Tiba-tiba telpon
genggam Valeri menggelinjang dan lompat-lompat
di atas meja belajarnya. Masih disebut meja belajar lantaran meski sudah
lama tamat kuliah, di meja itu masih menumpuk buku. Setiap bulan bahkan
bertambah. Setiap bulan sebagian gaji Valeri ditukar dengan buku-buku.
Untung saja cepat dia melihatnya. Kalau tidak pasti badan
ponsel tersebut telah terpisah-pisah begitu
membentur ubin lantai kamar berwarna putih di kamarnya. Panggilan telpon
sebenarnya mau dia acuhkan saja. Itu sebelum dia melihat nama pemanggil yang tertera
di layarnya.
“Halo…ngana ja
kerja ato?”
“Halo…. Bicara jo.
Kyapa?”
“Napa mama mo
bicara kata.”
Mendadak dinding
dada Valeri seperti ditendang-tendang dari dalam. Rasanya mau jebol dan ambrok.
Kok, mama mau bicara? Tentang apa? Apa sesuatu yang luarbiasa telah terjadi?
Pertanyaan itu memberondongnya. Enggan rasanya dia menekan tombol terima telpon
sebelum siap sedia dengan kenyataan yang bakal masuk di telinganya sebentar
lagi. Ada apa ya? Apa terjadi sesuatu pada ayah? Apa penyakitnya kambu lagi?
Pertanyaan-pertanyaan menggempurnya kembali. Valeri memang selalu dak dik duk
bila ada panggilan masuk di telpon genggamnya. Dan biasanya pikirannya langsung
ke ayahnya. Gelagatnya seperti itu bukan tanpa alasan. Tahun lalu ayahnya
terserang penyakit. Penyakit yang merengut berjuta-juta rupiah. Penyakit yang
membuat ayahnya tumbang seketika di saat sedang nonton adu tinju di tv. Namun
sayang penyakit itu tak ditemukan pihak rumah sakit. Macam-macam cara telah
dilakukan. Scanning, tes urin, periksa darah, dan lain-lain. Semua itu tak
membuahkan hasil. Tapi para dokter, perawat dan semua di perusahaan sakit itu meraup
keuntungan dari rawat inap tiga hari ayah Valeri. Biasanya orang kampung, bila
sudah begitu, pasti akan cepat-cepat pulang dan mencari kambing hitam. Mereka
akan mencoba-coba mengingat orang-orang yang pernah berselisih paham lalu
menuduh orang itu sudah melakukan praktik madiara. Tapi valeri tidak. Dia tahu
penyakit ayahnya tak bisa terdeteksi lantaran alat-alat canggih sedang disimpan
khusus untuk orang-orang kaya saja. Atau lantaran kedunguan para dokter yang
dapat status dokter karena orang tua mereka hartanya banyak sehingga korang
taambor-ambor. Yang mendapat kartu sehat
pun tidak berarti dirawat cepat. Mereka hanya menjadi tujuan praktek para
mahasiswa yang sebentar lagi jadi dokter.
“Haaaaalo!”
“Kalu bole, ngana
pulang skarang. Napa so hebo di sini, ngana kata so ja sesatkan orang!”
Entah apa yang
Valeri ujarkan selanjutnya. Suara ibunya kini terdengar seolah bunyi NGIIIIING
panjang di telinganya. Entah apa jawab yang diberikannya sewaktu hendak akhiri
pembicaraan. Kini Valeri hanya terbelalak memandang tembok cat ungu di
depannya. Rasa kantuk telah minggat sejauh-jauhnya. Tak tahu di
mana rimbanya. Dia sekarang ini
memikirkan satu nama. Calvin. Calvin adalah seorang pendeta yang pernah
bertugas di gereja di desanya. Sekarang telah pindah ke jemaat Karowa. Tapi,
rasanya dia tak percaya. Kok, seorang pendeta bisa gegabah dan tolol seperti
itu? Kok,tega-teganya dia menggosipkan anggota jemaatnya? Valeri mengingat satu
nama lagi yang disebut ibunya. Katanya dia juga seorang pendeta dan turut andil
dalam penyebaran desas-desus. Hanya, kelaminnya perempuan. Valeri memaksa
otaknya bekerja untuk mengingat nama itu. Saraf-saraf yang rusak akibat
terhenyak oleh berita buruk yang
didengarnya tadi tetap saja dipaksanya berfungsi untuk mengingat satu nama.
Meeeeerrrcy. Ya itu namanya. Nama yang kadang-kadang disalahucapnya menjadi
Merry dulu tatkala bertemu dengan si ibu
pendeta. Dia memang sering menghindari ibu pendeta itu gara-gara sering
memaksanya untuk segera disidi, dijadikan jemaat penuh sehingga bisa
menggunakan hak pilih dalam suksesi diaken dan syamas. Kata ibunya ibu pendeta
ini diberitahu pendeta Calvin bahwa Valeri telah menjadi orang sesat dan sedang
menyesatkan orang.
Siang itu juga
Valeri langsung membuka akun media sosialnya hanya untuk melihat-lihat apakah
si Calvin itu sedang online. Dan ternyata Valeri beruntung. Di sudut kanan
halaman akunnya tertera nama Calvin Wuner. Dulu salah seorang teman Valeri yang
kebetulan sama-sama kuliah dengan Calvin di UKIT pernah berujar, “Calvin itu pengkhianat. Dulu
dia yang pimpin demo mahasiswa melawan
GMIM yang memaksakan untuk mengubah YPTK mejadi Wenas. Kami mendukungnya.
Karena kami percaya dia. Tapi, ternyata dia itu bunglon dan pengkhianat.
Diam-diam dia melompat ke kandang sebelah dengan tipu muslihat. Pasti dia
menyogok. Lebih baik aku begini saja
namun tetap pada pendirian daripada menjadi pendeta dari hasil sogokan.” Valeri
terheran-heran mendengar itu. Dan tentu saja tak percaya dengan kata-kata temannya
itu. Wajar bila dia begitu, pikir Valeri.Dia tentu stress lantaran GMIM tak mau
menerima mereka, lulusan YPTK, untuk menjalani masa vikariat di jemaat GMIM.
Rasa enggan dan
malu menghalangi jari-jari Valeri untuk mengetik sebaris pertanyaan di kotak
obrolan media sosial. Rasa itu tentu karena gelar pendeta yang melekat pada
nama itu. Orang-orang kini kebanyakan tidak takut berbuat dosa meski mereka
tahu mata Tuhan ada di mana-mana. Namun, para jemaat takut berbuat hal demikian di depan pendeta.
Maklum, para pendeta itu adalah hamba Tuhan. Sama seperti pemerintah yang
adalah wakil Allah. Dan kadang-kadang pendeta dan pemerintah lebih
dipertuhankan daripada Tuhan itu sendiri. Para pendeta bukannya mencegah itu
malah keenakan.
Entah roh apa yang
merasuk, jari-jari tangan Valeri tiba-tiba bergelinjang di atas papan tuts
komputer portable-nya.
“Pendeta, kyapa
pendeta ja bilang kita kata so sesat deng so ja sesatkan orang?”
“Qt
bilang di ajak diakusi tu pemuda. Bukan sesatkan. Mungkin ibu yang salah
membahasakan.”
“Amper satu kampung so tau bahwa kali kata kita penyesat. Lantaran nae-nae
gunung, pigi-pigi di aerjatu, dll. Tu cirita ini hebo di skola deng di greja.”
Sejurus kemudian percakapan terhenti. Tak tahu sebabnya. Mungkin sinyal
yang kurang subur. Mungkin juga pendeta Calvin sibuk dengan kerja mempersiapkan
bahan khotbah untuk kebaktian malam nanti.
Esoknya Valeri telah berada di kampung halamannya. Pagi-pagi sekali dia
meluncur dengan sepeda motor tua bermerk Kharisma keluaran tahun 2003.
Kepulangannya bukan untuk mengamuk atau hal-hal nekat sejenisnya di rumah
pastori. Kepulangan kali ini dipicu oleh rasa sakit di punggung dan tangan
kirinya. Barangkali pemantiknya adalah kerna tergelincir dan terjatuh saat
menuruni gunung Soputan dua minggu lalu. Orang Minahasa bilang itu salese. Belum lagi dia duduk, ibunya
langsung mencecarnya dengan cerita-cerita miring tentangnya. Kata ibu Valeri,
cerita buruk itu bermula dari mulut pendeta Calvin kemudian menjangkit ke mulut
pendeta Mercy. Ibunya menerangkan dengan jelas. Tak sedikit pun ada tanda jika
cerita itu dikarang-karang. Namun, Valeri tak bicara banyak. Bekal ilmu yang
dia dapat waktu di bangku kuliah kiranya cukup untuk dimanfaatkan mengontrol emosinya. Tiga kali dia diurut
oleh pria tua di kampungnya. Dia diminta datang lagi besoknya. Tapi malamnya
dia hilang lagi dari pandangan mata warga kampung. Di malam yang sama dia
kembali berada di kota Wenang, Manado. Tak lagi pikir soal makan malam, sontak
dia membuka laptop-nya untuk bicara
dengan pendeta Calvin lewat akun media sosial.
Dan sebuah kebetulan lagi. Nama pendeta yang disebut temannya sebagai
pengkhianat itu ada namanya di kotak obrolan.
“Pendeta, da bagimana tu depe cirita
kong sampe pendeta usul ada diskusi deng pemuda? Apa tu latar blakang?”
“Pendeta Mercy tanya ngana pe kabar kalu ada di mana. Soalnya so jarang di kampung. Qta bilang mungkin kuliah soalnya ada
di S2 UNSRAT dan selama ini aktif di kegiatan budaya. Baru, muncul cerita kalu
ngana so nda maso gereja kata di
sana.
Kita bilang so ada sto keyakinan baru. Dan itu yang perlu didiskusikan. Nda
bacarita tentang pemuda. Mar, mungkin penafsirannya sampai ke sana. Ibu sebagai pendeta, ta kira itu wajar untuk di kritisi dan di
dialogkan.”
Valeri jadi bingung. Bila membaca ketikan penjelasan pendeta Calvin, tak
ada yang salah. Memang ada sedikit yang sensitif. Lalu, siapa yang berbohong?
Kutipan pendeta Mercy tentang pernyataan pendeta Calvin sangat berbeda dengan
apa yang dibaca Valeri hari ini. Pendeta Mercy, setelah Valeri konfirmasi, juga
menyatakan bahwa pendeta Calvin sudah berdusta dengan membantah kalau dia
pernah bilang Valeri adalah penyesat dan sedang menyesatkan para pemuda
sekampungnya. Siapa yang berdusta? Apa ada seorang pendeta berdusta?
Pernah pertanyaan itu Valeri tujukan pada kakaknya. Sekonyong-konyong
kakaknya bilang, “Apa ada pendeta berdusta? Ya ialah. Banyak!!! Menurutmu, apa
para pendeta kita pernah jujur dengan isi hatinya. Menurutmu apa sogok menyogok
dalam soal mutasi pendeta itu mereka buka di atas mimbar? Menurutmu, apa mereka
pernah mengaku kalau nafsu seks mereka sering dipuaskan dengan beramahtamah
dengan sesama hamba Tuhan yang kemudian berujung pada perselingkuhan?
Menurutmu, apa mereka mau mengakui kalau perseteruhan di UKIT sebenarnya
dilantarbelakangi oleh keinginan para pendeta untuk berkuasa? Menurutmu, apa
mereka pernah benar-benar jujur soal kuangan kas jemaat?”
Bukannya terobat kegundahannya. Malah bertambah oleh karena pikiran-pikiran
kakaknya itu. Valeri pun putus asa untuk mencari siapa biang keladi perusakan
nama baiknya. Gara-gara ulah dua pendeta itu para diaken dan syamas ikut-ikutan
menyebar kabar burung dalam kumpulan terkecil jemaatnya. Pertemuan-pertemuan
ibadah tak lagi menjadi wadah pemberitaan kabar keselamatan sebagaimana amanat
Yesus, justru menjadi tempat penghakiman terhadap terdakwa yang sengaja tak
dihadirkan. Ruang-ruang ibadah bukan lagi diisi dengan penguatan-penguatan iman
tapi dengan pembusukan-pembusukan insan. Serigala saja enggan menerkam anaknya
sendiri. Tapi para gembala ini justru
beramai-ramai menelanjangi dombanya sendiri. Domba yang bermasalah bukannya
dikunjungi dan dibantu keluar dari jerat malah ditendang masuk jurang yang
curam.
Aneh bin ajaib. Ada seorang pemuda yang sudah jarang ke gereja. Hobinya
naik gunung dan melancong ke tempat-tempat indah ciptaan sang Khalik. Dia
mengagumi ciptaanNya. Dia juga gemar menulis di dinding-dinding media sosial.
Tak bisa dipungkiri tulisan-tulisan itu mengundang kontroversi karena berisi
kritik. Kritik untuk siapa? Kritik unutk semua orang. Termasuk dia sendiri,
Valeri. Barangkali, lantaran tak terima dikritik atau tersinggung, berulahlah
orang-orang tertentu. Menebar fitnah demi sebuah kemudahan untuk keluarga.
Sebulan kemudian Valeri pulang kampung. Hari itu berkenaan dengan hari Pengucapan Sukur se-kabupaten. Yang dia lihat
pada mata-mata orang sekampungnya tinggal pandangan curiga dan amarah. Ternyata
para pendeta itu telah berhasil. Dia juga dengar, bukan hanya pendeta. Ada juga
guru-guru yang pernah menjadi kawannya, sewaktu masih mengajar dulu, yang ikut
ambil bagian merusak namanya. Makanya tak heran banyak murid yand dulu akrab
dengannya kini menjauh seolah melihat hantu bertaring. Tapi, Valeri masih saja
santai. Bahkan dia menegur orangtuanya yang sudah naik pitam. Entah apa yang
ada di pikiran Valeri. Apakah dia telah mewarisi kesabaran Ayub. Atau,
mungkinkah dia menganggap soal itu enteng. Dia sih enteng karena dia tak
tinggal di kampung. Yang berat ya keluarganya - orangtua dan adik kakaknya.
Juga keponakan-keponakannya.
Valeri kini tak lagi banyak bicara. Mungkin menyalahkan diri. Mungkin juga
mengutuki orang-orang yang telah sampai hati menusuknya dari belakang. Sikap
pendiam itu kuperhatikan semakin menjadi saat dia tahu orangtuanya telah
beralih kepercayaan. Bukan. Sejatinya bukan beralih kepercayaan. Hanya beralih
tempat saja. Karena sesungguhnya Tuhan itu omnipresent,
ada di mana-mana. Dulu mereka setiap malam
rajin membaca kitab bahasa Indonesia tulisan latin. Kini kitabnya sudah
berganti, kini kitab mereka ber-aksara Arab. Tembang-tembang dari mulut mereka
bukan lagi dari kidung jemaat melainkan solawat dan irama padang pasir yang
sarat dengan bunyi-bunyi kasidah.
Minahasa, 12 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar