Rabu, 20 Januari 2016

:: KAFE DOYOT ::


Senin 17 Juni
Tiba-tiba saja mobilku mogok di area jalan Pierre Tendean. Tepat di depan sebuah kafe yang dicat hitam dan coklat. Di pintu gerbangnya di kiri kanan berdiri patung berbusana merah. Yang satu menghunuskan tombak ke arahku. Yang satu lagi mengangkat pedang. Mimik kedua patung itu agak menyeramkan. Patung-patung itu tengah memperagakan tarian Kawasaran. Ini membuatku pastiu luar biasa.  Tapi kuputuskan melempar langkahku satu-satu ke dalam kafe itu. Alunan lagi aneh nan mendayuh terus menarik ku ke dalam. Tapi kuputuskan menghempaskan patatku ke kursi  yang paling dekat dengan gerbang. Kulihat ada beberapa orang di dalam. Semuanya laki-laki. Nyaris semua wajah mereka berpaling padaku begitu aku pelan-pelan kumasuk. Kuletakkan tas berwarna pink-ku di atas meja bambu. Kukeluarkan telpon genggam. Ketiga-tiganya. Semuanya. Menuliskan statusku sekarang di akun media sosial yang bukan menggunakan nama asliku. Sudah lama aku tidak mendengar orang memanggil nama asliku. Di kampungpun kalau aku bilang untuk sekedar bertemu ayah dan ibu, aku hanya dipanggil Ineng. Semua gadis dan perempuan muda di kampung memang dipanggil seperti itu. Itu mungkin tradisi orang gunung.
“Mo pesan apa kang?” Jari-jariku tiba-tiba terhenti kegiatannya tatkalah seorang pelayan menanyaiku.
“Emang di sini ada menu apa aja?” jawabku sembari melihat papan nama yang menggantung di seragam pelayan itu. Tertulis “V. Sual”. Tak berminat aku melihat mukanya. Lalu aku kembali menyibukkan diri dengan ponselku.
“Suka yang mana yang spesial ato biasa?”
“Kalu yang spesial apa aja?”
“Kalu minuman, di sini ada kopi itang, saguer Manis, kopi tombal, saguer bagigi, teh....,”
“Kalo yang makanan?”
“Double onde, cucur, ginger rice, apang, koyabu,....”
“Double onde dan ginger rice dech. Itu menu baru kan? Aku pesan dua untuk masing-masing.”
Kembali kau membenamkan diri di dunia maya. Kubaca satu per satu pesan yang masuk. Sepuluh pesan. Semuanya bertanya apa kami bisa ketemu malam sebentar. Hanya satu yang tidak bertanya. Di kontak dia kunamai Mr. Haar. Dia memang tidak perlu bertanya kesiapanku. Sebab aku 99% miliknya. Sekali ketemu hadiahnya bisa untuk liburan mewah di Bunaken selama seminggu. Belum lagi kalau harus menemaninya keluar kota atau ke luar negeri.
“Ini tu pesanan,” kata si pelayanan tiba-tiba di sampingku.
“Loh ini....apa ini? Aku gak pesan ini!!” bentakku pada pelayan itu. Dia berusaha membela diri tak gertakkanku membuat dia tak lagi berkata lebih. Kulihat dia mengambil bawaannya kembali dengan langkah kasar ke belakang. Lalu kulihat dia kembali tapi tak menuju padaku melainkan langsung menggabungkan diri dengan para lelaki yang dari tadi kudengar berbincang dengan serius. Sejurus kemudian mereka semua pecah tertawa. Sempat kulihat si pelayan itu menunjuk ke arahku sebelum mereka tertawa.  Karena mulai tidak nyaman aku langsung angkat kaki dan tergesah-gesah masuk ke mobil. Herannya begitu kumasukan kunci dan kuputar ke arah kanan, mobilnya pun bersuara dan siap dibawa. Aku heran.
***
Kamis  20 Juni
Sial! Mobilku mogok lagi. Dan lebih sial lagi mobil mogok di depan cafe ketika mobilku mogok tiga hari lalu. Sekarang aku tak berani turun. Dari dalam mobil aku hanya memantau saja. Tapi tiba-tiba aku berpikir kalau tentu aku takkan dikenal bila masuk ke sana. Pelayannya juga ada beberapa. Karena selain penampilanku beda, hari ini juga malam. Tak seperti tiga hari lalu di siang bolong.  Dan dari dalam mobil aku tahu nama tempat itu adalah Doyot Cafe’. Yakin dengan pikiranku akupun masuk  ke dalam dan memilih kursi yang sama dengan kursi yang pernah aku duduki. Ketiga ponselku kukeluarkan dari tasku.  Kali tak satupun pesan dari pelangganku. Mungkin mereka sibuk. Mungkin ada acara keluarga di dalam kota. Atau bisa saja diundang hadir dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Kalau bukan peresmian tempat ibadah ya supermarket atau hotel baru. Atau bisa juga rapat partai. Atau bisa juga rapat gereja. Rata-rata mereka juga kan aktivis gereja.
“Mo pesan apa kang?” pikiranku tiba-tiba terhenti dan agak gugup. Aku mencoba menguasai diri dengan menciptakan suara baru.
“Kopi Hitam dan Koyabu dua. Ingat ya saya pesan Kopi Hitam dan Koyabu. Gak pake onde-onde sama nasi jaha ya!!!,” kataku cepat.
“Ha? Jadi ngana dang yang pesan tuhari kong Cuma da tolak? Sori neh, cewe pesan jo pa pelayan laeng,” si pelayan itu pun pergi dan bergabung dengan rombongan di satu meja yang letaknya agak di belakang. Tertawa pun pecah disitu. Ternyata semua mereka itu adalah pelayan juga. Kusimpulkan itu dari seragam mereka. Merasa tidak diperlakukan dengan baik aku pun berdiri dan menuju kasir.
“Permisi! Siapa pimpinan di kafe ini? Saya mau komplein,” kataku pada kasir yang adalah satu-satunya gadis berseragam itu. Tapi gadis itu hanya senyum. Dan tak menjawab pertanyaanku.
“Cewek, aku mau komplein! Siapa manajer di kafe ini??”
Sial! Senyuman gadis itu berubah menjadi tawa. Dan karena aku memaksa dia pun mengarahkan telunjuknya ke arah yang saya belakangi.
“Tu manajer yang sana cewek. Yang depe nama L. Sual.”
Apa? Benar-benar sial! Ternyata pelayan itu adalah manajernya juga. Ah!!
***
Sabtu  22 Juni
“Hahahahaahhaha....kita nda sangkah kang torang mo bakukenal bagini. Ternyata kote tu double Onde deng Ginger Rice itu manjur kang beking tacolong orang hahahahaha,”
“Ngoni lei kwa nda beres. Onde-onde deng Nasi Jaha kote mo kase nama Double Onde dan Ginger Rice. So nda ada ide laeng so ngoni,” kataku pura-pura marah.
“Neng, bagitu noh bisnis. Beking orang tertarik kong dorang suka coba.”
“Ha! Itu penipuan. Kalu mancari kwa butul-butul jang batipu...hahahahaha”
“Ha ngana lei Cuma lei kwa itu. Deng, yang torang tipu le kwa orang-orang penipu. Dorang kan ambe-ambe doi rakyat. Makanya torang beking ini kafe dapalia mewah. Depe konsep kampung mar tetap mewah. Depe harga ya mahal. Sengaja bagitu spaya yang kena ya tu pejabat-pejabat ato orang-orang pancuri doi orang kecil.”
“Kong kita pejabat dang?”
“Kalu ngana depe kekecualian. Sama deng kalu mangael, rencana cari ikang tindarung mar Cuma dapa gete-gete wkwkwkwkwk”
Tiba-tiba aku tersadar. Ternyata kini aku tengah terbaring di dego-dego tepi kolam di sebuah hotel. Meski tak berbulan langit begitu cerah malam ini. Laut juga. aku bisa melihat cahaya-cahaya kecil kerlap-kerlip. Tapi terasa begitu sepih. Mr. Haar dan sembilan pelangganku tak satu pun yang menghubungi. Hanya anggur merah yang menemani. Sambil berbaring di petiduran dekat kolam aku berbincang dengan bintang-bintang. Tak tahu mengapa aku jadi teringat sebuah tempat. Tempat di mana aku merasa orang sial akhir-akhir ini. Ingin sekali lagi aku berbalik ke sana. Sedikit onar pun tak masalah. Aku harus membuat perhitungan pada pelayan sombong itu. Pada manajer yang congkak itu. Aku berdiri dan menarik handuk putih lalu bergegas ke kamarku. Kamar yang kutinggali selama 3 tahun. Letaknya dilantai 15.
Kuparkir mobilku di tempat biasa. Di tempat mobilku biasa mogok. Belum sempat aku turun dari mobil sudah kulihat tali plastik garis polisi mengelilingi kafe itu. Cafe tak lagi tampak. Seolah sebuah lapangan kosong di antara gedung-gedung tinggi. Aku pun balik ke kamarku. Tas kulemparkan di tempat tidur lalu kuambil remote control dan hidupkan tv.
“Selamat malam. Kita saksikan breaking news. Sebuah cafe diobrak-abrik gerombolan orang bertopeng yang membawa parang. Dari hasil penelusuran tim di lapangan teridentifikasi satu orang berinisial V. Sual tewas secara mengenaskan. Menurut dugaan kejadian ini ditenggarai karena persaingan bisnis.”
Aku matikan TV. Dan melempar remote control keluar jendela. Kukeluarkan beberapa botol minuman beralkohol dari kulkas. Lalu aku mulai menegak gelas demi gelas. Sembari ditemani hati yang luka dan dan linangan air mata.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar