pada manajer yang congkak itu. Aku berdiri dan menarik handuk putih lalu bergegas ke kamarku. Kamar yang kutinggali selama 3 tahun. Letaknya dilantai 15.
Kuparkir mobilku di tempat biasa. Di tempat mobilku biasa mogok. Belum sempat aku turun dari mobil sudah kulihat tali plastik garis polisi mengelilingi kafe itu. Cafe tak lagi tampak. Seolah sebuah lapangan kosong di antara gedung-gedung tinggi. Aku pun balik ke kamarku. Tas kulemparkan di tempat tidur lalu kuambil remote control dan hidupkan tv.
“Selamat malam. Kita saksikan breaking news. Sebuah cafe diobrak-abrik gerombolan orang bertopeng yang membawa parang. Dari hasil penelusuran tim di lapangan teridentifikasi satu orang berinisial V. Sual tewas secara mengenaskan. Menurut dugaan kejadian ini ditenggarai karena persaingan bisnis.”
Aku matikan TV. Dan melempar remote control keluar jendela. Kukeluarkan beberapa botol minuman beralkohol dari kulkas. Lalu aku mulai menegak gelas demi gelas. Sembari ditemani hati yang luka dan dan linangan air mata.




:: TUMANI[1] ::



Musim panas Agustus 1906
Cahaya rembulan memendar melebar seluas jangkauan sayap langit. Tanah di mana terung[2] kami berdiri terkena pula tempiasnya. Meski pohon mangga yang rindang membentang ranting untuk menghalang. Dua obor yang bergelayut pada tiang perteduhan dirampas tugasnya. Sehingga faedahnya seolah tak ada sama sekali. Semua kami berdiam diri di luar menanti bunyi burung yang kerap jadi pembawa pesan Opo Kasuruang Wangko.[3]. Jangkrik tak satu pun berderit. Nyamuk enggan bertengger di tubuh kami. Walau hanya sekedar mencium darahnya. Seolah ingin pula menjadi saksi sejarah cikal bakal awal cerita berdirinya sebuah wanua[4]di lembah antara gunung Lolombulan dan Sinonsayang. Sudah beberapa hari kami di sini. Namun jawaban yang ditunggu tak kunjung mendekat. Untuk menjawab harap yang telah memanjat menembus angkasa.
Kami semakin resah. Bukan karena dofoma[5]kian berkurang. Itu bukan persoalan sama sekali. Area di mana kami menapakkan kedua kaki, menjamu kami dengan berkat melimpah. Yang membuat gelisah adalah bunyi sembilan kali yang dinanti dari wala[6] belum terdengar. Kami bingung. Di Mawale,di mana kawok[7] dan kalowatang[8] berkerumun pun tak diiyakan.  Seminggu kami menunggu di sana. Sulit memahami pikiran si Yang Maha Kuasa. Tempat-tempat yang kami anggap layak untuk pemukiman seolah ditolak menta-menta. Padahal dekat dengan sumber air, tanahnya datar, subur dan kaya akan binatang buruan. Mengapa? Apakah karena ini tanah adalah punya orang-orang Mongondo sehingga kami dihalang menetap di sini? Bukankah Tuhan juga menjadi saksi bahwa tanah yang membentang dari sungai Ranoiapo hingga sungai Poigar telah dijadikan mahar raja Loloda Mokoagow ketika dia meminang putri Tontemboan dari Tombasian? Atau karena tanah ini telah digariskan untuk tidak dimukimi sehingga dua ratus tahun lalu ditinggalkan oleh leluhur kami? Apakah upaya tumondei[9] kami tak direstui karena Tuhan mendengar keluhan orang-orang Mongondo? Atau kami sedang diajar Tuhan tentang kesabaran...
***
Satu hari sebelumnya…
“Sia ke’[10] ,” kata Timporok kepada dua rekannya yang lain, “sa sia, cawana em painde’ na[11].”
Muntuuntu dan Wongkar tak begitu setuju. Kendati begitu mereka berdua dapat diyakinkan. Sebab riwayat sisilah keluarga telah diuraikan secara gamblang. Tambah lagi Mogogibung memang siap dijadikan rages, tumbal. Sebab baginya kematiannya adalah kehidupan bagi banyak orang. Baginya, bila pengorbanan diperlukan, maka biarlah dia orang yang pertama yang menjadi sukarelawan. Sebenarnya Timporok tak tega juga bila orang yang sedarah dengan dia disembelih di atas mesbah di depan matanya sendiri. Benak dan nuraninya bergejolak. Mengapa Opo si nimema en tana’ wo langit[12] memberikan permintaan yang tak masuk akal? Apakah tak ada cara lain untuk menguji iman dan kesetiaan kami? Kami tak habis pikir dengan tingkah laku Opo Wananatas[13]. Tapi apa boleh buat. Kami hanyalah ciptaan. Mendengar dan melakukan adalah tugas kami. Bila nuwu[14] sudah terucap, tiada lain selain taat.
***
Seminggu kemudian…
Satu malam sebelum upacara tumani pada Agustus 1906…
Mogogibung seorang diri duduk di atas sebatang kayu. Doa-doa ungkapan ketaatan telah dipanjatkan. Dia kian yakin dengan keputusannya. Matanya tak bergeser dari perapian di depannya.  Hangat rembesan api memberinya ketenangan sukma yang tak terselami. Malam ini akan jadi malam terakhir dia dan para tonaas semeja makan. Malam ini akan jadi malam terakhir ia mencium bau saguer[15], nasi dan daging tikus yang punya aroma mistis. Akhirnya waktu telah tiba. Waktu untuk membuktikan ketulusan, menjawab panggilan kemanusiaan dan awal perjalanan menuju kasendukan[16] di mana para leluhur yang berbuat baik semasa hidupnya bersemayam dan melantunkan madah memuji kebesaran Opo Kasuruang.
Di kejauhan nampak cahaya mendekat bersamaan dengan suara ramai orang berbincang riang. Mogogibung tetap berusaha tenang. Meski kedatangan mereka bermakna maut bagi dia. Dia tahu bahwa rombongan datang membawa kabar baik. Kabar tentang di mana lokasi pelaksanaan upacara tumani akan digelar dan di mana proses sumoring[17] hendak dilaksanakan. Dia pun membayangkan jalannya upacara yang penuh khidmat dan khusyuk diselenggarakan. Tembang-tembang puitis Minahasa tua diiringi melodi seruling dilantunkan. Silsilah keluarga sedari masa makarua siow, makatelu pitu, pasiowan telu[18] dilisankan. Pidato-pidato nubuatan tonaas[19] dan waliang[20] dituturkan. Tarian-tarian mistis dipertunjukkan. Dan rencana-rencana masa depan dikumandangkan. Dan bunyi manguni diperdengarkan bersamaan dengan siow lentu’[21] diisi ke dalam kurek[22]. O betapa elok dan rancak suasana itu. Alangkah syahdunya peristiwa itu. Sungguh beruntung mereka yang dapat langsung menyaksikannya!
Makanan dan minuman yang dibuatnya ditengoknya sekali lagi. Uap masih menjulang naik menembus daun pisang yang dipakai sebagai penutup. Semua telah tersaji di atas meja bambu.
“E tuama. Remepet mi’i. Tulungeng kami mangkai si anio[23],” teriak Wongkar dari kejauhan.
Mogogibung bingung. Adakah yang sakit? Atau adakah yang celaka? Benda berat apa yang sedang mereka bawa? O Amang Kasuruang copus mi’i kami[24]. Gumannya dalam hati.
“E tuama. Morakem. Co weta’ wo’o e[25].” Ini semakin membuat Mogogibung bingung. Apa yang mereka bicarakan? Segala menjadi jelas begitu seekor piton sebesar batang pohon kelapa dibentangkan di depan Sabua. Ternyata ular yang lebih dikenal dengan sebutan patola itu telah dikirim oleh Opo Kasuruang menggantikan Mogogibung. Itu adalah wujud cinta dan sayang-Nya. Sebagai imbalan dari ketulusan dan kerelaan serta kebersihan hati setiap mereka.
***
Upacara tumani pada Agustus 1906…
“O Amang Kasuruang Wangko si nemema en tana’ wo langit. Turu’an mi’i eng lalang rondor. Kengsya eng kalambot,  eng kawangker, eng kakemel en ule’ anio’, keleistyu eng kamang an do’ong anio’. Keleistyu en tou ma’awes. Keling-keling eng kamang wo itayangange eng kawenduan. O Empung…O royor[26].”
Matahari bersinar cerah. Namun kulit tak tersengat. Hanya pelu-pelu yang nampak menetes dari dahi sang waliang. Sambil memegang tawaang[27] dan kendem[28] dia bersabda. Acara berlangsung lama namun tak satupun kami jenuh. Makan minum bersama menjadi ujung dari upacara. Semenjak itu orang-orang ber-mapalus[29] merombak hutan untuk membuka lahan perkebunan. Berhari-hari, berminggu-minggu dan bertahun-tahun. Hingga akhirnya nyaris tak tersisa lagi area hutan untuk dibuka oleh generasi berikutnya. Dan wanua kami pun diberkati secara melimpah seperti termaktub dalam nuwu para tonaas. Dan kami sepakat menamai udik kami dengan Tinondeian[30]. Jusof Wongkar pun ditunjuk menjadi perewis[31].
***











[Ditulis 27 April 2013. Terinspirasi oleh  cerita yang dituturkan bapak Reine Mogogibung. Tapi cerita ini dikategorikan sebagai fiksi karena telah mendapat sentuhan rekaya imaginasi penulis]



[1] Upaya mendirikan sebuah perkampungan. (Bhs Tontemboan)
[2] Gubuk. Kata ini digunakan secara bergantian dengan kata sabua. (Bhs Tontemboan)
[3] Tuhan Maha Kuasa (Bhs Tontemboan)
[4] Kampung. Kata ini dipakai secara bergantian dengan kata ro’ong. (Bhs Tontemboan)
[5] Bekal, persediaan makan
[6]Sejenis burung. Sering dipakai secara bergantian dengan kata manguni. Burung ini diyakini oleh orang Minahasa sebagai perantara Tuhan dan manusia - pembawa pesan dari Tuhan. Itulah yang melandasi sehingga GMIM menggunakannya sebagai lambang gereja. (Bhs Tontemboan)
[7] Tikus (Bhs Tontemboan)
[8] Babi hutan (Bhs Tontemboan)
[9] Mencari kembali. Dari kata inilah nama desa Tondei. (Bhs Tontemboan)
[10] “Dia saja”. (Bhs Tontemboan)
[11]  “Kalau dia berani”. (Bhs Tontemboan)
[12]  Tuhan yang menciptakan bumi dan langit. (Bhs Tontemboan)
[13]  Tuhan. (Bhs Tontemboan)
[14]  Sabda/firman. (Bhs Tontemboan)
[15]  Tuak. Air nira. (Bhs Tontemboan)
[16]  Surga. (Bhs Tontemboan)
[17] Meniup suling. (Bhs Tontemboan)
[18] Nama rumpun keturunan Toar Lumimuut. (Bhs Tontemboan)
[19] Pemimpin. Secara harafiah berarti orang berotak (Tou nga’asan) atau orang yang memiliki pendirian yang keras dan keunggulan dalam pengetahuan tentang cara membuka lahan perkebunan, pandai mendengar bunyi burung dan mengartikan tanda-tanda, memiliki jimat yang sakti dan lain-lain. Biasanya tonaas adalah orang yang dituakan dan dapat dijadikan teladan dalam perilaku, prinsip, iman dan tutur kata serta dalam menjaga warisan dan menerapkan nilai-nilai yang telah diajarkan leluhur. (Bhs Tontemboan)
[20] Memiliki kemampuan seperti tonaas. Namun biasanya lebih mahir dalam memimpin upacara adat dan ilmu pengobatan. (Bhs Tontemboan)
[21] Sembilan patahan lidi. (Bhs Tontemboan)
[22]  Sejenis belanga yang terbuat dari tanah. (Bhs Tontemboan)
[23]  “Hai lelaki. Bergegaslah. Tolong kami untuk mengangkat ini. (Bhs Tontemboan)
[24]   Oh Tuhan kasihanilah kami. (Bhs Tontemboan)
[25]  “Hai lelaki. Cepatlah. Sebenarnya kamulah.”
[26] “Oh Bapa, Tuhan yang besar yang menciptakan bumi dan langit. Tunjukkanlah jalan yang benar. Sebagaimana panjang, besar, dan gemuknya ular ini, begitulah kiranya berkat untuk kampung ini. Begitulah kiranya banyaknya orang yang bertambah di kampung ini. Limpahkanlah berkat dan jauhkanlah kesukaran. O Tuhan…” (Bhs. Tontemboan)
[27] Sejenis tumbuhan. (Bhs. Tontemboan)
[28] Sejenis tumbuhan. (Bhs. Tontemboan)
[29] Bergotongroyong. (Bhs. Tontemboan)
[30]  Dicari kembali. Nama ini hanya bertahan selama dua tahun. Pada 1908 Tumondei diakui sebagai dusun jauh dari Raanan Baru. Dan namanya berubah menjadi Tondei. (Bhs. Tontemboan)
[31]  Wakil Ukung Tua. Pada 1914 desa Tondei berdiri sendiri sebaga satu desa. Setahun kemudian dipilihlah seorang pemuda (belum menikah) yang bernama Demas Kawengian menjadi seorang Ukung Tua. (Bhs. Tontemboan)

::GULA-GULA ::



Sesampai di terminal Karombasan, cepat-cepat aku naik ke bus dan mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela. Karena matahari sangat terik kubuka sedikit jendela agar udara segar bisa masuk. Walaupun sebenarnya udara segar itu sudah sedikit tercemar oleh bau pesing dan sisa makanan yang dibuang secara sembarang di selokan. Beberapa anak dan lelaki dewasa bergantian menempel di kaca jendela untuk memamerkan jualannya. Diselingi rayuan-rayuan kecil nan lucu yang sudah usang. Mereka menjual buah kadondong yang telah dicelup dalam gula selama semalam. Aku paling tidak suka membeli yang manis-manis di kala matahari penuh dendam membakar. Tak banyak pemandangan indah bisa dinikmati di terminal ini. Bus yang telah berdempetan seperti ikang roa menghalangi pandangan mata yang mencari-cari sesuatu yang bisa menyebabkan kita panjang umur.
Karena panas kian tak tertahan kucabut koran yang aku tohokkan di saku samping tas punggungku. Kubalik-balikkan koran mencari berita yang mampu mengusir kegerahan dalam bus bak oven pemanggang. Kalau waktu dalam oven ini diperpanjang lagi pasti semua penumpang akan tafufu seperti ikan cakalang. Koran yang sedang kubaca sesekali kualihfungsikan sebagai kipas. Kondektur masih terus meneriakkan nama kampung asal Om Sam Ratulangi. Tondano menjadi begitu murah di terminal Karombasan karena diteriakkan berkali-kali menyaingi sebungkus kacang dari mulut para tunanetra. “Tondano…Tondano…Tondano,” kata kondektur.
Semua  penumpang makin gelisah. Semua kami menjadi cacing kepanasan yang meliuk-liuk dalam panggangan. Kesabaran. Yang dibutuhkan dalam keadaan seperti itu hanyalah kesabaran. Sebab tak mungkinlah kami turun mencari angin terlebih dahulu. Orang lain akan sangat senang mengganti posisi kami.
“Tondano…Tondano! Satu lei”
Tak sengaja mataku tertuju ke depan. Seorang gadis bertubuh tinggi dengan rambut terurai berdiri di pintu bus memindai setiap kursi. Akupun ikut memindai. Beberapa kursi masih kosong. Di sebelahku juga masih kosong. Mata kami bertemu selama tiga detik. Gadis itu bukan main cantiknya. Dia adalah representasi gadis Minahasa yang sempurna secara fisik.
Karena tak ingin harga diri jatuh, aku menunduk berpura-pura melanjutkan membaca. Potret gadis itu tersimpan dalam benak. Dia berkaos merah dan celana jins panjang hitam. Wajahnya mirip Dian Sastro. Aduhai! Bilamanakah seorang lelaki kampungan seperti saya bisa mendapat seorang gadis seperti Dian Sastro.Mimpi kali ye!
Tak beberapa lama kemudian seseorang telah duduk di sampingku. Tak berniat aku menoleh sedikitpun ke samping. Sungguh tak sopan bila harus bertemu muka dengan jarak yang teramat dekat. Aku bergeser sedikit ke jendela. Leher yang mulai keram perlu sedikit rileks. Jadi, kusandarkan sejenak kepalaku di kaca jendela. Seketika itu sang sopir menghidupkan mesin. Badan buspun sedikit gemetar sehingga kepalaku terbentur kecil-kecil di kaca jendela. Lama-lama rasa kantuk mulai datang. Orang yang duduk di sebelahku rupanya juga mengalami gejalah yang sama. Kepala orang yang duduk di sebelahku bergerak maju mundur seperti tak terkontrol. Rupanya kantuknya lebih parah dariku. Saat kesadaranku sedikit menghilang, terasa ada yang menepuk-nepuk bahu. Awalnya kuanggap tepukan itu dilakukan secara kebetulan. Biasanya orang yang memuat barang di bagasi atas kepala secara tak sengaja menyangkutkan barang pada penumpang terdekat. Lama-lama tepukkan itu makin keras dan mulai agak kasar. Dengan sedikit kesal aku menoleh ke arah yang mengusik itu. Ya ampun! Dian Sastro rupanya yang menepuk-nepukku. Aku tersentak senang. Ternyata Dian Sastro mau juga menyentuh seorang lelaki kampungan ini.
“Cowo, bole pinjam bahu?” tiba-tiba Dian Sastro bicara.
Aku kaget setengah mati. Apa aku mimpi di siang bolong? Mana mungkin Dian Sastro mau meminjam bahuku. Jangankan meminjamkan, memberikan untuk selamanya pun aku rela.
Kutarik nafas dalam diam-diam. Kupandangi Dian Sastro dengan sedikit pongah dan kuanggukkan kepada sebagai tanda memberi izin agar bebas menaruh bahunya di pundakku. Jantungku yang berdebar kutakhlukan agar tak liar. Badanku yang mulai gemetar segera kukuasai. Dian Sastro akhirnya mendaratkan pipi kanannya ke pundakku.
Orang yang duduk di kursi belakang dan depan serta samping pasti takkan percaya bahwa dia bukan kekasihku. Kemesraan ini jangan cepat berlalu. Aku berharap bus meluncur dengan kecepatan kurang dari 40 km per jam. Aku juga berharap bus ini mogok di area penginapan Makatembo Tinoor. Pasti suasana di situ akan menambah keromantisan Dian Sastro dan aku.
Tapi rupanya sopir cemburu dengan kemesraan ini. Lari bus tak terkendali. Hampir mencapai 80 km per jam. Jalan yang penuh dengan kelok tak dipedulikannya. Berkali-kali Dian Sastro terhuyung-huyung membentur punggung kursi depan. Dalam setengah tidur Dian Sastro merapat lebih dekat.  Dipeluk erat lenganku. Dalam diam aku salah tingkah.
Dalam diam aku bertanya-tanya, “Kenapa gadis ini berani meminjam bahu seseorang yang tak dikenalnya?” Mungkin hal ini adalah sudah biasa bagi dia. Gadis ini mungkin kecapean karena semalam bekerja sebagai seorang penari telanjang di suatu tempat hiburan malam di pusat kota. Barangkali goyangan-goyangan aduhainya begitu menguras tenaga si keke. Atau, mungkin semalam dia melayani beberapa pelanggan yang tak punya hati, tak memberinya jedah. Dipakai kala ganti oleh pelanggan yang umumnya orang-orang penting yang lelah berdebat sepanjang hari untuk memperebutkan proyek atau jumlah anggaran untuk studi banding mereka ke Bali atau Singapura. Gadis belia ini mungkin hendak melepas penat di kampungnya dekat danau Tondano.
Bus kini sudah memasuki kota Tomohon. Sejurus kemudian muncul perasaan tak sedap. Ya Tuhan! Sungguh tak tahu diri. Kenapa aku asyik saja dengan seorang gadis hingga lupa sama sekali ada seorang gadis lain yang dengan setia menungguku di kamar kos. Celaka. Aku bisa celaka!
Kupindai lagi kursi-kursi yang telah berpenumpang. Mencuri-mencuri pandang kalau-kalau ada yang kenal aku. Gawat. Bisa kualat! Sofli pasti takkan senang tahu aku bermesraan dengan seorang gadis di dalam bus. Tempat umum.
Perasaanku kini campur aduk. Sentuhan-sentuhan Dian Sastro kian mengancamku. Tentu Sofli takkan sudi mendengar lagi penjelasan bila aku tertangkap basah olehnya atau oleh kawan terpercayannya. Makin bus mendekati Tondano jantungku kian melompat tak karuan. Dinding dada serasa mau jebol. Dian Sastro tiba-tiba bangun. Diperbaiki wajahnya. Dia memandangiku. Mungkin ingin tahu betul rupa seorang malaikat yang meminjamkannya sebuah bahu. Aku balas tersenyum, “puas kau tidur Kek,” kataku dalam diam.
Dian Sastro merogoh saku jinsnya. Terdengar suara gemerisik.
“Suka gula-gula?” gadis ini memiliki senyum yang indah. Sungguh aku takkan menolak bila nanti dia memintaku meminjamkanya bahu lagi.
Hingga kini aku tetap jaim. Tak sedikitpun kunampakkan bahwa aku sangat terkesan dengan kelakuan beraninya. Dalam hati aku bersyukur pada ilahi yang telah mengirim seorang gadis pengusir penat dalam kebisingan raungan bus sepanjang perjalanan Manado-Tondano.
Ingin sekali aku meminta nomor ponselnya, namun kulempar jauh-jauh keinginan itu. Tak mau aku keadaan yang tadinya indah akan rusak oleh kecerobohanku yang kekanak-kanakkan.
“Muka om!”
Kuturun dari bus tanpa mengucap sepatah kata pun pada gadis peminjam bahu. Dia juga enggan bicara. Sudah cukup dia menahan malu karena telah lancang meminjam bahu seorang yang tak dia tahu sudah menikah atau belum. Hanya nalurilah yang membuat dia yakin bahwa aku masih bujangan. Dalam hal itu dia tak salah.
Ketika bus sudah menjauh aku tersenyum puas. Dalam diam kuucapkan, “Selamat jalan Dian Sastro. Semoga kamu tiba dengan selamat sampai tujuan. Biarlah hal itu menjadi rahasia kita berdua. Perhatian singkat yang aku beri adalah tulus. Sesekali kunjungilah aku dalam mimpi.”












:: TAK SAMPAI TETEWATU[1] ::


Kami telah bersepakat untuk menikmati hari libur Idul Fitri  di tempat yang tak lumrah. Biasanya kami pergi ke pantai. Mendengar suara gulungan ombak, dan melihat riak-riak nan indah ketika air ditiup angin-angin kecil. Bahkan, tidak jarang alasan kami pergi ke pantai adalah untuk untuk mencicipi rasa asin air yang tergenang dalam kubangan yang begitu luas tersebut. Itu adalah kebiasaan orang-orang kampung, yang biasa dicap udik, ketika turun gunung. Padahal orang yang tinggal di pesisir pantaipun kelihatan lebih udik lagi ketika mereka pergi ke desa kami yang ada lereng-lereng bukit demi melihat monyet-monyet yang punya kemiripan dengan mereka.
Kami menikmati hari libur Idul Fitri bukan karena kami pengikut Muhammad. Kami pengikut Yesus dari Nasaret. Kejenuhan kami pergi ke pantai dikarenakan selama dua tahun ini pantai selalu menjadi tujuan wisata kami. Akibatnya kami hampir lupa bahwa di sekitar kampung kami juga terdapat situs indah. Namanya Tetewatu1.
Perjalanan ke situs itu cukup jauh dengan medan yang sangat menantang. Tapi, tak satupun anggota pemuda kami yang mengeluh soal ini.
Dalam rapat, sehari sebelumnya, kami telah bersepakat untuk berangkat jam 08.00 pagi.   Saat aku menanyakan baik-baik apakah mereka bisa melaksanakan keputusan itu dengan baik, semua tiada menunjukkan tanda-tanda penghianatan pada keputusan. Akupun teryakini dengan itu. Walaupun awalnya ada keraguan. Ini karena mereka selalu saja tidak tepat waktu dan sering melanggar setiap hasil musyawarah yang kami buat pada waktu lalu.
Besoknya aku bangun pagi sekali. Ibu sangat baik padaku. Bekal untuk seharian aku telah dia disediakan. Ada nasi kaboro[2] dengan lauk yang unik, tikus yang disaus. Mulutku jadi bergidik saat mencium aroma enak dari lauk khusus itu.
Sayapun siap. Bekal sudah ku taruh di atas meja. Lengkap dengan sebilah parang untuk menebang kayu sebagai pembuka jalan saat masuk di belantara kelak. Bisa juga sebagai jaga-jaga jangan-jangan ada serangan ular tiba-tiba.
Kami setuju untuk berangkat bersama.
Sudah hampir jam delapan, tapi tak satupun daribantara teman-temanku yang muncul. Aku keluar dari rumah dan melihat ke langit bagian timur. Hitam pekat. Gelap!
“Akan hujan lebat sebentar lagi,” gumamku dalam hati
Melihat kondisi seperti ini, aku ragu akan kedatangan teman-teman itu.
Tak sampai 5 menit langitpun kembali menyingkapkan matahari yang ditawannya.
“ Ada harapan kami bisa berangkat,” kataku bahagia.
Sejurus kemudian datang beberapa teman lelaki. Tak satupun yang membawa jinjingan. Mungkin kedatangan mereka untuk memberitahukan bahwa mereka tak bisa bergabung dengan tim.
“Mau pergi tidak? Kok datangnya telat,” tanyaku protes.
“Oh tentu tentu kami akan pergi. Kami tak mungkin melewatkan kesempatan menjadi penjelajah bersamamu ketua. Awalnya kami memang ragu sih,” kata Tamber separuh bergurau.
“Mana bekal kalian? Selalu saja begitu…Kalian tak takut mati kelaparan di sana nanti?”
“ Salah satu dari kami kan pernah jadi Tarzan. Tak ada yang perlu dirisaukan. Hero pernah berkawan dengan monyet cukup lama. Pasti akan ada yang membantu kami saat lapar. Hero tinggal menaruh kedua telapak tangannya dekat mulut dan auwoooooooo!”
“ Hahahhahahha.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Ngomong-ngomong, mana yang lain? Maksudku para gadisnya. Kan tidak seru kalau yang pergi hanya lelaki saja?”
“Shila, katanya akan ikut. Memei….tidak tahu. Tak pasti.”
Tak sampai seperempat jam kemudian pasukanpun telah bertambah. Matahari kini semakin nampak dan mulai menggigit. Kulihat jamku. Sekarang jam 08.30.
“Huh…Kita sangat jauh dari rencana,” kataku kesal.
Setelah semua telah terkumpul di rumahku, kamipun berdoa. Sehabis anggota dihitung, kamipun mulai bergerak lambat ke arah barat. Tujuan kami adalah situs yang bernama Tetewatu.
Pergerakan yang cukup lamban. Senda gurau pun menemani langkah-langkah mungil kami.
Belum sampai setengah kilo meter, kulihat Toar berlari kearah berlawanan dengan arah tujuan kami.
“Kau mau kemana, Toar?”
“Aku lupa sesuatu!”
“Lupa apa?”
“Alkitabku tertinggal di atas meja. Di rumah kamu.”
“ Dasar! Kecil-kecil, sudah pikun. Kalian bisa jalan terus. Tak perlu tunggu aku. Aku bisa nyusul!”
“Tapi kamu tahu tidak jalan ke Tetewatu?”
“  Tenang ketua, aku bisa menyusul kalian sebelum di persimpangan jalan.”
“ Ok, kalau begitu.”
“Cepat ya. Jangan buat kami menunggu terlalu lama!”
Kamipun melanjutkan perjalanan.Tapi langkah sengaja lebih ku perlambat. Supaya Toar bisa mengejar kami. Teman-teman lain sudah berada jauh di depan. Mereka sekarang sudah tak kelihatan. Sudah dilumat belokan.
Sesampai dipersimpangan, Toar belum muncul. Sudah 15 menit di situ tapi kami hanya berdiri saja. Dia tak juga menampakkan batang hidungnya. Saya dan kekasihku terpaksa harus siap-siap diserang penyakit farises.
Apa boleh buat. Harus kami tunggu.
Sesuai kesepakatan kami wajib jalan bersama supaya hal-hal yang tak diinginkan tak terjadi.
Lama-lama kamipun bosan berdiri di persimpangan seperti menunggu-nunggu ojek. Kami putuskan untuk lanjutkan perjalanan.
Dengan demikian, anggota kami tidak lagi 18 orang. Sekarang kami tinggal 17 orang. Toar tidak tahu menahu jalan ke Tetewatu. Tapi, dia bersikeras untuk tak ditunggui. Kini lihat akibatnya.
“ Oh Toar yang malang! Sungguh sangat disesalkan kamu tak akan termasuk dalam kelompok pemuda yang pertama melaksanakan ibadah wisata di Tetewatu. Namamu takkan tertulis dalam sejarah,” kataku seperti mengucapkan puisi.
Langkah kini kami percepat. Harus menyusul teman-teman yang lain. Masih banyak persimpangan jalan di depan. Kelompok yang terpisah-pisah akan tersesat nantinya.
Langkah semakin ku percepatan.Kian cepat. Kekasihku mengeluh. Kakinya mulai belas. Aku seperti tak begitu peduli. Ku jelaskan alasan logisku. Dia tampak tak puas dengan penjelasanku. Wajahnya jadi cemberut. Tanda-tanda ketuaan tersingkap. Padahal umurnya baru 19 tahun. Benar kata orang:“ Marah-marah cepat beking tua.”
Ku perlambat langkah. Ku jemput dia. Ku raih tangannya. Ku berikan satu kecupan manis. Ada senyum tersungging di sudut bibirnya. Sangat mudah ternyata menjinakkan seorang singa betina muda.
Memang kecupan lebih bermanfaat  daripada rentetan kata yang panjang. Kecepatan langkah kami berdua kini selaras. Gara-gara begitu kami sekarang berada di belakang teman-teman yang tadinya di depan. Dengan jarak hanya 20 meter. Ternyata mereka juga  memperlambat langkah demi menunggu kami. Mereka kini berpeluh. Beberapa dari para gadis manis mulai mengeluh. Para pemuda setengah bayapun ikut-ikutan. Maklum mereka bukanlah petualang sungguhan sepertiku.
“ Wah enaknya jalan berdua sang pujaan hati. Kami jadi irih. Frengki, mau tidak kamu jadi pasanganku? Sehari ini saja.”
“ Tidak mau ah… Najis!”
Gelak tawapun meledak seperti ledakan bom Marriot yang menewaskan beberapa warga Negara asing. Untung saja bomnya bukan bom betulan. Nasib kami tak jadi seperti WNA yang tewas mengenaskan. Yang menyebabkan hubungan Indonesia dan Australia sempat memanas.
“ Woi…..tunggu! Aku di sini.”
Serta merta semua kami berbalik melihat mencari-cari asal suara. Ternyata si Toar. Badannya berguncang-guncang. Ngos-ngosan. Pakaiannya kini basah.
Dia menyusul kami dengan berlari. Sambil membawa bekal makanan berkuah yang kini terlihat sedang meleleh. Bau tumis membuat kami lapar. Tapi perjalanan belum separuh. Bukan kebiasaan yang baik makan sebelum sampai di tempat tujuan. Pantang buat kami. Itu pesan apo-apo[3] kami.
Tak sampai 10 menit. Kami tiba di perkebunan Aser. Para lelaki mulai berteriak. Memanggil-memangil Anto, Yanli dan dua gadis yang mereka gonceng di motor mereka. Kami sudah bersepakat ditunggu di tempat itu. Semakin keras kami berteriak. Tapi tak ada sahutan.
“Sekarang kita sudah di sini. Selanjutnya kita mengambil jalan yang mana? Ke kiri, ke kanan atau lurus saja?” tanyaku.
“Lurus boleh. Tapi jauh. Kalau mau cepat seharusnya kita lewat jalan Punti2. Bukan di sini,” Jawab si Ading berambut harajuku itu.
“Loh kok kami tak dibilang tadi?”
“Ya…ku pikir tak perlu lagi. Kita kan sudah buat kesepakatan bahwa teman-teman yang datang dengan sepeda motor tunggu di sini.  Jadi ku ku simpulkan kita akan memilih jalan lurus,” katanya dalam ketidakpastian.
Sewaktu aku berdebat dengan Ading, ku lihat Toar mengambil jalan ke kanan. Akupun jadi berkesimpulan kita semua akan ke kanan. Bingung!
Aku mulai berjalan searah dengan Toar. Membuntutinya.
Ading datang mencegah. Toar pergi semakin jauh. Kami berjalan kearah lurus. Bukan ke kiri atau ke kanan. Kami berusaha memangil si Toar. Seruan kami tak dihiraukan. Dia lupa akan kesepakatan bahwa kami tetap harus bersama. Seyogianya tak ada yang jalan sendiri. Kami terus berseru memanggil. Diapun membalas namun suaranya makin memudar. Keras kepala! Dia pikir dia telah mengambil jalan yang benar. Kini suaranya tak terdengar lagi. Kami putuskan untuk teruskan perjalanan. Lurus kedepan. Lewat sungai besar. Beberapa teman gadis ada yang takut melintasi sungai. Terpaksa kami temani lewat sisi lain. Melalui jembatan darurat. Ya kami mengambil  alternatife jalan di jembatan kayu.
Kami masih menunggu susulan Toar. Sampai sekarang dia tak kelihatan. Dasar keras kepala! Daripada stres saya putuskan untuk berhenti merisaukannya. Kami jalan terus. Naiki lereng yang curam.Turuni lereng yang miring. Naiki bukit miring.Turuni lereng yang terjal.
Tak lama kemudian terdengar bunyi aliran air yang deras.
“Itu pasti sungai Tetewatunya,” seruku dengan riang yang tak tertahan.
Hati mulai berdegup-degup.Tak sabar kami untuk melihat buatan tangan Tuhan yang elok. Seelok eden di mana Adam dan Hawa jatuh dalam dosa.
Berharap sesampai di sungai, Tetewatu persis di depan mata. Ternyata tak seperti itu.
Kini si Ading sang pemandu mulai berjalan di depan kami.
“Kita harus menyusuri sungai. Kita akan mengikuti arus. Kemana air sungai ini mengalir, ke sanalah kita. Dia akan membawa kita ke tujuan kita,” kata remaja tanggung berambut pirang karena dicat itu.
Kami menaruh kepercayaan penuh padanya. Walaupun awalnya ada sedikit keraguan.
Tiba-tiba wajah Toar terbayang.
“Kira-kira dia di mana ya,” bisikku dalam hati.
Sebagai  pemimpin rombongan aku punya tanggungjawab atas keselamatan dia. Bagaimana kalau dia hilang. Tentu orang tuanya akan menuntut padaku. Aku berharap dia benar. Mungkin dia sudah tiba di Tetewatu. Sebab itu yang dia mau.
“Dia nekad mengambil jalan ke kanan karena dia yakin itu adalah jalan yang akan mengantarnya ke Tetewatu dan tentu mendahului kedatangan kami ke Tetewatu.”
Aku dan gadisku terus berjalan membuntuti teman-teman. Sungguh petualangan yang hebat. Hujan mengguyur dengan cekatannya. Tubuh kami basah kuyup oleh hujan dan air sungai karena sudah beberapa kami tercebur karena terpeleset pada batu-batu yang berlumut.
Di belakang kami ada sepasang kekasih.Tampak mereka saling menjaga. Tangan mereka tak bisa lepas satu sama lain. Pasangan yang serasi. Mereka masih kuliah tapi mungkin bulan depan mereka akan segera menikah.
Aku dengar si wanita sudah berkali-kali mendesak sang lelaki supaya cepat melamarnya. Si lelaki masih menolak secara halus.“Belum ada uang”, katanya.Ya memang di jaman sekarang serba mahal. Supaya bisa menikah, kita harus punya sedikitnya 20 juta. Aku sering bertanya: “ Untuk apa? Apakah perempuan sebegitu rendahnya sehingga  dibayar seperti barang? Tak pentingkah cinta lagi sehingga perkawinan didasarkan pada harta belaka?”
Jaman sekarang memang semakin materialistik. Anak perempuan sendiri dijadikan barang komiditi. Tidak sedikit orang tua yang door to door menawarkan anak perempuan mereka pada orang-orang berduit. Banyak yang berminat, tapi selalu saja memberikan penawaran. Calon pembeli selalu bertanya. Tidak jarang pertanyaan itu merusakkan pendengaran.
“Aku mau beli. Tapi, anakmu terbuat dari apa? Apa benar-benar buatanmu atau orang lain? Terbuat dari apa? Tepung atau beras? Sudah berapa calon pembeli yang mencolek-colek? Apa anakmu sudah pernah dicicipi? Isinya?Unti atau daging?”
Sungguh tak ubahnya seperti percakapan dalam pasar tradisional. Ada penjual ada pembeli.
Pasangan kekasih seolah tak punya hak menentukan hidup mereka. Padahal, yang akan menjalani penderitaan hidup adalah mereka. Kenapa mereka tidak diberikan kebebasan memilih dengan siapa mereka menderita dan bahagia?
“Hidup adalah penderitaan,” kata Budda.
“Hidup adalah kesia-siaan adanya. Berbahagialah mereka yang tak pernah dilahirkan,” keluh Salomo.
Kecenderungan sekarang adalah bagi pasangan yang sudah cinta mati, mereka lebih memilih kawin lari saja. Atau kalau tidak, si lelaki menghamili si gadis sebelum nikah. Supaya harga komoditinya berkurang atau tidak dibayar sama sekali. Karena malu, sudah bunting, orang tua si gadis suruh pasangan itu cepat-cepat kawin biarpun si lelaki hanya gembel.
“Pili-pili dapa langsa busu[4].” kataku sini dalam hati, “Ah… kenapa pikiranku sampai memikirkan itu?”
Sungguh mengejutkan! Kami sekarang berada tepat di depan Tetewatu.
“Gerbang air yang luar biasa!”
Semua yang telah tiba lebih dulu tampak gembira menikmati kemolekan situs hasil karya ilahi itu. Lekuk-lekuk badannya tampak sempurna hingga buat kami bergidik. Layaknya para lelaki memandang span-span[5] yang lengak-lengok. Setiap mata melotot memandangi ketelanjangan Tetewatu. Dia masih perawan. Kamilah sang pengambil kesuciannya.
Tak lupa kami mengambil beberapa gambar kami sendiri secara bersama. 15 menit kemudian kebaktianpun dijalankan. Semua begitu kusyuk ibadahnya. Kami bersembahyang dan menyanyi di tempat eksotis ini. Rembesan air yang menyejukkan wajah menambah romantis suasana.
Lantunan-lantunan puji-pujian kepada yang Maha Kuasa mengema merabai dinding batu. Para makhluk halus bingung dengan gerak-gerik aneh yang berlaku. Mungkin mereka terusik. Mungkin juga mereka keasyikan mendengar lagu pop rohani yang belum pernah terdengar sebelumnya.
 “Ini luar biasa! Ini suatu kemajuan. Kita melihat dunia baru,” kata makhluk halus yang sedikit open-minded[6].
“Tidak! Ini adalah awal dari kehancuran peradaban kita. Aku tak ingin generasi kita suka dengan lagu pop rohani yang biasa membuat anak-anak muda kita berjingkrak-jingkrak seperti orang gila,” kata makhluk halus yang konservatif.
“Hey Konservat, sudah saatnya kita bangkit dan bergerak maju. Kenapa kamu anti dengan pembaharuan, kreatifitas dan kemajuan?”, kata makhluk halus yang Open-minded.
“Itu bukan pembaharuan. Itu hanya emosi yang meluap-luap. Cerminan dari ketidakmatangan.I tu bukan kreatifitas. Itu wujud kejenuhan pada sesuatu yang teratur nan rapih. Itu bentuk adalah pemberontakan.Dan itu bukan kemajuan. Itu adalah penyimpangan. Sesat jalan. Dan jalan itu, suatu saat akan membawa kita pada posisi kita semua. Dan itu bukan kemajuan, tetapi malahan merupakan kemunduran,” kata Konservat.
Toar tak kunjung tiba.
“Di mana dia gerangan? Jangan-jangan, dia telah diterkam binatang buas. Atau mungkin tertangkap oleh Patola[7] yang besarnya seperti batang pohon kelapa itu. Sekarang sudah jam 2 sore. Seharusnya dia sudah tiba di sini setengah jam yang lalu.”
“Teman-teman mungkin sudah saatnya kita pulang,” usul Yanli.
“Bagaimana kita pulang? Apa kita akan kembali menyusuri rute yang kita lewati tadi?”
“Tidak. Kita harus terus mengikuti kemana sungai ini akan membawa kita. Jaraknyapun lebih dekat.”
Sejujurnya aku masih suka berlama-lamaan. Namun, semua kami nampak mulai kedinginan. Setiap tubuh kami berguncang dengan cepatnya. Semakin kami mengeras semakin hebat guncangannya. Tidak heran.Kami sudah disirami selama 2 jam. Tambah lagi hari mulai gelap. Tetewatu kini terasa mulai menakutkan.
“Ayo jalan terus. Tak lama lagi hari gelap.Tak ada yang membawa penerang. Kita harus percepat langkah kita. Kalau tidak…..”.
Semua menjadi ngeri mendengar ajakan yang mengancam itu. Tak ada yang mau bermalam di Lolombulan. Hutan Lolombulan terkenal angker dan sarat dengan linta dan ular yang ukurannya sebesar pohon kelapa. Kami bisa remuk oleh belitan ular.
Kami bisa kehabisan darah oleh gigitan dan hisapan linta-linta buas.
 “Kira-kira,Toar di mana ya? “, aku mulai risau.
“Sudah kubilang supaya tetap bersama. Kenapa sih dia begitu keras hati.Menyusahkan saja!”
Setengah jam kami terbawah hentaran sungai. Kini kami telah berada di area bernama Licu incawayo[8]. Kami berjalan terus.
Sekarang kami sudah di perkebunan Punti. Mampir sebentar di Tampagula[9]. Secara bergantian kami mengambil tombal[10] dari wajan besar. Tombal rasanya bertambah manis karena kami menggunakan tempurungkelapasebagai ganti gelas. Tubuh kami jadi hangat. Rasa dinginpun hilang dan terlupakan.
Sampai sekarang Toar belum terlihat.
Perjalanan berlanjut. Kami menuju perkebunan Aser. Kami harus melintasi Aser lagi karena dua sepeda motor  milik Anto dan Yanli ditinggalkan di sana.
Hanya butuh waktu setengah jam untuk tiba di kampung. Kami tiba menjelang malam.Tak ada orang tua Toar datang menanyakan keberadaannya.
Mungkin dia memang sudah pulang lebih dulu.Dia mungkin batalkan kepergiannya ke Tetewatu karena sakit perut.
Namun, aku lega.
Besoknya, kami bertemu Toar. Dia hanya senyum-senyam dan seperti tak mau mengaku salah. Aku sedikit menunjukkan rasa kesal padanya.Ternyata, dia memang tersesat di tengah hutan. Dia berusaha menyusul kami tapi tak berhasil. Diapun pulang ke rumah saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia juga menceritakan bagaimana susahnya dia berjalan pulang dalam kegelapan. Berjalan seperti tunanetra. Dia terlunta-lunta di perkebunan Punti dan Aser. Berkat iman dan tuntunan ilahilah dia boleh mencapai rumah. Syukur.
***
[Selesai 12 September pukul 23.00]







[1] Batu titian. Situs ini terletak di perkebunan dekat hutan Lolombulan. Orang-orang peminat kodok sering ke tempat inI
[2]Daun yang digunakan untuk membungkus nasi.

[3]Leluhur/orang tua yang telah berpulang kea lam baka yang semasa hidupnya dikenal sebagai orang bijak dan baik (Tontemboan).

[4] Pilih-pilih dapat langsat busuk (Malayu Manado). Peribahasa ini berarti jangan terlalu memilih supaya akhirnya tak mendapat yang buruk.
5 Ketat (Malayu Manado). Sekarang ini istilah tersebut berarti gadis atau wanita yang menarik perhatian karena mengenakan pakaian yang ketat.

[6]Berpikiran terbuka untuk menerima saran dan sudut pandang orang lain.
[7] Ular Piton (Melayu Manado). Juga sering disebut Moromok (Tontemboan)

[8] Punggung kuda (Tontemboan). Area disebut Licu incawayo karena bentuknya menyerupai punggung kuda.
[9]Tempat gula (Melayu Manado). Tempat ini adalah tempat di mana tahap terakhir dalam proses pembuatan gula aren.

[10] Air nira yang sudah di masak (Tontemboan).