Tadi, sewaktu
masih di sekolah, seorang murid melangkah masuk ke dalam kelas yang
murid-muridnya sedang diajar Kris. Tubuh murid itu tergolong ukuran di atas rata-rata
anak-anak yang seumur dengannya. Tingginya juga seperti gadis dewasa yang
sedang menuntut ilmu di universitas. Kulitnya sedikit gelap, namun bersih dan
mulus. Perangainya lembut dan sikapnya santun.
Barangkali pesona
itu yang memberi Kris motivasi, sehingga dia masih senang dan kerasan datang mengajar di
sekolah itu. Padahal, karena melihat gelagat para rekan gurunya yang kurang
disiplin dan pemimpinnya yang bersikap acuh tak acuh dengan manajemennya, Kris
sudah muak berada di sekolah itu.
Pikirnya, “Aku
takkan pernah merubah sesuatu di sana. Malah, aku akan makan hati dan menderita sendiri.
Sedangkan mereka tak menyadari atau mungkin tak perduli sama sekali.”
“ Pak, bole nda,
mo bakotba di ibada OSIS sbantar jam tiga?” si gadis jelita buka suara.
Begitu mendengar
kalimat tanya itu Kris tersenyum. Gadis itu tahu arti senyum itu. Selama ini
Kris memang selalu menolak diajak hadir dalam ibadah OSIS itu. Alasan yang
pertama, dia bukan termasuk guru pembina OSIS. Mungkin orang akan bilang,
namanya guru, ya harus hadir. Kris selalu menampik pernyataan itu dengan,
“Lantas, kenapa kepala sekolah tidak pernah hadir? Dia kan harus memberi
teladan.”
Pokoknya berbagai
alasan selalu dia buat untuk menghindar. Menghindar dari beban kenakalan para
siswa yang makin kurang ajar. Siswa-siswa yang menganggap pertemuan ibadah itu
sebagai ajang membangun cinta monyet dan melampiaskan rasa ingin bergosip.
Apalagi ibadah itu terkesan hanya sekedar rutinitas yang tidak secara serius
diselenggarakan.
“Itu pun kalu
bapak bersedia ya. Mar….kalu nyanda bisa, nda apa-apa.” Kris tak ingin melukis
kecewa dalam dinding hati gadis itu. Tak ingin dia melukai hati sang
motivatornya. Sebab dialah alasan mengapa Kris masih bertahan di sekolah itu.
“Pa sapa pe ruma?”
tanya Kris dengan nada yang lembut. Senyum sinisnya dia buang jauh-jauh. Dia
berharap gadis bicara lagi. Karena baginya, suara lemah gemula gadis itu
melampau merdunya lagu terpopuler sekarang ini. Melebihi suara emas Agnes
Monika dan Dirly Sompi. Kenapa begitu? Entahlah. Kris mungkin ada masalah
dengan istrinya di rumah. Dengar-dengar cerita tetangga akhir-akhir ini istri
Kris banyak tuntutannya. Jadinya mereka sering bertengkar. Bahkan pernah
terlontar kata cerai. Hari-hari sesudah itu mereka meralatnya. Istrinya pasrah
saja. Sedangkan Kris, terpaksa mempertahankan rumah tangganya karena malu
dikatai orang. Sayang pada anak-anak. Tambah lagi harta yang tak banyak mesti
dibagi pula bila cerai harus diwujudkan. Belakangan dia memutuskan untuk
bertahan, bukan karena sakralnya pernikahan seperti senantiasa dikhotbahkan di
gereja. Tapi karena soal untung rugi saja. Secara psikologis yang paling
menderita adalah anak-anak.
“Bole to bapak?
Bole jo kwa,” desak gadis itu dengan mata berbinar.
“Ok. Jam brapa
kote? Jam tiga kang. Ok nanti kita pimpin.” Pandangan mata Kris mengikuti gadis itu sampai dia
menghilang di belakang daun pintu. Mata Kris kini juga turut berbinar. Virus
positif telah menjangkitinya. Semangat itu terus mengikutinya hingga di rumah.
Langsung dia menikmati makan siangnya. Dilanjutkan dengan membaca Alkitab dan
beberapa buku penunjang. Sebagai bahan khotbah, dari Alkitab dia mengambil
cerita berjudul “Hikmat Salomo pada Waktu Memberi Keputusan”. Sedangkan dari
buku favoritnya, Tontemboansche Teksten, dia memilih sebuah cerita yang
berjudul Kukua an doro’ i Tjalowatang wo si Tu’a wo si Wolai.
Dengan jas hujan
merah yang telah bolong di sana-sini Kris menerobos hujan dengan sepeda motor
usangnya. Kakinya cekatan mengayuh pedal sepeda yang umurnya lebih tua sepuluh
tahun darinya. Sepeda itu adalah salah satu warisan ayahnya. Dahulu ayahnya
menggunakan sepeda itu untuk mengunjungi rumah satu dan lainnya untuk memeriksa
orang yang sakit.
Ayahnya adalah
seorang mantri, tenaga kesehatan jaman Permesta. Ayahnya pernah ditugaskan
sebagai tentara tenaga medis. Dia berasal dari negeri seberang. Sebuah pulau
bernama Siau. Dalam bahasa Tontemboan, siow, berarti Sembilan. Itulah sebabnya
ada cerita yang bilang kalau orang Siau itu adalah keturunan Toar Lumimuut.
Raja yang pertamanya adalah cucu deri Apo Lokon atau Tonaas Pinontoan. Dia
beribukan Abunia seorang wewene Minahasa. Namanya pun sangat Minahasa,
Lokongbanua II. Mengapa ayah Kris sampai berada di kampung kami, ceritanya
sangat panjang. Tak cukup waktu untuk menceritakannya.
Beberapa siswa
sudah lebih dulu tiba begitu Kris turun dari sepedanya. Mereka heran dengan
kedatangannya. Lebih mengherankan lagi dia hanya mengenakan kaos oblong yang
dipasangkan dengan celana jins. Sungguh jauh dari kesan sebagai orang yang
hendak pergi beribadah. Kris sengaja berpenampilan demikian demi menghilangkan
kebekuan. Dia ingin para menerima pengajaran dengan perasaan yang tak
dibelenggu. Tapi tentu pakaiannya sopan dan bersih. Kesannya santai.
“Bapak tu mo
pimpin tu ibadah?” ketus seorang siswa sebagai cara mengusir keheningan. Kris
memang tampak bisu dan sedikit gugup tatkala dia tiba dan berjabat tangan
dengan tuan rumah. Dia kelihatan dingin dan kurang memberi perhatian kepada
sekeliling. Beberapa murid berusaha mencari perhatiannya tapi tak digubrisnya.
Ibadah dimulai
tepat pukul 16.00. Terlambat satu jam dari yang direncanakan. Itu memang sudah
biasa. Orang Indonesia sudah terlanjur menerima kebiasaan yang salah itu
sebagai sebuah kebenaran. Beberapa orang berusaha merubah. Tapi kebanyakan telah
pasrah. Bahkan menganggap itu selaku budaya. Padahal orang Minahasa dulunya
peduli dengan waktu.
Persiapan Kris tak
sia-sia. Para murid paham dengan ceritanya. Mereka sanggup menangkap maknanya.
Apalagi dua cerita dari buku dan bahasa yang berbeda itu menyampaikan pesan
yang sama.
“Sapa suka mo jadi
sama deng Salomo ato Wolai?” semua tangan teracung. Walaupun ada juga
cepat-cepat menurunkan tangan begitu menyadari ada kata Wolai yang mengikuti kata Salomo. Begitu
Kris jelaskan lagi apa maksud dari pertanyaan itu, bukan menjadi Wolai, tapi
mengikuti sikap wolai dari cerita yang dia tuturkan, di
mana Wolai bertindak adil, berpihak
pada yang lemah dan memiliki hikmat untuk mengalahkan kecurangan, semua siswa
pun mengangguk dengan mata bercahaya.
Ibadah pun
selesai. Kris pulang dengan perasaan senang. Sayangnya, terlihat tuan rumah
sedikit kecewa. Sebab hanya Kris satu-satunya guru yang datang. Guru honor
pula. Jabat tangan pamitan tak ada. Suasana “ilahi” barangkali kurang ada
karena itu. Pikir mereka kehadiran Tuhan senantiasa beriringan dengan
kedatangan orang-orang terhormat dan bernama. Mereka tak tahu sang ilahi itu
datang dengan wujud sederhana. Dalam rupa seorang guru honor dengan gaji Rp.
425.000 per bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar