Rabu, 20 Januari 2016

:: TAMBANUA ::

[Sebuah Cerpen]

Lagi. Ada lagi yang telah pergi. Tiada pekan tanpa kematian. Hampir tiap hari burung kerok berteriak-teriak histeris berombong melewati ro’ong kami. Ujangpanas seolah tak mau berhenti. Nyaris semua warga panik. Takut bakal jadi korban selanjutnya. Bagai menunggu waktu eksekusi di depan lobang kuburan.
“Ini nda bole torang kasebiar! Yang mati korang bakubaku iko. Itu so cukup jadi bukti. Nenek tua itu so musti torang kasemampos,” kata Ten dengan suara menggebu-gebu. Pagi itu dia lupa meneguk kopi yang telah diseduh istrinya di ujung subuh. Lalat telah berkerumun di gelasnya. Bahkan ada yang tengah asyik berenang dalam laut hitam itu. Sampai-sampai kekenyangan, mati lalu terapung. Istrinya tak berani menegur. Amarah Ten datang bersamaan dengan patukan sinar matahari.
“Jang asal-asal. Sampe skarang blum ada yang lia langsung kalu dia yang beking,” kata Sual menasehati, “Dan kalu pun dia tu orang, torang nda bole sembarang ambe tindakan. Serahkan jo pa pemerenta.”
Sual berusaha bicara setenang-tenang mungkin agar Ten melunak dan berhenti membentak-bentak. Sebab lebih baik tenaga terkuras untuk kerja daripada untuk marah. Marah takkan membuat jalan keluar datang secara sukarela. Sual ingat persis nasihat para Tonaas dan Apo-aponya. “Raica wana torona ma’bow sa ko mesungkul eng kawenduan. Awes tare mange an uma wo tumawoi[1],” begitu pernah Apo Mandor Sual pernah berpesan padanya.
“Pemerintah so stuju.”
“Sapa?”
“Om Luther.”
“Dia cuma kapala lukar[2]. Depe keputusan nyanda bisa torang jadikan patokan. Torang musti tunggu prenta deri Ukung Tua[3].”
“So dia noh tu Ukung Tua skarang!” suara Ten terus meninggi karena sedikit pun Sual tak mau kompromi.
“Pokoknya, kita nyanda stuju tu tindakan ini. Titik.”
Sual masuk rumah tanpa basa-basi lagi. Dibiarkannya Ten berdiri terperangah di halaman depan rumahnya. Ten kemudian berlalu tanpa pamit. Legitimasi dan pembenaran yang diharapkannya datang dari seorang tetua kampung gagal diperolehnya. Nafsu melenyapkan perempuan yang bernama Nona Tambanua itu tak akan berjalan mulus tanpa restu seorang Tonaas atau Walian. Kekecewaan meliputinya. Dalam perjalanan dia terus berpikir bagaimana mengenyahkan orang yang pernah bermasalah dengannya.
Pernah terjadi perselisihan terkait soal batas tanah. Awalnya dia coba membeli tanah itu. Tapi setelah dinyatakan tak dijual dia ingin merampasnya. Sebetulya Ten masih terkait keluarga dengan Nona. Hanya saja Ten ilang fam. Hitam pekat di dalam dadanya sebenarnya bermula ketika dia tahu bahwa budel yang ibunya terima hanya selebar sapu tangan. Ini membuat hatinya seperti diremas-remas. Dia merasa ibunya diperlakukan tidak adil saat pembagian warisan. Tapi, mengapa Nona yang jadi sasaran?
Ada pula kejadian lain yang menjadi pemicu. Pernah suatu waktu Ten datang ke rumah Nona. Dia meminta supaya diijinkan mengolah semua pohon seho di kebun Nona untuk dijadikan gula aren. Terang, Nona tak mengijinkan. Soalnya, suaminya juga punya profesi yang sama dan dilakukan di kebun itu juga. Ten tak terima dengan penolakan itu. Padahal Nona berusaha menyampaikan dengan sebijak mungkin agar Ten tak menyimpannya dalam hati.
“Bagimana? So talalu komang ini no. Smo abis torang kalu kasebiar!”
“Ini malam torang pigi pa dia pe ruma. Torang paksa dia mangaku kalu dia yang doti samua tu orang ja mati di kampung ini.”
***
Sembari berjalan berjinjit mereka berjalan mengendap-ngendap mendekati sebuah rumah berdindingkan bambu yang ditetak itu. Salah seorang mencucukkan ujung jari  ke sela-sela dinding. Celah pun melebar. Tampak wanita tua sedang memegang sebuah kotak berwarna hitam. Wanita tua itu berkomat-kamit.
Sejurus kemudian Luther dan komplotannya masuk dengan paksa ke dalam rumah. Lewat jalan belakang dengan mendobrak pintu. Sontak wanita tua itu kaget dan hendak lari menyelamatkan diri. Wanita tua itu telah dikepung oleh sembilan orang. Mereka berusaha menyeret wanita tua itu keluar. Namun setiap kali mereka menyentuhkan tangan, mereka kesakitan. Luther yang lincah. Setiap kali wajah nenek tua terangkat, ditempelengnya. Namun, tangannya ikut juga sakit. Suami wanita tua itu lari ke tetangga untuk mencari suaka. Dia seolah pasrah dengan kebejatan para pemuda. Istrinya ditinggal saja tanpa ada upaya mencari perlindungan. Heran juga aku.
“E ceru na. Kita nintau, dia kote da blajar tu babagitu,” kata suami Nona kepada tetangganya di suatu pagi ketika berpapasan dengan orang-orang yang hendak ke kebun. Tak sedikit pun dia mau membela istrinya. Barangkali lantaran perbedaan paham di antara mereka berdua. Nona memang masih pada kepercayaan lama. Dia masih berupaya keras mengekalkan tradisi leluhur. Dia yakin bahwa petuah-petuah dan teladan-teladan para Walian dan Tonaas sudah cukup untuk membawanya ke jalan yang benar. Sedangkan suaminya sudah tercuci otaknya oleh pandangan modern dari Barat. Dia memang pernah sekolah untuk belajar teologi tapi tidak tamat. Padahal itu dulu maunya sendiri. Mungkin tak tahan dengan disiplin kehidupan asrama. Tapi ajaran bahwa agama tua adalah sesat masih disimpannya rapat. Hanya karena Nona itu dulu seorang gadis rupawan sehingga untuk sementara dia pernah mengesampingkan pesan-pesan guru-gurunya di sekolah teologi dulu. Lepas itu, setelah Nona bukan lagi seorang nona, telah menjadi reyot, keyakinan warisan sekolah teologi itu kembali lagi. Bahkan sudah lebih teguh dan keras serperti batu.
Nona sedari dulu punya usaha warung kecil. Orang tua mewariskan usaha itu padanya tatkalah orang tuanya sudah sakit-sakitan. Di warung itulah seorang pemuda, yang nantinya menjadi suaminya, melihat dia untuk pertama kalinya. Tak sampai dua minggu dia pun dipersunting oleh lelaki yang baru pulang dari kota tersebut. Setelah mereka kawin, mereka meneruskan usaha warung kopi itu. Lancar usahanya. Kue cucur, nasi jaha buatan tangannya selalu laku terjual. Orang pun irih. 
***
Sudah tiga hari kesembilan pemuda ini berusaha untuk membunuh wanita ini. Tapi belum juga kesampaian. Malam sebelumnya ada cerita bahwa Nona sempat melayang di udara tatkala pemuda-pemuda itu hendak menyerangnya. Malam ini juga demikian. itu Lantaran seorang lagi tengah sakit berat.
“Nenek, kalu nenek nyanda mo kase bae tu tanta di sebela, torang smo bakar tu ruma.”
“Jangang bakar. Tolong sayang akang kamari pa torang. Mo tinggal lagi di mana kami?”
Wanita tua itu menampakan diri. Dan langsung menuju ke rumah tetangganya. Dia pun langsung menyapa dan menanyakan sakitnya. Saat itu juga tetangganya itu sembuh. Seperti Yesus menyembuhkan anak dari perajurit Romawi. Ilmu sembuh menyembuhkan secara supernatural itu adalah warisan dari orang tuanya. Dia jarang menunjukkan kebolehannya itu kepada khalayak. Karena dia khawatir orang-orang berbondong datang ke rumah dan menganggapnya sebagai dukun penyembuh. Dia juga tak ingin terjebak oleh rasa sombong dan menarik tarif karena kesembuhan itu. Dia tidak ingin jadi dukun yang banyak menipu orang. Yang menjual kebolehan menyebuhkan. Padahal itu adalah anugerah cuma-cuma dari Yang Maha Kuasa. Harusnya juga diberikan kepada orang lain tanpa meminta imbalan.
Tapi, tindakannya malah menjadi  malapetaka bagi dia malam itu. Gara-gara penyembuhan itu lantas dia dianggap sebagai penyebab penyakit. Dia dianggap tukang santet atau madiara.
“Oh brarti so dia yang ja doti-doti pa orang-orang d sini.”
Serba salah. Tak dia menyebuhkan rumah akan dibakar. Setelah dia sembuhkan tetap disalahkan. Itulah yang dikehendaki si Ten. Orang yang memang menginginkan kematian Nona.
“Tangka dia,” hasut salah satu dari mereka.
Tangan mereka menjadi lemah. Mereka pun mulai dengan yang lebih keras. Kayu lalangusang pagar dicabut dan diayunkan di punggung, leher dan kepala Nona.
“Acuaku ca rona maema lewo[4].”
Luter menempeleng. Orang banyak mulai terkumpul. Wanita tua memilih untuk menyelamatkan nyawa. Tak lagi perduli bila rumahnya dibakar. Dia pun menghilang. Tapi semakin banyak orang mengejar. Suaminya pun kini jadi sasaran. Mereka mengancam akan membunuh suaminya bila Nona tak menampakkan diri. Kini tak ada pilihan lain selain menyingkapkan diri. Dan mati demi si suami.
“Ambe saketa. Satu depa. Capat!”
Hendrik pun berlari ke belakang hutan dengan parang. Tak sampai lima menit dia sudah datang dengan sebatang kayu. Tanpa berlama-lama wanita itu dipukuli lagi di punggung. Di kaki. Di tangan. Di leher. Bertubi-tubi. Pukulan demi pukulan diterimanya. Suaminya hanya berdiri membatu tanpa berusaha mencegah orang-orang yang sudah dirasuk hantu itu.
 “Ado kita,” teriak Nona ketika rambutnya dijambak. Serasa kulit kepalanya tercerabut dari tengkorak kepalanya.
“Mom semingkir si mom. Kitorang smo bakar ni rumah.”
“Jangang kitare bakar tu rumah. Nyanda ada salah tu ruma.”
Wanita itu menghilang lagi. Langit kini gaduh dan ribut oleh suara burung. Lalu dia kelihatan di depan rumah. Berusaha mencegah rumahnya dari lalapan api. Berlarilah si Hendrik memukul punggung lehernya. Dia pun jatuh ke tanah. Bergetar. Dan kejang-kejang. Tak ada lagi erangan karena sakit. Gemeter bagai lembuh sehabis disembelih. Namun dia masih bernafas. Kedua tangannya menyilang di dada. Tiba-tiba seorang lain datang dan mencangkul payudara si wanita itu. Mungkin dia takut nenek itu bisa menghilang lagi dan akan membalas dendam. Kami anak-anak langsung menghalangi mata ketika itu terjadi. Percikan darah merembes ke pakaian mereka.
 “Nimbole bunung di kampung. Bawa jo ka Ta’be. “
Mulailah mereka menyeret si wanita itu. Dari tengah kampung menuju perkebunan Ta’be.
“Ado kita,” si wanita itu mulai lagi mengerang.
Di sungai di dekat Siow Saronsong wanita itu semakin mengerang. Mungkin karena luka-lukanya sudah terkena air.  Lantaran dia terus mengerang, mereka pun curiga dia akan hidup. Ditemukanlah sebuah lobang bekas Lolombeng. Wanita itu dilemparkan ke lobang dan ditimbuni tanah.
Besoknya Polisi datang dan memerintahkan penggalian mayat. Mayat didapati tertelungkup. Menghadap tanah. Rambutnya basah. Waktu tubuhnya dikeluarkan, punggung jenasahnya nyaris tak terlihat. Dagingnya habis terkikis sewaktu ditarik.
Tak tahan aku melihat pemandangan mengerikan itu. Aku pulang sambil berlari sekencang-kencangnya. Aku menangis sesenggukan. Kini nenek yang kerap menyapaku dengan ramah itulah telah pergi. Nenek yang diam-diam sering memberiku kue nasi jahanya kini telah berbau busuk dan dihinggapi ulat-ulat dan lalat-lalat biru. Nenek Nona yang pernah memberikan aku mainan kucu. Loyang namanya. Dia yang mengajarkanku menusukkan sebatang lidi pada loyang itu sehingga benda itu bisa diputar. Dan aku pun bisa bermain gasing. Maaf, setelah 60 tahun berlalu, aku baru sanggup menceritakan kisah ini. Mungkin sudah terlambat. Tapi biarlah. Kata kakekku, “Pengungkapan akan kebenaran tak pernah terlambat. Terlambat pun tak apa-apa, yang penting kau sudah jujur.”


[kisah yang didasarkan di sekitar akhir tahun 1950-an]
Minahasa, 14 Augustus 2014


* Karya Iswan Sual. Dikutip dari Buku Kumpulan Cerpen "Tumani" 


[1] Tak usah marah bila bertemu masalah. Lebih baik pergilah ke kebun lalu bekerja.
[2] Kepala Jaga/dusun
[3] Kepala Desa
[4] Saya sudah bilang jangan berbuat jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar