[Sebuah Cerpen]
Lagi. Ada lagi
yang telah pergi. Tiada pekan tanpa kematian. Hampir tiap hari burung kerok
berteriak-teriak histeris berombong melewati ro’ong kami. Ujangpanas seolah tak
mau berhenti. Nyaris semua warga panik. Takut bakal jadi korban selanjutnya.
Bagai menunggu waktu eksekusi di depan lobang kuburan.
“Ini nda bole
torang kasebiar! Yang mati korang bakubaku iko. Itu so cukup jadi bukti. Nenek
tua itu so musti torang kasemampos,” kata Ten dengan suara menggebu-gebu. Pagi
itu dia lupa meneguk kopi yang telah diseduh istrinya di ujung subuh. Lalat
telah berkerumun di gelasnya. Bahkan ada yang tengah asyik berenang dalam laut
hitam itu. Sampai-sampai kekenyangan, mati lalu terapung. Istrinya tak berani
menegur. Amarah Ten datang bersamaan dengan patukan sinar matahari.
“Jang asal-asal.
Sampe skarang blum ada yang lia langsung kalu dia yang beking,” kata Sual
menasehati, “Dan kalu pun dia tu orang, torang nda bole sembarang ambe
tindakan. Serahkan jo pa pemerenta.”
Sual berusaha
bicara setenang-tenang mungkin agar Ten melunak dan berhenti membentak-bentak.
Sebab lebih baik tenaga terkuras untuk kerja daripada untuk marah. Marah takkan
membuat jalan keluar datang secara sukarela. Sual ingat persis nasihat para
Tonaas dan Apo-aponya. “Raica wana torona ma’bow sa ko mesungkul eng kawenduan.
Awes tare mange an uma wo tumawoi[1],”
begitu pernah Apo Mandor Sual pernah berpesan padanya.
“Pemerintah so
stuju.”
“Sapa?”
“Om Luther.”
“Dia cuma kapala
lukar[2]. Depe
keputusan nyanda bisa torang jadikan patokan. Torang musti tunggu prenta deri
Ukung Tua[3].”
“So dia noh tu
Ukung Tua skarang!” suara Ten terus meninggi karena sedikit pun Sual tak mau
kompromi.
“Pokoknya, kita
nyanda stuju tu tindakan ini. Titik.”
Sual masuk rumah
tanpa basa-basi lagi. Dibiarkannya Ten berdiri terperangah di halaman depan
rumahnya. Ten kemudian berlalu tanpa pamit. Legitimasi dan pembenaran yang
diharapkannya datang dari seorang tetua kampung gagal diperolehnya. Nafsu
melenyapkan perempuan yang bernama Nona Tambanua itu tak akan berjalan mulus
tanpa restu seorang Tonaas atau Walian. Kekecewaan meliputinya. Dalam
perjalanan dia terus berpikir bagaimana mengenyahkan orang yang pernah
bermasalah dengannya.
Pernah terjadi
perselisihan terkait soal batas tanah. Awalnya dia coba membeli tanah itu. Tapi
setelah dinyatakan tak dijual dia ingin merampasnya. Sebetulya Ten masih
terkait keluarga dengan Nona. Hanya saja Ten ilang fam. Hitam pekat di dalam
dadanya sebenarnya bermula ketika dia tahu bahwa budel yang ibunya terima hanya
selebar sapu tangan. Ini membuat hatinya seperti diremas-remas. Dia merasa
ibunya diperlakukan tidak adil saat pembagian warisan. Tapi, mengapa Nona yang
jadi sasaran?
Ada pula kejadian
lain yang menjadi pemicu. Pernah suatu waktu Ten datang ke rumah Nona. Dia
meminta supaya diijinkan mengolah semua pohon seho di kebun Nona untuk
dijadikan gula aren. Terang, Nona tak mengijinkan. Soalnya, suaminya juga punya
profesi yang sama dan dilakukan di kebun itu juga. Ten tak terima dengan
penolakan itu. Padahal Nona berusaha menyampaikan dengan sebijak mungkin agar
Ten tak menyimpannya dalam hati.
“Bagimana? So
talalu komang ini no. Smo abis torang kalu kasebiar!”
“Ini malam torang
pigi pa dia pe ruma. Torang paksa dia mangaku kalu dia yang doti samua tu orang
ja mati di kampung ini.”
***
Sembari berjalan
berjinjit mereka berjalan mengendap-ngendap mendekati sebuah rumah
berdindingkan bambu yang ditetak itu. Salah seorang mencucukkan ujung jari ke sela-sela dinding. Celah pun melebar.
Tampak wanita tua sedang memegang sebuah kotak berwarna hitam. Wanita tua itu
berkomat-kamit.
Sejurus kemudian
Luther dan komplotannya masuk dengan paksa ke dalam rumah. Lewat jalan belakang
dengan mendobrak pintu. Sontak wanita tua itu kaget dan hendak lari
menyelamatkan diri. Wanita tua itu telah dikepung oleh sembilan orang. Mereka
berusaha menyeret wanita tua itu keluar. Namun setiap kali mereka menyentuhkan
tangan, mereka kesakitan. Luther yang lincah. Setiap kali wajah nenek tua
terangkat, ditempelengnya. Namun, tangannya ikut juga sakit. Suami wanita tua
itu lari ke tetangga untuk mencari suaka. Dia seolah pasrah dengan kebejatan
para pemuda. Istrinya ditinggal saja tanpa ada upaya mencari perlindungan.
Heran juga aku.
“E ceru na. Kita
nintau, dia kote da blajar tu babagitu,” kata suami Nona kepada tetangganya di
suatu pagi ketika berpapasan dengan orang-orang yang hendak ke kebun. Tak
sedikit pun dia mau membela istrinya. Barangkali lantaran perbedaan paham di
antara mereka berdua. Nona memang masih pada kepercayaan lama. Dia masih
berupaya keras mengekalkan tradisi leluhur. Dia yakin bahwa petuah-petuah dan
teladan-teladan para Walian dan Tonaas sudah cukup untuk membawanya ke jalan
yang benar. Sedangkan suaminya sudah tercuci otaknya oleh pandangan modern dari
Barat. Dia memang pernah sekolah untuk belajar teologi tapi tidak tamat.
Padahal itu dulu maunya sendiri. Mungkin tak tahan dengan disiplin kehidupan
asrama. Tapi ajaran bahwa agama tua adalah sesat masih disimpannya rapat. Hanya
karena Nona itu dulu seorang gadis rupawan sehingga untuk sementara dia pernah
mengesampingkan pesan-pesan guru-gurunya di sekolah teologi dulu. Lepas itu,
setelah Nona bukan lagi seorang nona, telah menjadi reyot, keyakinan warisan
sekolah teologi itu kembali lagi. Bahkan sudah lebih teguh dan keras serperti
batu.
Nona sedari dulu
punya usaha warung kecil. Orang tua mewariskan usaha itu padanya tatkalah orang
tuanya sudah sakit-sakitan. Di warung itulah seorang pemuda, yang nantinya
menjadi suaminya, melihat dia untuk pertama kalinya. Tak sampai dua minggu dia
pun dipersunting oleh lelaki yang baru pulang dari kota tersebut. Setelah
mereka kawin, mereka meneruskan usaha warung kopi itu. Lancar usahanya. Kue
cucur, nasi jaha buatan tangannya selalu laku terjual. Orang pun irih.
***
Sudah tiga hari
kesembilan pemuda ini berusaha untuk membunuh wanita ini. Tapi belum juga
kesampaian. Malam sebelumnya ada cerita bahwa Nona sempat melayang di udara
tatkala pemuda-pemuda itu hendak menyerangnya. Malam ini juga demikian. itu
Lantaran seorang lagi tengah sakit berat.
“Nenek, kalu nenek
nyanda mo kase bae tu tanta di sebela, torang smo bakar tu ruma.”
“Jangang bakar.
Tolong sayang akang kamari pa torang. Mo tinggal lagi di mana kami?”
Wanita tua itu
menampakan diri. Dan langsung menuju ke rumah tetangganya. Dia pun langsung
menyapa dan menanyakan sakitnya. Saat itu juga tetangganya itu sembuh. Seperti
Yesus menyembuhkan anak dari perajurit Romawi. Ilmu sembuh menyembuhkan secara
supernatural itu adalah warisan dari orang tuanya. Dia jarang menunjukkan
kebolehannya itu kepada khalayak. Karena dia khawatir orang-orang berbondong
datang ke rumah dan menganggapnya sebagai dukun penyembuh. Dia juga tak ingin
terjebak oleh rasa sombong dan menarik tarif karena kesembuhan itu. Dia tidak
ingin jadi dukun yang banyak menipu orang. Yang menjual kebolehan menyebuhkan.
Padahal itu adalah anugerah cuma-cuma dari Yang Maha Kuasa. Harusnya juga
diberikan kepada orang lain tanpa meminta imbalan.
Tapi, tindakannya
malah menjadi malapetaka bagi dia malam
itu. Gara-gara penyembuhan itu lantas dia dianggap sebagai penyebab penyakit.
Dia dianggap tukang santet atau madiara.
“Oh brarti so dia
yang ja doti-doti pa orang-orang d sini.”
Serba salah. Tak
dia menyebuhkan rumah akan dibakar. Setelah dia sembuhkan tetap disalahkan.
Itulah yang dikehendaki si Ten. Orang yang memang menginginkan kematian Nona.
“Tangka dia,”
hasut salah satu dari mereka.
Tangan mereka
menjadi lemah. Mereka pun mulai dengan yang lebih keras. Kayu lalangusang pagar
dicabut dan diayunkan di punggung, leher dan kepala Nona.
“Acuaku ca rona
maema lewo[4].”
Luter menempeleng.
Orang banyak mulai terkumpul. Wanita tua memilih untuk menyelamatkan nyawa. Tak
lagi perduli bila rumahnya dibakar. Dia pun menghilang. Tapi semakin banyak
orang mengejar. Suaminya pun kini jadi sasaran. Mereka mengancam akan membunuh
suaminya bila Nona tak menampakkan diri. Kini tak ada pilihan lain selain
menyingkapkan diri. Dan mati demi si suami.
“Ambe saketa. Satu
depa. Capat!”
Hendrik pun
berlari ke belakang hutan dengan parang. Tak sampai lima menit dia sudah datang
dengan sebatang kayu. Tanpa berlama-lama wanita itu dipukuli lagi di punggung.
Di kaki. Di tangan. Di leher. Bertubi-tubi. Pukulan demi pukulan diterimanya.
Suaminya hanya berdiri membatu tanpa berusaha mencegah orang-orang yang sudah
dirasuk hantu itu.
“Ado kita,” teriak Nona ketika rambutnya
dijambak. Serasa kulit kepalanya tercerabut dari tengkorak kepalanya.
“Mom semingkir si
mom. Kitorang smo bakar ni rumah.”
“Jangang kitare
bakar tu rumah. Nyanda ada salah tu ruma.”
Wanita itu
menghilang lagi. Langit kini gaduh dan ribut oleh suara burung. Lalu dia
kelihatan di depan rumah. Berusaha mencegah rumahnya dari lalapan api.
Berlarilah si Hendrik memukul punggung lehernya. Dia pun jatuh ke tanah.
Bergetar. Dan kejang-kejang. Tak ada lagi erangan karena sakit. Gemeter bagai
lembuh sehabis disembelih. Namun dia masih bernafas. Kedua tangannya menyilang
di dada. Tiba-tiba seorang lain datang dan mencangkul payudara si wanita itu.
Mungkin dia takut nenek itu bisa menghilang lagi dan akan membalas dendam. Kami
anak-anak langsung menghalangi mata ketika itu terjadi. Percikan darah merembes
ke pakaian mereka.
“Nimbole bunung di kampung. Bawa jo ka Ta’be.
“
Mulailah mereka menyeret si wanita itu. Dari tengah
kampung menuju perkebunan Ta’be.
“Ado kita,” si
wanita itu mulai lagi mengerang.
Di sungai di dekat
Siow Saronsong wanita itu semakin mengerang. Mungkin karena luka-lukanya sudah
terkena air. Lantaran dia terus
mengerang, mereka pun curiga dia akan hidup. Ditemukanlah sebuah lobang bekas
Lolombeng. Wanita itu dilemparkan ke lobang dan ditimbuni tanah.
Besoknya Polisi
datang dan memerintahkan penggalian mayat. Mayat didapati tertelungkup.
Menghadap tanah. Rambutnya basah. Waktu tubuhnya dikeluarkan, punggung
jenasahnya nyaris tak terlihat. Dagingnya habis terkikis sewaktu ditarik.
Tak tahan aku
melihat pemandangan mengerikan itu. Aku pulang sambil berlari
sekencang-kencangnya. Aku menangis sesenggukan. Kini nenek yang kerap menyapaku
dengan ramah itulah telah pergi. Nenek yang diam-diam sering memberiku kue nasi
jahanya kini telah berbau busuk dan dihinggapi ulat-ulat dan lalat-lalat biru.
Nenek Nona yang pernah memberikan aku mainan kucu. Loyang namanya. Dia yang
mengajarkanku menusukkan sebatang lidi pada loyang itu sehingga benda itu bisa
diputar. Dan aku pun bisa bermain gasing. Maaf, setelah 60 tahun berlalu, aku
baru sanggup menceritakan kisah ini. Mungkin sudah terlambat. Tapi biarlah.
Kata kakekku, “Pengungkapan akan kebenaran tak pernah terlambat. Terlambat pun
tak apa-apa, yang penting kau sudah jujur.”
[kisah yang
didasarkan di sekitar akhir tahun 1950-an]
Minahasa, 14 Augustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar