Senin 17 Juni
Tiba-tiba saja mobilku mogok di area jalan
Pierre Tendean. Tepat di depan sebuah kafe yang dicat hitam dan coklat. Di
pintu gerbangnya di kiri kanan berdiri patung berbusana merah. Yang satu
menghunuskan tombak ke arahku. Yang satu lagi mengangkat pedang. Mimik kedua
patung itu agak menyeramkan. Patung-patung itu tengah memperagakan tarian
Kawasaran. Ini membuatku pastiu luar
biasa. Tapi kuputuskan melempar
langkahku satu-satu ke dalam kafe itu. Alunan lagi aneh nan mendayuh terus
menarik ku ke dalam. Tapi kuputuskan menghempaskan patatku ke kursi yang paling dekat dengan gerbang. Kulihat ada
beberapa orang di dalam. Semuanya laki-laki. Nyaris semua wajah mereka
berpaling padaku begitu aku pelan-pelan kumasuk. Kuletakkan tas berwarna
pink-ku di atas meja bambu. Kukeluarkan telpon genggam. Ketiga-tiganya.
Semuanya. Menuliskan statusku sekarang di akun media sosial yang bukan
menggunakan nama asliku. Sudah lama aku tidak mendengar orang memanggil nama
asliku. Di kampungpun kalau aku bilang untuk sekedar bertemu ayah dan ibu, aku
hanya dipanggil Ineng. Semua gadis dan perempuan muda di kampung memang
dipanggil seperti itu. Itu mungkin tradisi orang gunung.
“Mo pesan apa kang?” Jari-jariku tiba-tiba
terhenti kegiatannya tatkalah seorang pelayan menanyaiku.
“Emang di sini ada menu apa aja?” jawabku
sembari melihat papan nama yang menggantung di seragam pelayan itu. Tertulis
“V. Sual”. Tak berminat aku melihat mukanya. Lalu aku kembali menyibukkan diri
dengan ponselku.
“Suka yang mana yang spesial ato biasa?”
“Kalu yang spesial apa aja?”
“Kalu minuman, di sini ada kopi itang,
saguer Manis, kopi tombal, saguer bagigi, teh....,”
“Kalo yang makanan?”
“Double onde, cucur, ginger rice, apang,
koyabu,....”
“Double onde dan ginger rice dech. Itu menu
baru kan? Aku pesan dua untuk masing-masing.”
Kembali kau membenamkan diri di dunia maya.
Kubaca satu per satu pesan yang masuk. Sepuluh pesan. Semuanya bertanya apa
kami bisa ketemu malam sebentar. Hanya satu yang tidak bertanya. Di kontak dia
kunamai Mr. Haar. Dia memang tidak perlu bertanya kesiapanku. Sebab aku 99%
miliknya. Sekali ketemu hadiahnya bisa untuk liburan mewah di Bunaken selama
seminggu. Belum lagi kalau harus menemaninya keluar kota atau ke luar negeri.
“Ini tu pesanan,” kata si pelayanan
tiba-tiba di sampingku.
“Loh ini....apa ini? Aku gak pesan ini!!”
bentakku pada pelayan itu. Dia berusaha membela diri tak gertakkanku membuat
dia tak lagi berkata lebih. Kulihat dia mengambil bawaannya kembali dengan
langkah kasar ke belakang. Lalu kulihat dia kembali tapi tak menuju padaku
melainkan langsung menggabungkan diri dengan para lelaki yang dari tadi
kudengar berbincang dengan serius. Sejurus kemudian mereka semua pecah tertawa.
Sempat kulihat si pelayan itu menunjuk ke arahku sebelum mereka tertawa. Karena mulai tidak nyaman aku langsung angkat
kaki dan tergesah-gesah masuk ke mobil. Herannya begitu kumasukan kunci dan
kuputar ke arah kanan, mobilnya pun bersuara dan siap dibawa. Aku heran.
***
Kamis 20 Juni
Sial! Mobilku mogok lagi. Dan lebih sial
lagi mobil mogok di depan cafe ketika mobilku mogok tiga hari lalu. Sekarang
aku tak berani turun. Dari dalam mobil aku hanya memantau saja. Tapi tiba-tiba
aku berpikir kalau tentu aku takkan dikenal bila masuk ke sana. Pelayannya juga
ada beberapa. Karena selain penampilanku beda, hari ini juga malam. Tak seperti
tiga hari lalu di siang bolong. Dan dari
dalam mobil aku tahu nama tempat itu adalah Doyot Cafe’. Yakin dengan pikiranku
akupun masuk ke dalam dan memilih kursi
yang sama dengan kursi yang pernah aku duduki. Ketiga ponselku kukeluarkan dari
tasku. Kali tak satupun pesan dari
pelangganku. Mungkin mereka sibuk. Mungkin ada acara keluarga di dalam kota.
Atau bisa saja diundang hadir dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Kalau bukan
peresmian tempat ibadah ya supermarket atau hotel baru. Atau bisa juga rapat
partai. Atau bisa juga rapat gereja. Rata-rata mereka juga kan aktivis gereja.
“Mo pesan apa kang?” pikiranku tiba-tiba
terhenti dan agak gugup. Aku mencoba menguasai diri dengan menciptakan suara
baru.
“Kopi Hitam dan Koyabu dua. Ingat ya saya
pesan Kopi Hitam dan Koyabu. Gak pake onde-onde sama nasi jaha ya!!!,” kataku
cepat.
“Ha? Jadi ngana dang yang pesan tuhari kong
Cuma da tolak? Sori neh, cewe pesan jo pa pelayan laeng,” si pelayan itu pun
pergi dan bergabung dengan rombongan di satu meja yang letaknya agak di
belakang. Tertawa pun pecah disitu. Ternyata semua mereka itu adalah pelayan
juga. Kusimpulkan itu dari seragam mereka. Merasa tidak diperlakukan dengan
baik aku pun berdiri dan menuju kasir.
“Permisi! Siapa pimpinan di kafe ini? Saya
mau komplein,” kataku pada kasir yang adalah satu-satunya gadis berseragam itu.
Tapi gadis itu hanya senyum. Dan tak menjawab pertanyaanku.
“Cewek, aku mau komplein! Siapa manajer di
kafe ini??”
Sial! Senyuman gadis itu berubah menjadi
tawa. Dan karena aku memaksa dia pun mengarahkan telunjuknya ke arah yang saya
belakangi.
“Tu manajer yang sana cewek. Yang depe nama
L. Sual.”
Apa? Benar-benar sial! Ternyata pelayan itu
adalah manajernya juga. Ah!!
***
Sabtu 22 Juni
“Hahahahaahhaha....kita nda sangkah kang
torang mo bakukenal bagini. Ternyata kote tu double Onde deng Ginger Rice itu
manjur kang beking tacolong orang hahahahaha,”
“Ngoni lei kwa nda beres. Onde-onde deng
Nasi Jaha kote mo kase nama Double Onde dan Ginger Rice. So nda ada ide laeng
so ngoni,” kataku pura-pura marah.
“Neng, bagitu noh bisnis. Beking orang
tertarik kong dorang suka coba.”
“Ha! Itu penipuan. Kalu mancari kwa
butul-butul jang batipu...hahahahaha”
“Ha ngana lei Cuma lei kwa itu. Deng, yang
torang tipu le kwa orang-orang penipu. Dorang kan ambe-ambe doi rakyat. Makanya
torang beking ini kafe dapalia mewah. Depe konsep kampung mar tetap mewah. Depe
harga ya mahal. Sengaja bagitu spaya yang kena ya tu pejabat-pejabat ato
orang-orang pancuri doi orang kecil.”
“Kong kita pejabat dang?”
“Kalu ngana depe kekecualian. Sama deng kalu
mangael, rencana cari ikang tindarung mar Cuma dapa gete-gete wkwkwkwkwk”
Tiba-tiba aku tersadar. Ternyata kini aku
tengah terbaring di dego-dego tepi kolam di sebuah hotel. Meski tak berbulan
langit begitu cerah malam ini. Laut juga. aku bisa melihat cahaya-cahaya kecil
kerlap-kerlip. Tapi terasa begitu sepih. Mr. Haar dan sembilan pelangganku tak
satu pun yang menghubungi. Hanya anggur merah yang menemani. Sambil berbaring di
petiduran dekat kolam aku berbincang dengan bintang-bintang. Tak tahu mengapa
aku jadi teringat sebuah tempat. Tempat di mana aku merasa orang sial
akhir-akhir ini. Ingin sekali lagi aku berbalik ke sana. Sedikit onar pun tak
masalah. Aku harus membuat perhitungan pada pelayan sombong itu. Pada manajer
yang congkak itu. Aku berdiri dan menarik handuk putih lalu bergegas ke
kamarku. Kamar yang kutinggali selama 3 tahun. Letaknya dilantai 15.
Kuparkir mobilku di tempat biasa. Di tempat
mobilku biasa mogok. Belum sempat aku turun dari mobil sudah kulihat tali
plastik garis polisi mengelilingi kafe itu. Cafe tak lagi tampak. Seolah sebuah
lapangan kosong di antara gedung-gedung tinggi. Aku pun balik ke kamarku. Tas
kulemparkan di tempat tidur lalu kuambil remote control dan hidupkan tv.
“Selamat malam. Kita saksikan breaking news.
Sebuah cafe diobrak-abrik gerombolan orang bertopeng yang membawa parang. Dari
hasil penelusuran tim di lapangan teridentifikasi satu orang berinisial V. Sual
tewas secara mengenaskan. Menurut dugaan kejadian ini ditenggarai karena
persaingan bisnis.”
Aku matikan TV. Dan melempar remote control
keluar jendela. Kukeluarkan beberapa botol minuman beralkohol dari kulkas. Lalu
aku mulai menegak gelas demi gelas. Sembari ditemani hati yang luka dan dan
linangan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar